The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Part M2.48



Dua hari menjelang hari raya idul fitri, Revina mengantar mama Fida ziarah ke makam. Hari itu, mereka juga akan mampir ke rumah kakek dan nenek Revina, orang tua mama Fida, setelah dari makam tersebut.


"Ma, nanti mampir ke minimarket sebentar ya. Aku mau beli ice cream untuk buka puasa nanti." Kata Revina dari balik kemudi. Ya, saat ini Revina dan mama Fida tengah berada di dalam mobil untuk menuju rumah kakek dan nenek.


"Iya. Tapi ingat, jangan banyak-banyak. Radang tenggorokan kamu bisa kambuh nanti."


"Iya."


Tak berapa lama kemudian, mobil yang dikemudikan oleh Revina sudah berbelok ke arah minimarket yang berada tak jauh dari rumah kakek. Revina segera memarkirkan mobilnya di depan minimarket tersebut. Setelahnya, mereka segera keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu minimarket tersebut.


Saat hendak mencapai teras minimarket tersebut, Revina dikejutkan oleh beberapa orang yang juga baru keluar dari minimarket tersebut. 


"Lho, ini nak Revi kan, calon istri Bian?" Kata bu Halimah. 


Ya, saat itu Revina bertemu dengan bu Halimah, Juna dan juga Nova. Mereka terlihat sehabis belanja dari minimarket tersebut. Hal itu terlihat dari banyaknya kantong belanjaan yang mereka bawa.


Seketika Revina gelagapan mendengar perkataan bu Halimah. Bagaimana tidak, saat itu sang mama tengah berada di sampingnya dan menatap tajam ke arahnya untuk meminta penjelasan. Revina hanya bisa mengulum senyum tipisnya sambil menelan salivanya dengan keras.


"Eh, bu Halimah apa kabar?" Sapa Revina sambil mengulurkan tangannya. Bu Halimah segera menyambut uluran tangan Revina. 


Revina hendak menyapa Nova yang berdiri tak jauh dari bu Halimah dengan tatapan tajamnya. Revina bergidik ngeri mendapati tatapan tajam dari perempuan tersebut. Dia mengurungkan niatnya untuk menyapa Nova. Sebagai gantinya, Revina menyapa Juna yang berada di samping bu Halimah.


"Baik, Nak." Jawab bu Halimah. Bu Halimah menggeser tatapannya kepada mama Fida yang tengah berdiri di samping Revina. "Siapa ini, Nak?" Tanya bu Halimah.


"Oh, ini mama saya, Bu. Ma, kenalkan ini bu Halimah." Kata Revina saling memperkenalkan bu Halimah dan mama Fida.


Mama Fida dan bu Halimah saling berjabat tangan dan memperkenalkan diri.


"Kemarin Bian sempat mampir ke rumah. Katanya, lebaran nanti akan memperkenalkan kamu kepada kakek dan neneknya. Aku juga sudah menelepon mereka dan memberitahu jika Bian sudah memiliki calon istri." Kata bu Halimah.


Duuaaaarrrrrr.


Bagai disambar petir di siang bolong, pas puasa, pas lagi haus-hausnya, pas lagi panas-panasnya dan pas lagi sayang-sayangnya, eh. 


Jantung Revina seperti hendak keluar dari tempatnya. Bagaimana tidak, perkataan bu Halimah tersebut terdengar seperti petasan yang sudah di sulut sumbunya dan hanya tinggal menunggu ledakannya. Revina menoleh menatap wajah sang mama. Terlihat sangat jelas sekali jika mamanya tersebut sangat penasaran. Mama Fida tengah menatap tajam ke arah Revina untuk meminta penjelasan.


"Ehm, i-itu…." Belum sempat Revina menyelesaikan perkataannya, terdengar suara memanggilnya dari kejauhan.


"Rev."


Seketika Revina dan semua orang yang ada di tempat tersebut menoleh ke arah sumber suara. Betapa terkejutnya Revina saat itu, dia melihat Bian berjalan ke arah mereka. 


Haduuhh, bagaimana aku akan menjelaskan semua ini. Batin Revina. Dia bahkan tidak berani menatap wajah Bian yang mendekat ke arahnya.


"Halo Tante, selamat siang." Sapa Bian kepada mama Fida. Tak lupa juga dia mengulurkan tangan kepada mama Fida.


"Kebetulan bertemu disini, mau belanja?" Tanya Bian. Tampak sekali dia juga tengah gugup.


"Ah, iya. Ini, calon istri kamu mau membeli ice cream. Katanya mau makan ice cream saat buka puasa." Jawab mama Fida. 


Glek


Glek


Glek


Baik Bian dan Revina tampak terkejut. Mereka langsung menatap mama Fida dengan tatapan khawatirnya. Apalagi Fida, dia sangat khawatir dengan anggapan sang mama.


"Ehm, i-iya." Kata Bian gugup.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya mama Fida.


"Ehm, saya mau menjemput bu Halimah dan keponakan saya, Tante." Jawab Bian.


"Oh begitu." Jawab mama Fida sambil mengangguk-anggukkan kepalanya dan mengulas senyumannya.


"Ehm, baiklah kalau begitu kami permisi dulu Tante." Kata Bian.


"Silahkan."


Setelah itu, mereka semua berpamitan kepada Revina dan mama Fida. Namun, saat Bian hendak berjalan menuju mobilnya, mama Fida menghentikan langkahnya.


"Nak Bian, jangan lupa nanti Om dan Tante tunggu untuk buka puasa di rumah, ya." Kata mama Fida.


Glek.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Apa yang akan terjadi dengan Bian nanti?