The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Part M2.57



Malam itu, El dan Fara sudah terlelap di dalam kamarnya. El yang sudah mendapatkan apa yang diinginkannya langsung terlelap begitu mereka telah selesai. Hal yang sama juga dilakukan oleh Fara setelah tugasnya selesai.


Keesokan paginya, Fara sudah bangun dan membantu mommy Vanya di dapur untuk membuat opor ayam. Hari ini, mereka rencananya akan kedatangan tamu para sahabat mommy Vanya. Siapa lagi jika bukan tante Fida dan tante Nabila. 


"Sayang, sudah bangun?" Tanya mommy Vanya yang juga baru saja tiba di dapur. Pagi itu mommy Vanya bangun kesiangan karena ulah daddy Kenzo.


"Iya, Mom. Masak apa hari ini?" Tanya Fara sambil berjalan ke arah dapur.


"Opor ayam, Sayang. Rencananya nanti sore sahabat-sahabat mommy kan akan kemari."


"Oh, tante Fida dan tante Nabila?"


"Iya. Kamu bisa bantu mommy, kan?" Tanya mommy Vanya.


"Bisa kok, Mom. Aku akan membantu mommy untuk menyiapkan semuanya." Jawab Fara.


Mommy Vanya tersenyum sambil mengangguk. Dia merasa sangat bahagia karena mendapatkan menantu seperti Fara. Selanjutnya, mereka langsung mulai menyiapkan segala keperluan untuk membuat opor ayam. Mereka mengerjakan semuanya sendiri, karena para asisten rumah tangga sedang mudik lebaran dan mereka akan kembali lagi pada H+5 nanti.


"El belum bangun?" Tanya mommy Vanya di sela-sela aktivitasnya mencuci ayam.


"Belum, Mom. Mas El spertinya kelelahan." Jawab Fara.


"Eh, memangnya apa yang kalian lakukan hingga El kelelahan?" Tanya mommy Vanya sambil berbalik.


"Eh, i-itu anu.." Fara kebingungan menjawab pertanyaan mommy Vanya. Dia hanya asal ngomong tanpa memikirkan jawaban apa jika mommy Vanya bertanya.


Mommy Vanya yang mengetahui jika Fara tengah kebingungan langsung mendekat dan tersenyum. 


"Tidak usah malu, Sayang. Mommy bahkan sangat bahagia sekali kalian sudah mulai saling terbuka. Mommy dan daddy hanya bisa berdoa agar kalian segera diberi momongan. Mommy dan daddy benar-benar sudah tidak sabar untuk memiliki cucu." Kata mommy Vanya sambil mengusap-usap bahu Vanya.


"Aamiin. Doakan kami selalu, Mom. Doakan kami agar segera diberi kepercayaan untuk memiliki momongan." Kata Fara.


"Pasti, Sayang. Mommy selalu mendoakan kalian." Kata mommy Vanya sambil mengangguk dan tersenyum. 


Setelahnya, mereka kembali melanjutkan acara memasak sambil mengobrol tentang banyak hal. Tak berapa lama kemudian, daddy Kenzo terlihat turun dari kamarnya dan berjalan menuju dapur. Di belakang daddy Kenzo, El juga sudah bangun dan berjalan dengan muka bantalnya. Mommy Vanya yang melihat hal itu langsung menatap daddy Kenzo dan El.


"Mas, kamu dan El bantu nyapu dan ngepel depan gih. Kami sedang sibuk ini." Kata mommy Vanya.


Sontak daddy Kenzo dan El langsung berhenti berjalan menuju dapur. Mereka menoleh untuk saling pandang.


"Sayang, kami baru bangun tidur ini. Masih capek." Protes daddy Kenzo.


"Iya, Mom. Aku juga masih ngantuk berat ini. Coba saja lihat, itu masih jam enam lewat sedikit." Kata El.


"Kalian ini mau enak-enakan tidur sementara kami para istri harus menyelesaikan semuanya sendiri, iya? Coba kalian bayangkan, kami sedari tadi sudah bangun dan mulai memasak sambil membersihkan ruang tengah, tapi kami tidak protes. Kami yang setiap hari melakukan pekerjaan rumah dari pagi, mulai buka mata sampai malam pun tidak pernah protes. Itu pun malam masih harus kerja lembur karena dikerjai oleh kalian para suami. Jika kalian…" Belum sempat mommy Vanya menyelesaikan perkataannya, daddy Kenzo langsung menyelanya.


"Iya, iya, Sayang. Kami akan laksanakan semua pekerjaan itu. Kamu dan Fara lanjutkan saja memasaknya. Aku dan El akan membersihkan ruang depan. Oke El?" Kata daddy Kenzo sambil mengedipkan matanya dengan cepat ke arah El.


El yang mengerti kode sang daddy langsung mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat. Entah kenapa rasa kantuknya langsung kabur kanginan terbawa oleh ceramah lima menit mommy Vanya pagi itu.


Setelahnya, daddy Kenzo dan El segera mengambil sapu, alat pel dan kemoceng untuk membersihkan ruang depan. Mommy Vanya yang melihat hal itu langsung tersenyum puas. Dia kembali ke dapur untuk menemui menantunya.


"Dad, kenapa aku selalu tidak bisa berkutik ya jika mommy sudah seperti itu?" Tanya El.


"Sama. Daddy juga selalu merasa seperti itu jika mommy kamu sudah mengeluarkan jurus seribu bibirnya."


"Sepertinya apapun jabatan kita di kantor, tetap tidak ada harganya jika di rumah." Kata El sambil mendesahkan napasnya.


"Dengar, El. Sebenarnya, bukan Daddy tidak bisa melawan atau menolak perkataan mommy kamu. Tapi, bagi Daddy, pantang untuk menolaknya jika Daddy masih bisa melakukannya. Mommy kamu itu anak satu-satunya kakek dan nenek kamu. Dia dibesarkan dengan penuh kasih sayang dan rasa cinta di keluarganya. Dia diperlakukan seperti seorang putri yang dipenuhi semua kebutuhannya."


"Namun setelah menikah, mommy kamu menghabiskan banyak waktu untuk mengurus Daddy. Mommy kamu bahkan rela bentuk tubuhnya berubah dan menahan sakit saat mengandung dan melahirkanmu. Bagi Daddy, tidak ada pengorbanan yang lebih besar dari itu semua. Jadi, sebisa mungkin Daddy akan melakukan semua keinginan mommy kamu."


El yang mendengar perkataan sang daddy hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika El hendak bertanya, terdengar suara teriakan mommy Vanya dari ruang tengah.


"Maaasss, ayo segera ke Surabaya. Fida akan menikahkan Revina di Surabaya hari ini."


"Hhhaaaah?"


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Haduuhh daddy Kenzo ngomongnya, jadi pen peluk El.


Bantu dukung othor dengan klik vote, like dan komen ya. Terima kasih.