
Beberapa saat kemudian, daddy El sudah tiba di rumah. Melihat kedatangan sang daddy, Zee langsung berjalan menemuinya.
"Bagaimana, Shanum? Sudah mendingan?" Tanya daddy El sambil melepaskan jas yang dipakainya dan menggulung lengan kemejanya hingga siku.
"Sudah mendingan kok, Da. Maaf tadi aku langsung pulang tanpa pamit kepada Daddy. Aku khawatir sekali tadi, Dad."
"Iya. Daddy juga paham, kok."
"Ehm, tadi jadi menemui om Zee dan temannya?"
"Iya. Rencananya mau makan siang di luar bareng om Zee juga. Tapi, temannya om Zee kebetulan berada tak jauh dari kantor, jadi dia daddy samperin sekalian tadi."
Cello langsung mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
"Lalu, hasilnya bagaimana, Dad?" Tanya Cello penasaran.
"Nanti saja Daddy kasih tahu. Sekarang kita makan siang dulu. Mommy kamu pasti akan marah-marah nanti."
Cello hanya bisa mengangguk mengiyakan. Dia segera mengekori sang daddy menuju ruang makan. Siang itu, mereka makan siang bersama sambil sesekali ngobrol.
"Langsung balik ke kantor, Mas?" Tanya mommy Fara setelah mereka semua menyelesaikan makan siangnya.
"Nggak ke kantor, Yang. Aku mau pergi sama Cello sebentar. Kita harus menyelesaikan masalah yang kemarin." Jawab daddy El sambil melepaskan kemejanya.
"Mau kemana?"
"Ke Empero."
"Perusahaan IT itu?"
"Hhhmmm."
"Bukannya itu milik GC ya, Mas?"
"Iya. Tadi aku sudah bertemu dengan orang yang kemungkinan bisa membantu Cello. Dan, dia meminta kita kesana karena membutuhkan beberapa informasi."
Sekitar satu jam kemudian, daddy El dan juga Cello sudah sampai di kantor Empero. Mereka langsung beranjak untuk menemui David Zayn, atau lebih sering dipanggil Dave.
"Silahkan masuk, Pak. Anda sudah ditunggu oleh pak Dave dan juga pak Zee." Kata seorang sekretaris yang menemui daddy El dan juga Cello.
"Eh, Zee juga ada di sini?"
"Iya, Pak. Pak Zee baru saja datang."
Daddy El dan juga Cello hanya bisa mengangguk mengiyakan. Setelahnya, mereka berdua mengekori langkah kaki sekretaris tersebut menuju sebuah ruangan yang terletak di bagian ujung. Daddy El dan juga Cello langsung masuk ketika sang sekretaris tersebut mempersilahkan.
"El, sudah datang, Lo?" Sapa Zee yang terlihat baru saja mengambil air minum di dari dalam lemari pendingin.
"Hhhmm. Begitu lo kasih kabar, gue dan Cello langsung berangkat ke sini."
Zee hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Pandangan matanya menoleh ke arah Cello yang berdiri di samping sang daddy.
"Apa kabar, Cell?"
"Baik, Om. Om dan tante apa kabar?"
"Om dan tante baik, Cell. Eh, ayo silahkan duduk. Kita tunggu Dave dulu. Dia masih mandi." Kata Zee sambil mempersilahkan daddy El dan juga Cello untuk duduk.
Setelahnya, mereka bertiga langsung duduk di sofa set yang berada di dekat jendela. Zee juga mengambilkan air minum untuk para tamunya.
"Waahh, sepertinya ada yang mencoba mengusik putramu, El." Kata Zee.
"Benar. Dan aku nggak tahu jika hal seperti itu bisa terjadi. Aku kira, putraku ini nggak laku. Kkkkkk," kata daddy El sambil terkekeh geli.
Cello tang mendengar perkataan sang daddy hanya bisa mendengus kesal. Dia menatap ke arah daddy El dengan tatapan mata tajamnya.
"Mana ada nggak laku, Dad. Sekali promosi, pasti langsung banyak yang nawar." Jawab Cello.
"Memang dagangan pakai di tawar segala?"