The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 65



Hati itu, Rean yang sudah tiba di Jakarta sejak pukul sepuluh pagi. Dia langsung bergegas menuju apartemen sang istri setelah dari bandara. Dia ingin memberikan kejutan untuk Dena jika dia sudah kembali ke Jakarta.


Rean tak berhenti mengulas senyumannya saat dalam perjalanan menuju apartemen sang istri. Dia menumpangi sebuah taksi dari bandara. Namun, saat tengah sedang mengamati ponselnya, Rean teringat sesuatu.


"Kami kan sudah lama tidak berada di apartemen, pasti tidak akan ada makanan segar yang ada di sana. Semua sayur pasti juga sudah tidak baik dimakan. Apa aku belanja dulu, ya?" Gumam Rean.


Dia berpikir sebentar sebelum memberikan instruksi kepada sopir taksi untuk berhenti di supermarket terlebih dahulu. Begitu sampai di supermarket, Rean langsung memulai untuk berbelanja. Dia membeli bahan makanan yang mudah di olahnya. Sebenarnya, Rean tidak begitu bisa memasak masakan yang rumit. Namun, jika hanya masakan sederhana, dia bisa melakukannya.


Hari itu, Rean membeli, daging ayam, telur, beberapa sayuran, sosis, dan beberapa buah-buahan. Tak lupa juga bumbu-bumbu masakan instan sudah dipilihnya. Tak mungkin Rean membeli bumbu-bumbu yang masih mentah, dia tidak akan mengerti apa itu bedanya lengkuas, jahe dan kunyit.


Setelah dirasa cukup, Rean segera membawa barang belanjaannya menuju kasir. Cukup lama dia mengantri di kasir, hingga tibalah gilirannya.


Rean langsung bergegas menuju taksi yang sudah menunggunya. Setelah itu, taksi tersebut langsung meluncur menuju apartemen Dena.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, Rean sudah tiba di apartemen. Dengan membawa barang belanjaan di tangan kanan dan kiri, Rean langsung berjalan menuju apartemen Dena. 


Rean berjalan memasuki apartemen yang baru satu hari ditempatinya tersebut, dengan senyuman yang seolah tidak akan luntur. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh isi apartemen. Rupanya, sang istri meminta pihak pengelola apartemen untuk tetap membersihkan apartemen tersebut meskipun ditinggal.


Rean beruntung karena dia tidak harus bersusah payah untuk membersihkan apartemen tersebut. 


Rean segera meletakkan belanjaannya dan bergegas menuju kamar untuk membersihkan diri. Berhubung dia masih menempati kamar lamanya, Rean segera beranjak kesana. Rean hanya bisa berharap, setelah ini mereka akan bisa semakin dekat.


Ketika sedang mencuci daging ayam, terdengar suara bel dari pintu depan. Rean mengernyitkan keningnya bingung.


"Siapa kira-kira yang datang? Apa Dena sudah pulang? Kalaupun sudah pulang, dia kan bisa langsung masuk." Rean masih bergumam di dapur.


Meskipun begitu, Rean segera mencuci tangannya dan beranjak menuju pintu. Ceklek. Pintu terbuka. Rean melihat ada tiga orang di depan pintu apartemennya. Mereka adalah seorang nenek-nenek, seorang wanita yang mungkin seusia mama Revina, dan yang berdiri di belakang dua wanita tersebut adalah seorang laki-laki.


"Ehm, maaf? Kalian siapa ya?" Rean merasa belum mengenal mereka bertiga. Saat itu, dia berpikir jika para tamu tersebut adalah kenalan Dena.


"Oh, jadi ini laki-laki yang dibayar Hendra untuk menikahi Dena, cucuku?"


"Eh?" Rean cukup terkejut saat mendengar perkataan nenek-nenek yang ada di depannya tersebut.


"Cucu? Maksudnya, Anda ini nenek Dena?"


Wanita tua tersebut berdecih kesal. Dia masih menatap tajam ke arah Rean.


"Jangan terlalu berharap dengan pernikahan ini. Jika kamu tidak ingin menyesal, segera ceraikan Dena."


"Eh?"