
Kinan langsung menggerutu kesal saat mendengar sahutan dari Adrian di seberang sana. Bisa-bisanya Si Duper punya pikiran seperti itu? Memangnya siapa yang kangen? Jangan-jangan dia sendiri yang kangen? gerutu Kinan dalam hati.
"Cckkk. Siapa juga yang kangen, Om? Jangan-jangan Om sendiri yang kangen sama aku," jawab Kinan.
"Aku? Kenapa jadi aku yang kangen? Ini tadi siapa yang telepon lebih dulu?"
"Aku," jawab Kinan.
"Nah, itu kan ngaku. Jadi, siapa yang kangen siapa, nih?"
Kinan semakin kesal dengan ucapan Adrian. "Sudah, sudah. Yang jelas, aku menghubungi Om bukan karena kangen, tapi karena ada sesuatu yang aku ingin tanyakan."
"Sesuatu? Apa itu?" tanya Adrian penasaran.
Kinan hendak menjawab, namun sayup-sayup dia mendengar suara gumaman dari seberang sana. Kinan berpikir jika saat itu Adrian tengah bersama dengan seseorang.
"Suara siapa itu, Om?" tanya Kinan penasaran.
"Kenapa? Kamu cemburu?" Entah mengapa rasa kepercayaan diri Adrian naik seribu persen malam itu. Mungkin, hal itu disebabkan karena Kinan sudah menghubunginya lebih dulu.
Eh, memang yang seperti itu ada pengaruhnya, Thor? Ndak tahu. 🤧
"Ya salam. Mana mungkin aku cemburu, Om. Memangnya Om siapanya aku yang harus dicemburui?! Lagian ya, Om, jika aku cemburu, mending cemburu sama cewek-cewek cantik sana. Lha ini tadi suara laki-laki. Ya kali aku cemburu sama laki-laki. Ngapain coba?"
Adrian hanya bisa mendengus kesal dari seberang sana. Sepertinya, dia sulit menang jika harus berdebat dengan Kinan.
"Ya, siapa tahu kamu penasaran dengan siapa aku? Dimana aku sekarang?"
"Cckkk. Palingan Om sedang di apartemen dan menunggu teleponku. Iya, kan?" Kali ini, giliran Kinan yang menggoda.
"Jika aku jawab iya, kamu percaya?" Suara Adrian mendadak serius. Tentu saja hal itu bisa dirasakan oleh Kinan.
"Eh, ma-maksudnya apa?" Entah mengapa Kinan mendadak bingung. Dan, ada sedikit rasa berdebar-debar di dadanya.
"Hhhh. Kamu salah. Aku tidak di apartemen sekarang. Bahkan, aku sedang tidak ada di Jakarta."
Sontak saja Kinan langsung membuka mulutnya saking terkejut. Tidak di Jakarta? Maksudnya bagaimana? Memangnya dimana Si Om Duper sekarang? Batin Kinan.
"Om tidak di Jakarta? Memangnya sekarang Om ada dimana?" tanya Kinan penasaran.
"Eh, ngapain Om disana?"
"Hhhh. Tentu saja bekerja. Aku ada beberapa pekerjaan disini."
Kinan terdengar menghembuskan napas berat. Entah mengapa dia merasa ada sesuatu yang terasa hilang. Namun, Kinan tidak tahu apa itu.
"Sampai kapan Om akan berada di sana?" Entah mengapa pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Kinan.
"Ehm, entahlah. Ada banyak hal yang harus aku bereskan di sini. Memangnya kenapa? Kamu kangen?" Suara Adrian terdengar sedikit menggoda.
Kinan yang tersadar pun langsung mendengus kesal.
"Siapa yang kangen, Om. Aku nggak akan kangen."Â
"Yakin?" Lagi-lagi suara Adrian terdengar mengejek.
"Cckkk. Yakin. Yakin seratus persen malahan."
"Ya, ya, ya. Lalu, kenapa tadi bertanya berapa lama aku di sini?" tanya Adrian.
Kinan memutar otaknya dengan cepat. Dia harus mencari alasan. Setidaknya, alasan yang tidak membuat Adrian berpikiran yang tidak-tidak.
"Ehm, aku khawatir Om tidak bisa melakukan rencana awal kita dulu."
"Rencana? Yang mana?"
"Ehm, itu, yang ikut ke resepsi pernikahan rekanku itu, Om."
"Oh, itu. Kamu tenang saja. Aku pastikan akan hadir disana."
"Serius?"
"Hhhmm."
Scroll ya