
Selama tiga hari ini Rean dan Dandi menjalani perkuliahan mereka dengan cukup baik. Mereka juga sudah mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan kampus yang baru. Rean dan Dandi juga sudah mulai mengenal teman-teman sekelas mereka.
"Lo yakin mau ngekos?" Tanya Rean kepada Dandi sambil berjalan menuju ruang kelasnya. Ya, mereka ada satu lagi kelas siang itu.
"Belum yakin juga sih. Nyokap nggak ngebolehin."
"Terus, ngapain lo paksaan buat ngekos jika nyokap lo nggak ngasih izin?"
"Capek, Re. Memang sih nggak terlalu jauh rumah gue sama kampus. Tapi macetnya itu, lho."
"Makanya berangkatnya lebih pagi, dong. Baru juga empat hari masuk kuliah sudah bolos dua mata kuliah gara-gara terjebak macet," cibir Rean.
"Gue mana bisa bangun pagi. Paling mentok juga jam enam. Itu juga dibangunin nyokap."
"Terus kalau lo ngekos, emang nggak ada jaminan lo nggak bakal telat bangun dan telat ke kampus?"
"Hehehe, iya juga sih."
"Palingan nanti juga jika jadi ngekos, bangunnya malah lebih telat. Mikirnya, ah tidur sebentar lagi, kampusnya dekat ini,"
"Hehehe, kok lo ngomongnya suka bener sih, Re." Kata Dandi sambil menepuk-nepuk punggung Rean.
Rean hanya bisa mencebikkan bibirnya setelah mendengar perkataan Dandi. Setelahnya, mereka segera memasuki ruang kelas karena perkuliahan sudah akan dimulai.
Seperti biasa, Rean dan juga Dandi akan mengambil tempat duduk di deretan bagian kiri dekat dengan pintu masuk. Entah mengapa mereka suka menempati posisi itu. Kali ini mereka juga mengambil posisi di tempat yang sama. Bahkan, saat ini meja yang ada di depan Rean dan juga Dandi masih kosong.
Beberapa mahasiswa terlihat memasuki ruang kelas. Rean dan juga Dandi masih sibuk dengan ponselnya hingga tidak menyadari kehadiran dosen mereka saat itu. Hingga sebuah suara mengusik telinga mereka.
"Selamat siang, bisa kita mulai perkuliahan kita hari ini?"
Rean yang mendengar suara sang dosen langsung mendongakkan kepalanya. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat siapa yang ada di depannya tersebut.
"Astaga, IGD RS Permata?!"
Sontak saja semua orang yang berada di dalam kelas tersebut menoleh ke arah Rean. Tak terkecuali dosen tersebut. Kening perempuan cantik tersebut berkerut saat kedua bola matanya menatap ke arah Rean. Sepertinya, ingatannya kembali berputar pada kejadian beberapa waktu yang lalu.
"Eheemmm. Mohon jangan membuat keributan di kelas saya," ucap dosen perempuan tersebut sambil menatap ke arah Rean.
Rean segera tersadar dan tersenyum sambil mengangguk. Kena kau sekarang. Saat ini, kamu tidak akan bisa mengelak lagi, batin Rean sambil masih menatap wajah dosennya tersebut.
Menyadari dirinya tengah diperhatikan, dosen perempuan tersebut melirik ke arah Rean sebentar sebelum kembali fokus kepada mahasiswa yang lainnya.
"Baiklah, sebelum perkuliahan kita dimulai, alangkah baiknya kita berkenalan dulu. Perkenalkan, nama saya Denada Mayyangta Gusnadi. Kalian bisa memanggil saya Miss Dena. Dalam semester ini, kalian akan berada di kelas saya untuk mata kuliah dasar ini. Jadi, saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik."
"Seperti yang sudah saya sampaikan kepada ketua kelas kalian kemarin, saya akan mempunyai beberapa program yang harus kalian ikuti dan kerjakan. Baik individu maupun kelompok. Dan juga, setiap akhir perkuliahan, saya akan mengadakan kuis."
"Perlu kalian ketahui, saya hanya memberi kalian kelonggaran untuk tidak mengikuti perkuliahan saya sebanyak tiga kali dalam satu semester. Jadi, bagi kalian jika ada yang membolos lebih dari tiga kali, jangan ada yang berharap kalian akan mendapatkan nilai yang lebih dari C. Apa bisa dipahami?" tanya miss Dena sambil mengedarkan pandangannya.
"Mengerti, Miss." Jawab para mahasiswa tersebut kompak.
"Bagus. Ada pertanyaan?" Tanya miss Dena sambil kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas.
Para mahasiswa tampak sedikit takut dengan tatapan dosen muda tersebut. Sepertinya, dia adalah tipe-tipe dosen killer yang siap untuk menguliti para mahasiswanya dengan berbagai macam tugas.
Hampir semua mahasiswa yang berada di dalam kelas tersebut menundukkan kepala. Mereka terlihat tidak berani menatap ke arah dosen tersebut.
"Buset, cantik-cantik galak bener. Auranya nyeremin," bisik Dandi pada telinga Rean.
Namun, hal itu tidak membuat Rean takut. Justru dia merasa sangat penasaran dengan dosen cantiknya tersebut. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Rean langsung mengangangkat tangan kanannya. Seketika miss Dena menoleh ke arah Rean dengan kening berkerut.
"Apa Miss Dena sudah menikah?" Tanya Rean tanpa ragu-ragu.
Kening miss Dena langsung berkerut setelah mendengar pertanyaan Rean. Tampak sekali dari ekspresi wajahnya dia terlihat tidak suka dengan pertanyaan Rean.
"Saya mempersilahkan untuk mengajukan pertanyaan terkait dengan mata kuliah yang saya ajarkan, bukan tentang informasi pribadi."
"Memang kenapa jika bertanya tentang informasi pribadi, Miss? Siapa tahu nanti pertanyaan seperti itu akan keluar dalam soal kuis atau ujian?"
Sontak saja terdengar suara koor dari dalam kelas.
"Hhhuuuuu, ngarep saja kamu, Re!"
"Modus itu, mah!"
"Jangan di jawab, Miss."
Ya, begitulah suara-suara yang berasal dari teman-teman Rean setelah mendengar perkataannya tersebut. Kelas mulai terlihat gaduh saat para mahasiswa tersebut mulai sibuk menggoda Rean. Miss Dena mulai terlihat kesal karena kelasnya sudah mulai tidak kondusif.
"Sudah, sudah! Saya tidak mau ada kegaduhan lagi di dalam kelas," ucap miss Dena sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas. Setelahnya, tatapan matanya kembali ke arah Rean. Dia terlihat tidak suka saat menatap ke arah Rean.
"Dan kamu, jangan lagi membuat keributan di kelas saya!" Kata miss Dena dengan tatapan galaknya.
"Baiklah, aku tidak akan membuat keributan di dalam kelas lagi. Tapi, aku berjanji akan membuat keributan di hati Anda, Miss."
"Eeeeeaaaa!"
Lagi-lagi perkataan Rean sukses membuat kegaduhan di kelas tersebut. Para laki-laki tampak ada yang bersiul-siul menggoda Rean.
Wajah Miss Dena sudah tampak memerah karena menahan kesal dan juga malu. Dia menatap tajam ke arah Rean.
"Siapa nama kamu?"
Seketika kegaduhan di ruang kelas tersebut terhenti. Mereka menatap ke arah Miss Dena dan Rean bergantian.
"Oh, perkenalkan nama saya Rean Aksa Atmaja, Miss." Rean memperkenalkan diri sambil mengulas senyumannya.
Kening Miss Dena berkerut sambil masih menatap ke arah Rean. "Siapa nama panggilan kamu?" tanya Miss Dena sambil membuka lembar presensi kehadiran mahasiswanya.
"Sayang, Miss."
"Baiklah, Sayang, hari ini ….," Miss Dena langsung menghentikan perkataannya saat menyadari dirinya telah dikerjai oleh sang mahasiswa. Kedua bola matanya menatap Rean dengan tatapan nanar.
"Kamu?!"
"Iya, saya, kenapa, Miss?"
\=\=\=\=
Wus embuhlah. Othor mumet ngrasakne Rean. Kira-kira jika punya murid seperti Rean begini, enaknya diapain ya?
a. Di hukum
b. Di keluarkan dari kelas
c. Isi sendiri