
"Hahahaa, menurut kamu?" Zarine masih berusaha menyembunyikan gelak tawanya.
Mendengar percakapan Adrian dan Zarine, entah mengapa tubuh Kinan mendadak tegang. Dia semakin erat mencengkram baju Adrian.
Rupanya, reaksi yang diberikan Kinan mampu terbaca oleh Adrian. Dia langsung bersuara untuk menghentikan tawa Zarine.
"Menurutku, hal itu tidak akan terjadi. Aku sudah memiliki kekasih sekarang. Dan, kami juga akan segera menikah," ucap Adrian.
Dan, ternyata ucapan tersebut sukses membuat Zarine menghentikan tawanya. Namun, ucapan Adrian tersebut juga sukses membuat jantung Kinan berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya.
Tentu saja hal itu bisa dirasakan oleh Adrian karena tubuh mereka menempel dengan sangat erat. Adrian mencengkram tubuh Kinan seolah tidak ingin melepaskan dan membuatnya jauh.
Zarine tamoak berdehem untuk mengurangi keterkejutannya. Setelah itu, dia kembali bersuara.
"Aku kira, kamu sudah tahu bagaimana aku, Yan," ucap Zarine sambil mengulas senyumannya. Adrian hanya mengangguk tipis sebagai reaksi dari ucapan perempuan tersebut.
"Ehm, ngomong-ngomong ada perlu apa kalian datang sendiri ke sini?" tanya Zarine setelah cukup lama mereka terdiam.
"Aku ingin mencari baju yang sesuai untuk Kinan. Tidak usah terlalu mewah, cukup sopan dan elegan untuk acara makan malam," jawab Adrian.
"Apakah harus sesuai dengan pakaian yang akan kamu kenakan, Yan?"
"Tentu. Semuanya harus sesuai. Jika bisa, aku ingin bajunya berwarna maroon." Adrian mengatakannya sambil menunduk untuk menatap wajah Kinan yang saat itu juga kebetulan sedang mendongakkan kepala.
"Baiklah. Pegawaiku bisa membantu Kinan untuk memilih baju yang sesuai," ucap Zarine sambil memanggil salah satu pegawainya.
Setelah itu, dengan sangat terpaksa Kinan mengikuti pegawai tersebut setelah Adrian mengangguk mengiyakan. Kinan berjalan mengikuti pegawai tersebut yang sedang menjelaskan beberapa jenis gaun. Sesekali netranya melirik ke arah Adrian dan Zarine yang masih berdiri di tempat yang sama.
Adrian bukannya tidak menyadari tindakan Kinan, hanya saja dia harus bersikap biasa saja.
Adrian tersenyum sambil menggelengkan kepala. Dia sudah bisa menebak maksud Zarine. Oleh karena itu, dia menolak tawaran tersebut. Adrian hanya berusaha untuk bersikap sopan kepada perempuan tersebut.
"Kamu tahu persis ukuran baju dan celanaku, Rin. Berikan saja celana dan baju berwarna maroon seperti yang sudah dipesan oleh Jeno," jawab Adrian dengan santainya.
Zarine terdengar menghembuskan napas kesal. Tatapan matanya masih menatap tajam ke arah Adrian. Dia terlihat tidak terima dengan ucapan Adrian.
"Kenapa sih, Yan? Apa benar-benar sudah tidak ada kesempatan untukku?" tanya Zarine.
Adrian mengulas senyuman tipisnya dan menggelengkan kepala dengan pelan.
"Kamu tahu persis alasannya, Rin. Tidak perlu kita bahas secara detail disini. Cukup kita berteman seperti ini, dan kita bisa saling berhubungan dengan baik." Kali ini, tidak ada seringaian dari bibir Adrian. Bahkan, dari nada suaranya saja sudah terasa jika Adrian tidak ingin berhubungan dengan Zarine lebih dari hubungan pertemanan.
Zarine hanya bisa mendesahkan napas beratnya sebelum berlalu untuk mengambilkan pesanan Adrian. Adrian memilih untuk menunggu Kinan di dekat sebuah manekin. Dia membuka ponselnya untuk membalas pesan mamanya. Adrian mengatakan mereka akan tiba sekitar satu jam kemudian.
Setelah selesai membalas pesan, Adrian memasukkan ponsel tersebut ke dalam sakunya. Saat itu berbarengan dengan Zarine yang sudah kembali ke depan Adrian sambil membawa dua paper bag yang berisi baju dan celana pesanan Adrian.
"Terima kasih," ucap Adrian saat menerima paper bag tersebut.
Saat itu, Zarine hendak menyentuh bahu Adrian ketika sebuah suara menginterupsi keduanya.
"Mas?"
\=\=\=
Hayo, dijawab bagaimana itu?
Jangan lupa kasih like, dan komen yang banyak ya.