
Hari ini adalah hari pertama Cello dan Shanum kembali ke kampus setelah mengambil cuti. Kapan Cello bekerja? Dia akan bekerja di saat jadwal kuliahnya off. Beruntung dia adalah putra daddy El. Jadi, Cello bisa menyesuaikan jadwal kerjanya dengan jadwal kuliah.
"Mom, aku sudah memberi tanggal dan sudah mengurutkan asi untuk twins. Jadi, nanti mommy dan Mbak Siti bisa langsung memeriksanya dengan mudah," kata Shanum sambil merapikan jadwal kuliahnya.
"Iya, Sayang. Kamu nggak usah mengkhawatirkan twins. Mommy dan Mbak Siti pasti bisa menghandle mereka. Kamu fokus pada kuliah kamu saja, ya."
"Iya, Mom. Tapi aku juga masih harus beradaptasi lagi. Sekarang kan pertama kali aku meninggalkan mereka agak lama. Apalagi, jadwal kuliahku hari ini ada tiga mata kuliah," jawab Shanum sambil menghembuskan napas beratnya.
"Nggak apa-apa, Sayang. Selama kamu masih bisa, jangan pernah berhenti untuk belajar. Kami tentu saja pasti akan mendukung kamu. Jangankan selesai S1, jika kamu mau lanjut kuliah pun kami pasti akan mendukungmu." Kata mommy Fara sambil mengusap bahu sang menantu.
Shanum langsung mengangguk mengiyakan. Dia menghambur untuk memeluk tubuh mommy Fara dan mendekatnya dengan erat.
"Terima kasih, Mom. Terima kasih telah menerimaku dengan baik dan menganggapku seperti anak Mommy dan Daddy sendiri. Aku merasa sangat beruntung memiliki kalian semua."
"Sama-sama, Sayang. Mommy yang seharusnya berterima kasih kepadamu. Berkat kamu, Mommy dan Daddy jadi punya dua orang cucu kembar yang gemoynya ngalah-ngalahin Cello. Hehehe," ucap mommy Fara sambil masih memeluk tubuh Shanum.
Seketika Shanum melepaskan pelukannya dan mendongakkan kepalanya menatap wajah sang mommy.
"Memangnya mas Cello itu gemoy, Mom?"
Mommy Fara langsung terkekeh geli setelah mendengar pertanyaan Shanum.
"Dulu sih Cello memang gemoy banget. Imut-imut gitu deh. Tapi sekarang, dia semakin mirip seperti daddynya, jadi amit-amit."
Sontak saja kedua wanita tersebut langsung tertawa dengan lelucon mereka barusan. Namun, tawa mereka langsung terhenti saat daddy El terlihat memasuki kamar Shanum dengan menggendong Dryn yang sedang menangis dengan keras.
"Amit-amit bagaimana maksudnya itu?!" tanya daddy El sambil memberikan Dryn kepada Shanum.
Shanum yang melihat hal itu langsung mengambil Dryn dari gendongan daddy El. Dia segera menyusui sang putra untuk menenangkannya. Sementara mommy Fara langsung menarik lengan daddy El dan membujuknya agar tidak marah.
Shanum segera memarkirkan mobilnya begitu memasuki area parkir mahasiswa di kampusnya. Setelahnya, dia segera berjalan menuju kelas barunya. Shanum harus mengikuti perkuliahan dengan adik-adik tingkatnya saat itu.
Shanum tidak bertemu dengan sahabat-sahabatnya, karena mereka ada kuliah di jam kedua. Dia segera memeriksa jadwal kuliah yang ada di ponsel dan memastikan dirinya tidak salah masuk kelas.
"Benar di lantai dua. Masih ada waktu lima belas menit lagi sebelum perkuliahan dimulai," gumam Shanum sambil memasukkan ponselnya.
Shanum harus mengikuti beberapa mata kuliah bersama dengan mahasiswa satu tingkat di bawahnya. Dia benar-benar belum mengenal siapapun di kelas tersebut. Beruntung Shanum memiliki wajah yang masih terlihat seperti anak SMA. Sehingga, dia tidak merasa terlalu tua di dalam kelas tersebut.
Setelah memasuki ruang kelas, Shanum memilih posisi duduk di bagian sebelah barat. Dia merasa akan lebih mudah untuk berkenalan dengan adik tingkatnya nanti.
Saat masih fokus pada ponselnya, tiba-tiba ada seseorang yang menggeser kursi tepat di sampingnya. Shanum segera menolehkan kepalanya ke arah mahasiswa tersebut.
"Nggak keberatan kan kalau gue duduk di sini?" Sapa sebuah suara laki-laki.
"Eh, enggak Kok. Silahkan," jawab Shanum sambil kembali menatap layar ponselnya.
"Gue Davian, lo?" Kata laki-laki tersebut sambil mengulurkan tangannya.
"Eh, Shanum."
Davian masih memperhatikan wajah Shanum meskipun dia sudah melepaskan tautan tangan mereka. Shanum yang menyadari hal itu kembali menoleh.
"Ada apa?" tanya Shanum bingung.
"Nggak apa-apa."