The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 32



Setelah semua belanjaan masuk ke dalam mobil, Cello langsung menyalakan kendaraannya dan mengemudikannya menuju rumah. Hari itu, dia benar-benar merasakan menjadi daddy El. Pasalnya, daddy El sering mengeluh jika mengikuti belanja mommy Fara. Karena tidak mau jika mommy Fara ngambek, akhirnya daddy El selalu menuruti keinginannya.


Malam itu, daddy El sudah bergabung dengan semua anggota keluarganya di ruang tengah setelah makan malam. Cello fan Shanum juga sudah berada di sana. Mereka mengobrol ringan sambil menonton televisi.


Saat tengah asyik mengobrol, terdengar suara ponsel Shanum yang diletakkan di meja makan. Shanum segera beranjak untuk mengambil ponselnya yang berada di meja makan tersebut. Dia segera menyambungkan telepon yang ternyata berasal dari mama Revina.


"Hallo, Ma." Sapa Shanum setelah panggilan telepon tersebut tersambung.


"Hallo, Sayang. Bagaimana kabar kamu?" 


"Baik, Ma. Mama, Papa dan Rean bagaimana?"


"Alhamdulillah kami baik. Bulan depan Mama dan Papa akan ke Jakarta lagi untuk mengurus surat kepindahan papa kamu."


"Eh, nggak jadi tahun depan, Ma?"


"Nggak jadi, Sayang. Pak Kaero meminta papa kamu segera pindah ke Jakarta. Perusahaan membutuhkan bantuan selama pak Kaero pergi ke Jepang."


"Eh, kenapa harus ke Jepang, Ma?"


"Perusahaan disana mau membuka cabang. Orang tua pak Kaero kesulitan menghandle semuanya sendiri. Jadi, mereka meminta pak Kaero ke sana."


Shanum mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Shanum menggeser duduknya hingga kini menghadap ke arah keluarga suaminya yang berada di ruang tengah.


"Sayang, boleh Mama bertanya sesuatu?" Tanya mama Revina diseberang sana.


"Iya, Ma."


"Ehm, apa kalian sudah melakukan hubungan suami istri?"


Seketika Shanum merasakan panas pada kedua pipinya. Entah mengapa sang mama harus menanyakan hal itu kepadanya.


"Ehm, i-itu, seb-sebenarnya kami …," Shanum tidak melanjutkan perkataannya. Namun, mama Revina sudah bisa menebak jawaban sang putri.


Shanum masih terdiam sambil mendengarkan perkataan sang mama. Entah mengapa dia masih merasakan ada sesuatu yang mengganjal di dadanya.


"Apa kamu masih takut, Sayang?" Tanya mama Revina di seberang sana.


"Ehm, a-aku,..."


"Shanum sayang, kita tidak akan pernah bisa mengubah masa lalu. Yang bisa kita lakukan adalah berusaha untuk menyiapkan masa depan yang lebih baik dari masa lalu. Anggap saja masa lalu adalah bayangan dari spion kendaraan. Kita tidak melihatnya terus menerus saat sedang menyetir. Hanya sesekali kita melihatnya agar tetap berhati-hati."


"Dengarkan Mama, cobalah bicarakan apa yang kamu rasakan kepada Cello. Berusahalah untuk terbuka. Mama yakin, Cello adalah laki-laki yang terbuka juga. Mama tahu hal itu dari mertua kamu. Kamu mau melakukannya, kan?" Tanya mama Revina.


Shanum berusaha untuk meyakinkan hatinya. Ya, apa yang dikatakan oleh mama Revina memang ada benarnya. Dia memang harus mencobanya.


"Iya, Ma. Aku akan berusaha untuk membicarakannya."


"Bagus, itu baru anak Mama." 


Setelah beberapa saat kemudian, panggilan telepon tersebut berakhir. Shanum sempat melihat beberapa pesan di grup perpesanannya. Hingga beberapa saat kemudian, Shanum tidak menyadari keberadaan Cello di depannya.


"Mama yang telepon?" Tanya Cello yang sudah berada di depan Shanum.


Seketika Shanum langsung mendongakkan kepalanya. Dia cukup terkejut dengan kedatangan Cello yang tiba-tiba.


"Eh, iya Mas."


Cello hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Setelahnya, dia beranjak untuk menuju kamarnya.


"Aku ke kamar dulu. Jika sudah selesai, segeralah beristirahat." Kata Cello sambil beranjak menuju kamarnya.


Shanum segera keluar dari aplikasi perpesanan tersebut. Setelahnya, dia buru-buru untuk menyusul Cello yang sedang berjalan hendak menuju kamarnya.


Jangan lupa klik like, vote dan komen.