The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 142



"Dia adalah Angie," kata om Bernard sambil mengulas senyumannya.


Cello yang mengingat nama tersebut langsung tersenyum bahagia. Ya, Angie adalah mantan istri Danuarta, seorang dosen yang mengajar di kampusnya dulu. Mengingat nama Angie, membuat Cello sedikit mengingat kejadian sekitar satu tahun yang lalu saat awal-awal kehamilan sang istri.


Setelah mengobrol sebentar, akhirnya Cello dan Alicia segera menuju kantor administrasi tersebut. Sementara om Bernard, dia menunggu Alicia di kantin yang memang disediakan di bagian kanan gedung tersebut.


Om Bernard memang datang ke Kanada untuk menjemput keponakannya tersebut. Om Bernard benar-benar menyayangi Alicia seperti anaknya sendiri. 


Dulu, om Bernard juga yang mengantar Alicia ke Kanada. Dia yang menggantikan posisi Alicia sebagai sosok ayah untuknya. Ayah Alicia sudah meninggal sejak usianya enam tahun. Sejak saat itu, Alicia hanya tinggal berdua dengan sang ibu di Australia, sementara dirinya harus berpindah-pindah tempat tinggal karena orang tua.


Sekitar dua jam kemudian, Cello beserta keempat rekannya sudah menyelesaikan agenda mereka hari itu. Cello dan Alicia langsung berjalan menuju tempat parkir dimana om Bernard sudah menunggu tak jauh dari tempat mobilnya terparkir.


"Kalian mau kemana? Jika tidak keberatan, silahkan mampir ke rumahku, Om," kata Cello menawarkan kunjungan kepada om Bernard.


"Terima kasih undangannya, Cell. Kebetulan beberapa hari ini Om sedikit sibuk. Selain menjemput Alice, Om juga ada kerjaan di sini."


"Oh, begitu. Tidak apa-apa, Om."


"Kalian kapan kembali ke Indonesia?" tanya om Bernard. Dia sudah tahu dari Alicia jika Cello tinggal di Kanada bersama dengan istri dan kedua putranya.


"Minggu depan, Om. Setelah kegiatanku selesai, kami langsung kembali ke Indonesia."


"Yakin nggak mau jalan-jalan dulu?" goda om Bernard.


"Hahahaha, sebenarnya aku sih mau-mau saja, Om. Tapi kami sudah punya dua buntut sekarang. Dan, usia mereka juga masih sangat kecil. Lebih baik menunggu mereka sedikit lebih besar saja, Om."


Cello segera melajukan kendaraannya menuju rumah. Hari itu, dia tidak mendapat titipan dari Shanum untuk berbelanja. Biasanya, Shanum memang meminta Cello mampir ke minimarket untuk belanja bahan-bahan yang memang mudah dibeli, seperti; popok twins, susu, dan beberapa makanan instan. Namun, untuk kebutuhan dapur lainnya, Shanum akan pergi sendiri dengan Cello saat weekend.


Cello terlihat sudah memarkirkan kendaraannya di garasi rumahnya. Terlihat Dryn sedang bermain dengan baby sitternya di teras depan. Bayi tersebut langsung merentangkan kedua tangannya minta digendong oleh sang daddy.


"Wuuaahh, anak Daddy sedang main ya. Nanti dulu ya gendongnya, Daddy masih kotor, penuh kuman. Jika mommy kamu tahu, taringnya bisa keluar nanti," kata Cello sambil memasang wajah jenaka di depan sang putra.


"Apa maksudnya taringku keluar, Mas? Memangnya aku punya taring?!"


Seketika Cello langsung menegakkan tubuhnya dan berbalik menatap wajah sang istri yang terlihat kesal. 


"Eh, maksudnya bu-bukan begitu, Yang. Aku hanya bercanda tadi," kata Cello buru-buru berjalan mendekat ke arah Shanum dan memeluknya dengan erat. Jangan lupakan kecupan-kecupan kecil sudah mendarat pada wajah Shanum.


"Jauh-jauh sana, ih. Kamu masih banyak kumannya, Mas. Cepat mandi sana!"


"Mandiin," rengek Cello.


"Hhuueekk, geli aku Mas, geli." Jawab Shanum sambil beranjak menggendong sang putra untuk di tidurkan.


Sang baby sitter hanya tertawa geli melihat tingkah kedua orang tua muda tersebut.


Tak terasa hari yang ditunggu sudah tiba. Hari ini adalah hari kepulangan Cello dan keluarganya ke Indonesia. Rasa bahagia dan rindu keluarga berkumpul jadi satu. Mommy Fara bahkan memaksa sang suami untuk menjemput kedatangan putra dan cucunya tersebut ke bandara.


Cello dan keluarganya berhasil mendarat dengan selamat malam itu. Mommy Fara benar-benar sangat bahagia melihat kedatangan putra, menantu dan tentu saja kedua cucunya.