The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 115



Rean segera memindahkan barang bawaannya dan mengulurkan tangan kanannya kepada om Hendra.


"Perkenalkan, saya Rean, Om. Apa kabar?" kata Rean.


"Baik, Re. Senang akhirnya bisa bertemu dengan kamu," kata om Hendra sambil mengulas senyumannya.


Kening Rean berkerut setelah mendengarkan perkataan om Hendra. Namun, dia tetap tersenyum sebagai bentuk penghormatannya kepada om Hendra.


Setelahnya, kini giliran om Hendra memperkenalkan putrinya kepada papa Bian.


"Mayang, kenalkan ini om Bian. Beliau yang sering papi bicarakan denganmu. Dan ini, adalah Rean putranya." Kata om Hendra memperkenalkan miss Dena kepada papa Bian.


Miss Dena segera mengulurkan tangan kanannya untuk menjabat tangan papa Bian.


"Kenalkan, saya Mayang, Om."


"Bian."


Sontak kedua bola mata Rean membulat setelah mendengar perkataan sang dosen.


"Jadi, jika di luar kampus, Anda dipanggil dengan sebutan Mayang, Miss?!" Kata Rean dengan hebohnya.


Miss Dena hanya melirik Rean sekilas sambil mengerucutkan bibirnya. Dia sama sekali enggan merespon perkataan Rean. Namun, reaksi berbeda justru ditampilkan oleh om Hendra, papi miss Dena.


"Lho, Rean sudah kenal putri Om?" Tanya om Hendra penasaran.


"Tentu saja kenal, Om. Bukan hanya kenal, miss Dena ini adalah salah satu pengajar di kelas saya Om, sekaligus pengisi hati saya, hehehe." Kata Rean sambil tersenyum nyengir.


Sontak saja perkataan Rean berhasil membuat ketiga orang yang berada di sana membulatkan kedua bola matanya. Mereka benar-benar terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Rean.


Om Hendra dan papa Bian saling pandang dan kemudian langsung tertawa bersama. Sementara miss Dena hanya bisa mendengus kesal dengan wajah sedikit merona karena guyonan Rean.


"Waahhh, sepertinya kita tidak usah susah-susah menjodohkan kedua putra putri kita, pak Bian. Rupanya mereka sudah saling kenal. Hahahaha." Kata om Hendra sambil menepuk bahu papa Bian.


"Betul, Pak. Rupanya mereka sudah saling kenal tanpa kita perlu repot-repot memperkenalkan mereka."


Miss Den yang mendengar hal itu langsung mengerucutkan bibirnya. Dia menatap tajam ke arah sang papi.


"Apa-apaan sih, Pi. Jangan suka aneh-aneh kalau ngomong." Gerutu miss Dena. Dia benar-benar tidak mau mendengar rencana perjodohan papinya tersebut.


"Aneh-aneh bagaimana sih, May? Papi ngomong apa adanya, bukan aneh-aneh."


"Itu tadi, Papi ngomongin perjodohan segala. Memangnya papi mau anaknya jadi istri kedua?!"


"Apa maksudmu dengan menjadi istri kedua, May? Memangnya siapa yang sudah menikah?" Tanya om Hendra.


"Itu, Rean. Dia sudah menikah dan punya anak. Papi ingin menjodohkan aku dengan dia yang sudah menjadi seorang suami dan ayah?" 


Lagi-lagi ketiga orang tersebut semakin terkejut. Entah apa maksud perkataan miss Dena tersebut.


"Lho, kamu sudah menikah, Re? Kamu menikah diam-diam tanpa sepengetahuan papa dan mama?!" Kali ini papa Bian yang bersuara.


Rean langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Mana mungkin dia sudah menikah? Memangnya siapa yang akan menjadi istrinya jika bukan miss Dena, batin Rean.


"Mana mungkin aku sudah menikah, Pa. Orang calon istrinya saja masih ogah-ogahan di dekati ini," jawab Rean sambil melirik ke arah miss Dena.


Ternyata, hal yang sama juga sedang dilakukan oleh miss Dena. Dia melirik ke arah Rean dengan tatapan terkejutnya. 


Om Hendra kembali bersuara untuk menanyakan maksud perkataan sang putri.


"Maksud kamu, Rean yang sudah menikah, May?" Tanya om Hendra.


Miss Dena segera menganggukkan kepalanya.


"Kata siapa? Rean belum menikah, May. Dia saja baru masuk kuliah. Kamu ini ada-ada saja, May," kata om Hendra sambil tergelak.


"Aku nggak bohong, Pi. Aku lihat beberapa hari yang lalu dia sedang menemani istrinya saat hendak melahirkan. Dan, itu lihat dia sedang membawa perlengkapan bayi."


"Eh, memangnya kapan melihatku menemani istriku hendak melahirkan? Orang kita saja belum nyicil membuatnya." Sontak perkataan Rean membuat miss Dena benar-benar kesal.


Papa Bian yang mengerti maksud perkataan miss Dena segera meluruskan.


"Yang kamu lihat itu Shanum, kakak kandung Rean. Dia memang baru saja melahirkan. Dan, ini semua yang dibawa Rean adalah barang-barang milik keponakannya, bukan milik anaknya Rean. Rean belum menikah." Kata papa Bian menegaskan status Rean kembali.


Seketika miss Dena merasa salah tingkah karena kesalah pahamannya. Wajahnya memerah karena malu. Rean yang melihat hal itu tidak membuang-buang kesempatan untuk menggoda dosen kesayangannya.


"Ciieee, yang sedang bahagia karena mengetahui gebetannya masih single. Langsung KUA mau nggak nih, Yang?" Goda Rean.


"Eh, Yang?"


"Lho benarkan, namanya Mayang. Jadi, bisa dong jika dipanggil Yang?"


Gombale mukiyo aktif ya Re 🤦