The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Rean 90



Meski merasa malu karena digoda oleh anggota keluarga yang lain, Kinan tetap berdiri dan mengajak Adrian beranjak menuju kamarnya. Letak kamar Kinan yang berada di sebelah ruang makan, membuatnya tidak terlihat dari ruang tengah karena letaknya berbelok ke sebelah kiri.


Adrian mengikuti langkah kaki Kinan menuju kamar sambil membawa tas berisi baju gantinya yang baru saja diambil dari mobil. Tidak ada obrolan yang terjadi antara Kinan dan Adrian. Entah mengapa mereka mendadak canggung dan malu.


Kinan? Malu? Ah, nggak apa-apa. Sebentar lagi juga bakal malu-maluin. 🤭


Kinan membuka pintu kamarnya lebar-lebar dan meminta Adrian masuk.


"Ehm, silahkan, Mas. Pintu kamar mandinya ada di sebelah lemari itu," ucap Kinan sambil menunjukkan letak pintu kamar mandi.


Adrian mengangguk dan segera memasuki kamar tersebut. Dia mengedarkan pandangan sekilas sebelum kembali menoleh ke arah Kinan. Saat itu, Kinan hendak menutup pintu dan berniat meninggalkan Adrian.


Namun, gerakan tangan Kinan yang hendak menutup pintu, langsung dihentikan oleh Adrian. 


"Mau kemana? Jangan pergi. Aku butuh bantuanmu," ucap Adrian sambil mencegah Kinan pergi.


Tentu saja Kinan langsung terkejut. Kedua bola mata dan mulutnya langsung terbuka. Tanpa dikomando, otak Kinan sudah langsung berpikiran jika Adrian meminta bantuannya untuk mandi.


"Eh, ma-maksudnya minta bantuan untuk mandi? Ini kan masih sore? Aku nggak mau kebablasan nanti. Malu masih banyak orang."


Adrian langsung cengo mendengar ucapan Kinan. Dia merutuki mulutnya yang seenaknya langsung meminta bantuan Kinan tanpa menjelaskan maksud bantuannya apa.


"Eh, bu-bukan begitu maksudku." Kini, giliran Adrian yang bingung harus menjelaskan apa. Namun, secepat kilat dia menarik lengan Kinan agar dia tidak berdiri di depan pintu kamar. Setelah itu, Adrian segera menutup dan mengunci pintu kamar tersebut.


Dan, lagi-lagi otak Kinan langsung melesat ke adegan-adegan yang biasanya dilakukan oleh pengantin baru. Entah mengapa otaknya itu langsung nyambung ke hal-hal aneh seperti itu.


Lagi-lagi Adrian hanya bisa membulatkan mulutnya saat mendengar ucapan Kinan. Bisa-bisanya istrinya itu memikirkan aktivitas pengantin baru disaat seperti ini. Mana masih sore lagi, batin Adrian


Eh, sebentar. Apa tadi kata Adrian? Istri? Cieee, sudah berani mengakui istri nih. 🤭


Adrian langsung meraup wajahnya dengan kasar. Baru beberapa jam menjadi suami Kinan, dia sudah dikejutkan oleh ucapan sang istri yang blak-blakan. Apa kabar nanti jika mereka sudah kembali ke Jakarta? Bisa-bisa Adrian akan kewalahan menghadapi Kinan.


Sabar, sabar Bang Iyan. Suami sabar disayang istri. Nanti bisa dapat jatah triple lho, nggak lagi double. 🤭


"Bukan begitu. Aku hanya minta bantuan untuk melepas dan memakaikan perban. Aku ada luka di belakang punggung." Adrian menjelaskan kepada Kinan.


Sontak saja penjelasan Adrian tersebut membuat Kinan terkejut. Luka? Luka apa maksudnya? Kenapa dia sama sekali tidak menyadari hal itu? Mendadak Kinan menjadi panik.


"Luka? Luka apa maksudnya? Kenapa aku sampai tidak tahu?" 


Kinan buru-buru mendekat ke arah Adrian. Dia langsung mulai membuka kancing baju Adrian dengan tidak sabar. Tentu saja Adrian cukup terkejut mendapati tindakan tiba-tiba sang istri.


"Eh, eh. Mau apa ini? Katanya tadi tidak malu sama yang lain. Kenapa jadi bersemangat begini?"


\=\=\=\=


Haduuhh, ini siapa yang salah paham sih sebenarnya? 🤧