
Vanya mengangguk mengerti. Itu mungkin yang menjadi alasan bagi Kenzo untuk mempertahankan perusahaan yang telah dibangunnya dengan susah payah.
"Lalu, apa Celina tahu tentang keberhasilan mas Ken sekarang?" Tanya Vanya.
"Dia…" Reyhan tidak melanjutkan perkataannya.
"Dia apa?" Tanya Vanya tidak sabar mendengar perkataan Reyhan. "Kamu mau menyembunyikan sesuatu dariku ya Rey. Jangan buat aku jadi penasaran ih," Lanjut Vanya sambil mencebikkan bibirnya.
Reyhan menoleh menatap Vanya sambil menggeleng pelan. "Tidak nona. Saya tidak berani," jawab Reyhan. "Sebenarnya, satu tahun yang lalu tuan Ken bertemu dengan Celina. Namun, saat itu dia tidak tahu jika tuan Ken sudah menjadi pengusaha sukses di negeri ini. Nona Vanya tahu kan jika tuan Ken mendirikan perusahaannya sendiri lepas dari Abram Corp. Dan, tuan Ken juga tidak pernah mau muncul di depan publik," lanjut Reyhan.
"Jadi, Celina masih tidak tahu jika Ken sebenarnya adalah putra pemilik Abram Corp?" Tanya Vanya meyakinkan.
"Benar nona. Dilihat dari sikapnya, dia masih tidak tahu akan hal itu,"
"Lalu, apa mas Ken masih mengharapkannya?" Tanya Vanya lirih namun, masih dapat didengar oleh Reyhan.
Reyhan tersenyum melihat wajah Vanya yang sedikit ditekuk. "Nona Vanya tenang saja. Setahu saya, tuan Kenzo sudah tidak mengharapkan Celina lagi. Bahkan, tuan Ken terlihat risih saat bertemu dengan Celina saat itu," jawab Reyhan.
Vanya terlihat sedikit lebih lega mendengar jawaban Reyhan. Sementara Reyhan yang melihat sedikit senyum pada bibir Vanya juga merasa senang. Reyhan membelokkan kendaraannya menuju kos-kosan Vanya. Beberapa menit kemudian, mobil Reyhan sudah berhenti di depan kos-kosan Vanya. Vanya segera berpamitan dan keluar dari mobil Reyhan.
Sesampainya di dalam kos-kosan, Vanya segera membersihkan diri. Setelahnya, dia melihat makanan di lemari pendingin hendak memasak untuk makan malamnya. Ketika hendak mengambil mie instant, tiba-tiba ponselnya berdering. Vanya mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelepon. Setelah mengetahui id penelepon, Vanya segera menggeser ikon berwarna hijau tersebut.
“Iya Mas,” tanya Vanya setelah panggilan terhubung.
“Dimana?, sudah pulang?” tanya si penelepon.
“Iya, ini sudah di kosan. Ada apa Mas?" Tanya Vanya. Ya, Kenzo lah yang tengah meneleponnya saat ini.
"Jangan kemana-mana," jawab Kenzo. "Setelah urusanku selesai, aku akan ke tempatmu," lanjutnya lagi.
"Memangnya mau apa kesini?"
"Ada sesuatu yang mau aku omongin," Jawab Kenzo.
Karena sudah sangat lelah, Vanya pun mengiyakan. Dia segera menutup teleponnya begitu Kenzo selesai berbicara.
Selanjutnya, Vanya segera mengambil mie instant dan sayuran beserta sosis untuk membuat makan malamnya.
Sekitar lima belas menit kemudian, makan malamnya sudah siap. Dia segera memindahkannya ke mangkuk dan membawanya menuju meja kecil yang berada di dekat pintu. Sambil menunggu dingin, dia berniat untuk menghubungi mbak Erika, pemilik eSTe tempat dia bekerja part time guna meminta izin. Vanya beralasan akan pergi ke rumah saudaranya. Dia berencana akan memberitahukan pernikahannya kepada para sahabatnya nanti setelah acara.
Setelah selesai menghubungi mbak Erika, Vanya hendak meletakkan ponselnya di atas nakas seketika berbunyi. Vanya segera menghubungkan panggilan tersebut ketika mengetahui id penelepon.
"Iya Mas?" Kata Vanya begitu panggilan terhubung.
"Ini sudah selesai. Aku akan langsung ke tempatmu. Mau nitip makan malam?" Tanya Kenzo.
"Tidak usah Mas, ini aku sudah buat mie instant," jawab Vanya.
"Kalau begitu buatkan aku juga. Sekitar dua puluh menit lagi aku sampai," kata Kenzo sambil menutup teleponnya.
Vanya menggerutu dengan kesal. Meskipun begitu, dia tetap beranjak untuk membuatkan mie untuk Kenzo.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Kira-kira mau ngomong apa ya,
Akan up lagi nanti ya
Mohon dukungannya, loke, comment, dan vote 🤗🤗🤗
terima kasih