The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Part M2.9



Sesampainya di rumah, Fara langsung turun dari mobil dengan bantuan  El. Fara terlihat kikuk saat El memegangi tangannya untuk membantu naik ke teras rumah oma Tari.


"Terima kasih, Kak. Maaf jadi merepotkan Kakak hari ini." Kata Fara sambil mendudukkan diri di kursi makan.


"Sama-sama. Sampaikan kepada Oma aku balik dulu." Kata El sambil beranjak pergi keluar rumah. Dia segera memarkirkan mobil oma Tari dan mengambil sepedanya.


Fara masih memandangi punggung El hingga hilang di balik pintu. Dia menghembuskan napas beratnya.


Hari berganti hari, hingga bulan berganti bulan. Kini, Fara sudah mulai kuliah dengan paksaan mommy Vanya dan oma Tari. Mereka benar-benar sudah menganggap Fara seperti anak sendiri. El juga sudah kembali ke US untuk menyelesaikan kuliahnya.


Tak terasa, kini sudah satu tahun berlalu. El sudah menyelesaikan kuliahnya dan bersiap kembali ke Indonesia. Mommy Vanya sudah bersiap-siap untuk menyambut kedatangan putra semata wayangnya yang akan datang sekitar dua minggu lagi.


Pagi itu, Fara membantu mommy Vanya untuk menanam bunga mawar yang baru datang di taman belakang. Ya, mommy Vanya memang mempunyai banyak koleksi bunga di taman belakang miliknya. Saat sedang bercanda dengan mommy Vanya, tiba-tiba ponsel Fara berbunyi. Dia segera mengambil ponselnya dan melihat siapa yang tengah meneleponnya.


Meski Fara tidak mengenal nomor ponsel tersebut, dia segera menggeser ikon berwarna hijau tersebut untuk menyambungkan panggilan.


"Hallo." Sapa Fara.


"...."


"Iya, Pak. Saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?"


"....."


"Apaaa?!"


Fara langsung berteriak dan terduduk lemas di atas rumput. Air mata langsung menganak sungai dari kedua matanya. Tangisnya langsung pecah seketika. Mommy Vanya langsung mengambil ponsel Fara yang sudah terlepas dari tangannya dan bertanya tentang apa yang terjadi kepada si penelepon.


Dan, disinilah Fara dan keluarga mommy Vanya berada. Mereka berada di sebuah pemakaman umum yang berada di Bandung. Tadi pagi, Fara mendapat kabar jika sang ayah mengalami kecelakaan saat mengendarai truk dengan kondisi mabuk. Ayah Fara langsung meninggal di tempat kecelakaan karena kerasnya tabrakan antara truk yang dikendarai ayah Fara dengan beton pembatas jalan.


Fara masih menangis diatas pusara sang ayah, meski seluruh rombongan sudah pergi meninggalkan lokasi pemakanan. Bahkan, ibu tiri Fara hanya mengikuti prosesi pemakaman tersebut sebentar.


Mommy Vanya dan oma Tari masih berusaha menenangkan Fara. Mereka membujuk Fara untuk segera beranjak dari lokasi pemakaman tersebut karena hari sudah menjelang petang. Malam itu juga, mereka kembali ke Jakarta. Mommy Vanya dan oma Tari menggelar acara tahlilan hingga tujuh hari meninggalnya ayah Fara.


"Sayang, banyak-banyakin berdoa untuk orang tua kamu ya, untuk ayah dan ibu kamu. Bagaimanapun perlakuan mereka dulu, mereka tetaplah orang tua kamu. Tidak ada mantan orang tua. Selamanya, orang tua tetap akan menjadi orang tua." Kata oma Tari.


Fara yang mendengar perkataan oma Tari hanya bisa mengangguk mengiyakan. Dia sudah bisa mengikhlaskan kepergian sang ayah.


Beberapa hari berlalu, kini di rumah mommy Vanya terlihat sibuk sejak pagi. Daddy Kenzo bahkan tidak diizinkan untuk berangkat ke kantor oleh mommy Vanya.


"Kenapa harus sampai bolos ke kantor sih, Yang?" Gerutu daddy Kenzo yang kini terpaksa harus berganti baju kembali. Pasalnya, dia sudah rapi dengan pakaian kerjanya dan siap berangkat ke kantor.


"Hari ini kita akan menyambut kedatangan putra semata wayang kita, Mas. Jadi harus spesial, dong." Jawab mommy Vanya sambil membantu melepaskan jas dan dasi daddy Kenzo.


"Tapi aku ada meeting nanti siang, Yang." Rengek daddy Kenzo.


"Suruh saya Reyhan menggantikan kamu, Mas. Lebih penting mana sih meeting itu sama anak kamu? Awas saja jika bilang lebih penting meeting. Aku akan menyegel pabrik dan tidak akan membukanya untuk waktu yang sangat lama." Ancam mommy Vanya.


"Yah, jangan dong. Masa iya kamu tega berbuat begitu, Yang. Aku sudah berolahraga dan mengkonsumsi makanan yang sehat selama ini agar tetap segar bugar dan bertenaga saat jalan-jalan ke pabrik. Kamu benar-benar tega jika menyegelnya."


"Makannya, nurut apa yang aku katakan. Salah sendiri melarang aku hamil lagi. Jika kamu memberi izin aku hamil lagi, kita bisa punya banyak anak, Mas."


Daddy Kenzo langsung berbalik menatap wajah sang istri. Dia mendekat dan memberikan pelukan kepada mommy Vanya.


"Kamu tahu sendiri alasannya kenapa aku tidak mengizinkan kamu hamil lagi. Aku benar-benar tidak bisa melihatmu kesakitan seperti itu saat melahirkan." Kata daddy Kenzo sambil memberikan beberapa kecupan pada pucuk kepala mommy Vanya.


"Itu bukan alasan, Mas. Jika kamu khawatir aku kesakitan, kita bisa melakukan operasi. Kamu saja yang parnoan." Gerutu mommy Vanya.


"Sudah, sudah. Aku tetap tidak mengizinkannya. Nanti saja minta El untuk memberi kita banyak cucu."


"Masih lama, Mas. Kamu lihat sendiri jika El adem ayem sama perempuan. Aku suka iri sama bu Gitta yang sudah menimang cucu dari Zee sang putra. Mana cucunya gemoy lagi. Gemes aku, Mas. Jadi pengen gigit." 


"Kalau begitu, gigit yang lain saja dulu." Kata daddy Kenzo sambil tersenyum smirk.


"Gigit apa memangnya?"


"Gigit ini, pakai itu." Jawab daddy Kenzo sambil membawa tangan mommy Vanya untuk menunjukkan maksudnya.


"Maaass!"


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Cerita El tidak akan sebanyak cerita orang tuanya ya.


Mumpung masih hari rabu, bisa minta tolong bantu vote. Klik like dan komen juga buat othor. Apalagi jika kirimkan bunga, wuiihh suenengnya. 🤭