
Kini, usia pernikahan Revina dan Bian sudah mencapai lima bulan. Kehidupan mereka yang masih seumur jagung tersebut, bukan tanpa perdebatan. Namun, mereka selalu berusaha untuk menyelesaikannya dengan saling mengungkapkan apa yang dirasakan.
Bian dan Revina juga sudah sepakat, semarah apapun mereka, tidak ada istilah ngambek hingga pergi dari rumah. Bahkan, mereka juga harus tetap tidur di tempat tidur yang sama jika sedang merasa marah atau kesal.
Malam itu, Bian dan Revina baru saja kembali dari rumah El dan Fara. Mereka menghadiri acara tujuh bulanan kehamilan Fara. Revina yang baru saja menyelesaikan mandi tersebut langsung mencari keberadaan sang suami yang sudah lebih dulu membersihkan diri.
"Mas, mau makan lagi?" Tanya Revina saat melihat sang suami mengeluarkan sayur-sayuran.
"Hhhmmm. Aku lapar lagi, Dek. Hehehe." Jawab Bian sambil tersenyum nyengir.
"Sini, biar aku buatkan. Mau makan apa?" Tanya Revina sambil menggelung rambutnya ke atas.
"Nggak usah. Biar aku sendiri yang masak. Kamu duduk saja."
"Kamu nggak capek, Mas?" Tanya Revina yang menolak permintaan Bian.
"Capek sih sebenarnya, tapi aku mau buat nasi goreng pedas dengan tambahan sayuran ini." Jawab Bian sambil menunjukkan sayuran yang hendak di cucinya.
"Hhhaaa? Sebanyak itu, Mas?" Tanya Revina kaget. Revina benar-benar terkejut saat melihat sayuran yang akan dicuci oleh sang suami. Ada tiga ikat sayuran sawi yang akan dibuat campuran nasi goreng Bian. "Kamu mau buat sayur apa nasi goreng, Mas? Kenapa sayurannya sebanyak itu?"
"Hehehe, nggak apa-apa, Dek. Biar sehat, kita kan harus makan sayuran untuk memenuhi kebutuhan serat tubuh."
"Hhhhh, terserah deh, Mas." Kata Revina dengan pasrah. Dia membiarkan sang suami untuk melakukan apa yang diinginkannya.
Selama Bian menyiapkan bumbu untuk membuat nasi goreng, lagi-lagi Revina dibuat terkejut dengan banyaknya cabe yang disiapkan sang suami. Pasalnya, Revina tahu jika Bian itu tidak suka pedas. Hal itu berbanding terbalik dengan dirinya. Revina sangat menyukai pedas. Bahkan, saat membeli bakso, dia tidak perlu memakai saus untuk membuat kuah baksonya berwarna merah. Dia akan dengan senang hati menuangkan sambal hingga membuat warna saus tersebut berubah warna.
"Mas, kenapa cabenya sebanyak itu? Kamu mau buat nasi goreng untuk siapa, sih?" Tanya Revina sambil beranjak berdiri. Kini, dia sudah berdiri di samping Bian yang kini mulai menghaluskan bumbu tersebut dengan cobek.
"Tentu saja buatku sendiri."
"Kenapa cabenya sebanyak ini, Mas? Kamu mau sakit perut?!"
"Nggak akan. Ini sedikit kok, Dek. Hanya delapan ini." Kilah Bian.
"Biasanya juga hanya tiga atau empat, Mas. Itu kenapa dua kali lipatnya? Itu juga kenapa memilih yang besar-besar coba." Gerutu Revina.
Mau tidak mau, Revina hanya bisa pasrah dan menuruti permintaan Bian. Dia menunggu Bian membuat nasi goreng sambil duduk di dekat mini bar yang ada di dapur.
Tak berapa lama kemudian, masakan Bian sudah jadi. Bian memindahkannya ke atas dua buah piring dan membawanya ke hadapan Revina. Tak lupa juga irisan telur goreng sudah menutupi bagian atasnya hingga penuh. Revina mengernyitkan keningnya saat melihat tampilan nasi goreng tersebut.
"Ini yakin telur gorengnya sebanyak ini, Mas? Kamu kan nggak begitu suka telur goreng?"
"Eh, siapa bilang. Aku suka kok. Ayo, coba kamu cicipi masakanku. Aku jamin pasti kamu akan ketagihan." Kata Bian sambil menyendokkan nasi dan menyuapkan ke dalam mulut Revina.
Revina menerima suapan tersebut. Dia lumayan suka dengan masakan sang suami. Rasanya pas di lidahnya. Pedas dan asinnya juga pas. Revina benar-benar suka.
"Bagaimana? Suka?" Tanya Bian.
"Eehhmm. Enak, Mas." Jawab Revina sambil mengacungkan jempolnya. Setelahnya dia mulai menyendok sendiri nasi gorengnya.
Bian tersenyum senang saat melihat sang istri menyukai masakannya. Setelahnya, giliran dia menyendok dan menyuapkan nasi goreng tersebut ke dalam mulutnya. Namun, saat nasi tersebut masuk ke dalam mulutnya, Bian langsung merasa tidak enak. Seketika Bian berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan semua isi perutnya.
"Hoeekk hooeekkk"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Sebentar lagi end ya.