The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 48



Pagi itu, Rean dan juga Cello lari pagi di sekitar komplek perumahan kakek dan nenek Shanum. Awalnya, kakek Reyhan dan juga papa Bian akan ikut. Namun, mereka mengurungkannya karena kedatangan pak RT yang kebetulan mampir ke rumah setelah lari pagi.


Rean dan Cello hendak menuju taman yang memiliki sebuah lapangan basket di ujung jalan tersebut. Mereka lari-lari kecil sambil sesekali melakukan peregangan.


"Kak, kira-kira nanti aku ambil kuliah dimana ya?" tanya Rean sambil masih menggerak-gerakkan badannya ke kiri dan ke kanan.


"Kalau itu sih terserah kamu, Re. Kamu mau ambil jurusan apa memangnya?"


"Ehm, maunya sih seperti papa. Tapi aku juga belum yakin sih, Kak."


"Dipastikan dulu mau ambil jurusan apa. Lagipula, ini kan juga baru masuk kelas dua belas. Masih ada sekitar satu semester lagi untuk memikirkannya."


"Iya, Kak. Tapi kalau dilihat dari gelagat mama, pasti aku di suruh kuliah di kampus yang sama dengan kalian," kata Rean sambil mendengus kesal.


"Eh, kenapa begitu?"


"Mama itu selalu khawatir, Kak. Entah mengapa mama selalu bersikap seperti itu. Bahkan, kepada kak Shanum pun juga sama."


Cello hanya bisa menghembuskan napas beratnya sambil melakukan kegiatan peregangan.


"Kalau masalh itu sih wajar, Re. Semua orang tua juga pasti melakukannya."


"Iya juga sih. Tapi setidaknya, aku juga ingin mempunyai pilihan sendiri."


Cello bisa melihat ekspresi wajah Rean yang terlihat sangat tertekan saat mengatakan hal itu. Namun, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. 


"Coba kamu bicarakan dulu baik-baik dengan mama dan papa. Kamu bilang saja apa yang kamu inginkan dan apa yang kamu impikan kedepannya. Aku yakin mereka pasti akan mau mendengar dan mengerti keinginan kamu. Asalkan, kamu mau berjanji untuk bertanggung jawab terhadap apapun pilihan kamu itu." Kata Cello sambil menoleh menatap wajah Rean yang sudah mulai berkeringat.


Setelahnya, Rean dan juga Cello melanjutkan lari mereka menuju lapangan basket. Rean dan juga Cello ingin bermain basket saat itu.


"Eh, ada yang sudah main, Kak. Ayo kita ikutan." Kata Rean penuh semangat. Dia bahkan sudah berlari-lari kecil meninggalkan Cello di belakangnya. Cello hanya bisa mengikuti keinginan adik iparnya tersebut. 


Setelah meminta izin, akhirnya Cello dan juga Rean berhasil ikut bergabung untuk bermain basket bersama dengan mereka. Rean yang memang sudah menjadi pemain basket tingkat provinsi mewakili sekolahnya, terlihat sangat menonjol di sana. Hal yang sama juga dilakukan oleh Cello. Dia juga mantan atlet basket saat di SMA dulu. Cello juga lumayan bisa mengimbangi gaya permainan Rean, meskipun sekarang, dia jarang aktif ikut latihan.


Rupanya, permainan basket mereka pagi itu menarik perhatian para warga yang memang juga sedang berolahraga di sekitar taman. Para warga banyak yang sudah berada di pinggir lapangan untuk melihat aksi Cello dan yang lainnya bermain basket. Apalagi, dengan keberadaan Cello yang memang memiliki wajah bule keturunan dari sang daddy, membuat daya tarik tersendiri.


Hingga sekitar satu jam kemudian, permainan basket tersebut berakhir. Baik Cello maupun Rean sudah cukup banyak menghasilkan keringat pagi itu. Saat hendak membeli air minum, terdengar sebuah suara memanggil nama Rean.


"Reaann Sayaanngg! Aaarrgghhh kamu disini?! Waahhh ini ada lagi bule cakep. Mau dong kenalan." Teriak seseorang sambil berjalan cepat ke arah Rean dan juga Cello.


"Tuh kan, Kak. Si cewek kutilang dadar!" Kata Rean sambil mendengus kesal.


"Eh, apa itu kutilang dadar?" 


"Kurus, tinggi, langsing, dan da*da rata. Hhhhh, aku yakin bahkan itu tidak bisa dibuat pegangan."


"Hhhaaa?"


••


Tinggalkan jejak dengan klik like, komen dan vote ya. Jangan lupa bantu promote cerita ini ke yang lainnya. Terima kasih.