The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 86



Hingga suara Dena, sudah tidak dapat ditahan lagi.


"Ma-maassss…," suara Dena merintih. Rean langsung tersadar. Dia mendongakkan kepala dan menatap ekspresi sang istri yang sedang mupeng. Rean sendiri juga yakin jika dirinya juga sama mupengnya dengan Dena.


Namun, Rean cukup sadar jika saat itu dia tidak akan bisa melanjutkan cicilannya lagi. Rean tidak sampai hati melakukannya kepada Dena. Rean menjauhkan tubuhnya dari tubuh sang istri.


Dena yang masih terengah-engah, langsung membuka kedua matanya saat mendapati perlakuan Rean terhenti. Tatapan matanya menyiratkan kebingungan. 


Dari tatapan mata itu, Rean bisa melihat jika Dena sama sekali tidak keberatan walaupun harus berlanjut. Namun, lagi-lagi Rean tidak akan tega melakukannya. Menurut Rean, momen tersebut adalah momen berharga yang akan dikenang mereka seumur hidup. Jika Rean memaksa melanjutkan, dia pasti akan memberikan kesan tidak berarti kepada Dena. Dan, Rean sama sekali tidak ingin hal itu terjadi.


Dena masih menatap Rean dengan tatapan bingungnya. Dia tidak mengerti mengapa Rean mendadak menghentikan aktivitasnya. Seketika perasaan takut dan khawatir melandanya. Dena khawatir jika Rean kecewa terhadapnya.


"Ma-mass?"


Ternyata, ekspresi khawatir Dena dapat terbaca oleh Rean. Rean sudah menebak jika sang istri langsung insecure. Selama hampir satu bulan ini mereka terlihat dekat, Rean sedikit banyak bisa mengetahui sifat dan karakter sang istri.


"Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Maafkan aku telah kelepasan tadi," Rean mendekatkan kembali wajahnya pada wajah Dena dan memberikan ciuman pada pipi kiri Dena. "Jangan berpikir aku tidak tertarik melanjutkannya. Ini buktinya jika aku benar-benar sangat tergoda." Rean meraih tangan Dena yang sehat dan membawanya pada Rj alias Rean junior yang sudah meronta-ronta ingin dibebaskan dari sangkar.


Mendapati ulah Rean, seketika Dena langsung membulatkan kedua bola mata dan mulutnya. Dia benar-benar tidak menyangka jika Rean akan senekat itu melakukan hal yang bisa saja juga membuatnya khilaf.


Ingin rasanya Dena mengumpat Rean. Namun, belum sempat Dena membuka mulutnya untuk bersuara, Rean sudah kembali membungkam bibir Dena dengan bibirnya. Rean juga tidak memindahkan tangan Dena dari bagian bawah tubuhnya. Bahkan, dengan beraninya Rean bergerak-gerak sehingga membuat Dena bisa merasakan 'pasak' alami Rean yang sudah mengembang bak terkena fermipan.


Setelah cukup puas menggoda sang istri, Rean langsung menghentikan aktivitasnya dan langsung beranjak berdiri. Napas mereka sama-sama memburu. Rean sempat mengusap titik keringat yang muncul pada kening sang istri dan meninggalkan sebuah kecupan di sana sebelum dia beranjak berdiri.


"Sudah cukup cicilannya. Sekarang, biarkan aku melunasinya sendiri. Istirahatlah." Rean mengerling ke arah Dena sebelum beranjak menuju kamar mandi untuk melunasi cicilannya.


"Sepertinya, cicilanku tidak akan pernah habis setelah ini," gumam Dena.


Malam itu, Dena terlelap lebih cepat. Bahkan, dia bisa langsung tertidur sebelum Rean selesai dengan aktivitasnya di dalam kamar mandi.


Rean yang melihat sang istri sudah terlelap pun, tidak berani mengganggunya. Dia juga langsung beringsut naik ke atas tempat tidur setelah menyelesaikan aktivitasnya.


***


Keesokan pagi, Rean sudah bersiap di dapur. Dena juga sudah duduk di kursi yang ada di depan mini bar untuk membantu Rean memasak. Namun, kali ini Dena hanya memberikan instruksi. Sementara Rean kebagian untuk mengeksekusinya.


Ketika tengah berkutat di dapur, terdengar suara bel dari arah depan. Rean segera bergegas untuk membuka pintu.


Ceklek.


"Pagi, Rean."


"Lho, Miss Kinan?"


\=\=\=


Jika masih punya jatah vote, kasih vote buat Rean juga ya, 🤗