
"Kamu sudah berani memasukkan laki-laki ke apartemen kamu, May?"
"Eh?"
Dena cukup bingung dengan pertanyaan sang papi. Namun, setelah dia mengingat sesuatu, mendadak dia menjadi panik. Dena baru mengingat jika pakaian Rean masih tergantung di jemuran. Naasnya, dia juga lupa menyembunyikannya. Kedatangan papinya yang mendadak membuat Dena melupakan hal itu.
Dena berusaha mengatur deru napasnya yang memburu. Jantungnya yang juga sudah berlompatan, membuatnya sedikit sulit berkonsentrasi.
"Apa maksudnya, Pi?" kilah Dena menyembunyikan kegugupannya.
"Kamu sudah berani membawa laki-laki ke sini, May? Apa seperti ini tingkah kamu sejak tinggal terpisah dari orang tua?!" Papi Dena sungguh merasa sesak. Entah mengapa dia langsung tersulut emosi.
Papi Dena yang memang belum mengetahui cerita sebenarnya, sudah mulai berpikiran yang tidak-tidak. Dia langsung berpikir jika sang putri melakukan gaya hidup bebas seperti di luar negeri.
Belum sempat Dena menjawab pertanyaan sang papi, terdengar suara ponselnya. Dena melirik sekilas layar ponsel yang berada di genggamannya. Keningnya berkerut saat mendapati deretan nomor di sana.
"Siapa itu? Laki-laki yang kamu bawa kemari?" Papi masih terus berkata ketus dan menatap tajam ke arah Dena.
Dena langsung menggelengkan kepala. Dia sendiri juga tidak tahu siapa yang menelepon malam itu. "Aku juga nggak tahu, Pi. Nomor baru, belum ada namanya," ucap Dena sambil mengarahkan layar ponselnya ke arah sang papi.
"Angkat, dan nyalakan loudspeaker."
Dena hanya bisa mengangguk. Dia tidak akan pernah berani melawan sang papi jika sudah seperti ini. Apapun perintah dan perkataan papinya, Dena pasti akan menuruti. Dena segera menggeser ikon berwarna hijau tersebut untuk menyambungkan panggilan.
"Hallo, selamat malam."
"Hallo, Miss. Selamat malam. Maaf mengganggu, ini saya Rean. Maafkan saya kemarin malam lupa membawa baju saya, Miss. Saya akan mengambilnya akhir pekan ini. Apakah Anda ada di rumah?"
Ya, ternyata yang menelepon saat itu adalah Rean. Papi Dena yang mendengar suara Rean dengan jelas tersebut langsung mengerutkan keningnya sambil menatap Dena dengan tajam. Dia butuh penjelasan saat itu.
Dena yang menyadari tatapan sang papi hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah. Dia bingung harus menjelaskan apa agar sang papi tidak salah paham. Namun, lamunannya buyar saat mendengar suara Rean kembali.
"Hallo, Miss. Apakah Anda masih di sana?"
"Baiklah, Miss. Terima kasih. Sekali lagi, maaf merepotkan. Nanti, saya juga akan membawa kembali sarung dan kaos Om Hendra yang kemarin saya pinjam, Miss."
"Ya, ya, ya. Aku tutup dulu."
Dena langsung memutus sambungan telepon tersebut sebelum Rean kembali mengatakan hal-hal yang membuatnya kehilangan muka di depan sang papi.
Setelah mendengar perkataan Rean dari telepon tadi, papi Dena merasa sedikit lega. Ternyata, baju-baju itu milik Rean, laki-laki yang akan dijodohkannya dengan sang putri. Meskipun begitu, papi masih berusaha memasang wajah galaknya di depan Dena.
"Jelaskan." Papi Dena masih menunggu penjelasan dari putri semata wayangnya.
Sebelum mulai bercerita, Dena menarik napas dalam-dalam terlebih dahulu. Setelah cukup tenang, dia mulai menceritakan semua yang dialaminya kemarin sore hingga Rean mengantarkannya pulang. Dena juga menceritakan perihal baju Rean yang berada di jemurannya.
"Papi percaya padaku, kan?" Dena masih menatap papinya takut-takut.
Papi Dena menampakkan wajah sedikit melunak. Meskipun sebenarnya dalam hati, papi Dena bersorak kegirangan karena menemukan cara jitu memaksa sang putri untuk segera menikah dengan Rean.
"Papi percaya kepadamu dan Rean. Hanya saja, Papi tidak bisa membiarkan masalah ini begitu saja. Papi tidak yakin jika kalian tidak 'icip-icip' sedikit. Papi harus menghubungi Om Bian, papanya Rean."
"Eh, kenapa harus menghubungi Om Bian, Pi? Lagian, apa itu 'icip-icip'?" gerutu Dena.
"Untuk membicarakan rencana pertunangan kalian. Segera."
"Eh?"
\=\=\=
Siapkan amplop beserta isinya buat kondangan Rean dan Dena.
Jangan lupa kasih like, komen dan vote buat Rean ya, mumpung sudah ada jatah vote. Sayang jika tidak dipakai, satu minggu vote bakal hangus.
Terima kasih 🤗