
"Siapa? Kenzo Julian, sepertinya aku pernah mendengar nama itu." Kata mbak Erika mengingat-ingat dimana dia mendengar nama itu.
Vanya menarik kedua ujung bibirnya. Dia tersenyum saat melihat mbak Erika tengah mengingat-ingat nama suaminya.
"Eh, aku ingat." Kata mbak Erika setengah berteriak. "Sepertinya nama itu sama dengan nama pemesan kue kita waktu ada acara nikahan adikku, benar nggak?" Tanya mbak Erika.
Vanya tersenyum dan mengangguk mengiyakan. Namun, dia tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi kepada mbak Erika. Setelahnya, mereka sempat mengobrol sebentar sebelum akhirnya Vanya pamit untuk ke kampus. Vanya ada jadwal kuliah jam sepuluh hari itu.
"Saya minta maaf Mbak, saya tidak bisa menerima niat baik Rasha." Kata Vanya sambil melangkah menuju pintu. "Saya juga berterima kasih karena mbak Erika masih mau menerimaku disini." Lanjut Vanya.
"Tenang saja Van, untuk Rasha nanti akan aku sampaikan sebaik mungkin. Sedangkan untuk bekerja disini, kamu bisa datang ke sini kapan pun kamu mau." Jawab mbak Erika.
Vanya tersenyum bahagia. Vanya sangat beruntung dia bisa berkenalan dengan orang sebaik mbak Erika. Setelahnya, Vanya segera pamit untuk berangkat kuliah.
Hari itu, dia ada jadwal kuliah hingga jam tiga sore. Mbak Erika memberi ijin Vanya untuk tidak bekerja selama satu minggu. Mbak Erika mengerti jika Vanya masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan status barunya saat ini.
Kegiatan perkuliahan Vanya berjalan dengan normal hari itu. Dia juga cukup lelah saat mendapat godaan dari dua orang sahabatnya, Fida dan Nabila.
Sore itu, Vanya hendak pulang dari kampus setelah jadwal kuliahnya habis. Dia berjalan menuju tempat parkir kendaraannya. Saat hendak memakai helm, ponsel Vanya yang berada di dalam tasnya berbunyi. Dia segera mengambil dan melihat siapa penelepon itu. Setwlah memastikan id penelepon, Vanya segera menyambungkan panggilan telepon tersebut.
"Hallo Mas." Sapa Vanya saat panggilan telepon sudah terhubung. Ya, Kenzo lah yang saat itu tengah meneleponnya.
"Kamu dimana?" Tanya Kenzo.
"Masih di kampus Mas, ini di parkiran. Sudah mau pulang kok. Mas Ken lulang jam berapa?" Tanya Vanya.
"Jam lima. Segera pulang, jangan mampir-mampir." Pesan Kenzo.
"Ini mau mampir ke minimarket dekat komplek Mas. Kemarin belum sempat belanja banyak bahan makanan. Aku mau masak buat nanti malam." Kata Vanya.
Terdengar suara Kenzo menghembuskan nafas beratnya sebelum menjawab.
"Iya, jangan lama-lama. Belanja seperlunya saja." Kata Kenzo.
"Iya. Mas Ken hati-hati jika pulang nanti." Jawab Vanya.
Setelah saling berpamitan, Vanya segera menutup sambungan telepon tersebut dan segera mengendarai motornya menuju minimarket dekat komplek. Tidak banyak belanjaan yang Vanya beli. Seperti kata Kenzo, dia hanya membeli seperlunya saja. Dia tidak mau terlalu lama di sana sehingga suaminya akan pulang terlebih dahulu ke rumah.
Setelah mendapatkan semua barang belanjaannya, Vanya segera pulang. Vanya segera meletakkan barang belanjaannya di atas bar yang ada di dapur. Setelahnya, dia segera berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
Sekitar dua puluh menit kemudian, Vanya terlihat sudah lebih segar. Dia segera meraih ponselnya dan berjalan menuju dapur untuk memasak makan malam. Hari itu, Vanya memilih memasak sup ayam yang sederhana. Dia terlihat sangat terampil mengolah bumbu dan menggunakan peralatan dapur. Mungkin karena dia sudah lama hidup di kosan, jadi Vanya sudah akrab dengan semua itu.
Saat Vanya tengah berada di dapur, terdengar suara mobil Kenzo berhenti di garasi rumah mereka. Tak berapa lama kemudian, Kenzo terlihat masuk ke dalam rumah dan menghampiri Vanya yang tengah berada di dapur.
Vanya yang mendapat perlakuan dadakan dari Kenzo langsung mematung. Dia sama sekali tidak menyangka jika Kenzo akan melakukan hal seperti itu. Vanya hanya berpikir mungkin Kenzo akan memberikan kecupan di keningnya seperti pada sinetron ditelevisi atau novel-vovel yang dia baca. Namun, ternyata dia salah.
"Iihhh mas Kenzo apaan sih main cium-cium segala." Kata Vanya menahan malu. Ya, dia masih merasa malu melakukannya meskipun mereka sudah menikah.
"Biarin, sama istri sendiri ini." Jawab Kenzo dengan entengnya sambil mengambil air minum.
"Biasanya juga cium kening Mas." Kata Vanya tidak terima.
Kenzo menghentikan kegiatan minumnya. Dia menoleh menatap Vanya yang sudah kembali melanjutkan kegiatan memasaknya.
"Aku tidak mau yang biasa. Aku mau yang luar biasa." Jawab Kenzo sambil meletakkan gelas minumnya di atas meja bar. Dia berjalan mendekati Vanya yang tengah berdiri di dekat kompor.
Vanya yang menyadari bahaya mengancamnya langsung mengacungkan spatula yang di bawanya kepada Kenzo.
"Awas jika mas Ken berani macam-macam. Aku belum selesai memasak ini. Jangan ganggu ih." Kata Vanya masih mengacungkan spatulanya.
Kenzo mendengus kesal, namun menghentikan langkahnya. Dia menatap tajam ke arah Vanya.
Vanya yang melihatnya bukannya takut malah tertawa.
"Nggak usah ngelawak deh Mas, sana mandi dulu. Semua sudah aku siapkan. Baju ganti juga sudah ada di sana." Kata Vanya sambil kembali melanjutkan acara masaknya.
Kenzo menghembuskan nafasnya dengan kesal. Dia segera meraih jas yang tadi diletakkan di atas meja bar dan berjalan menuju kamar untuk membersihkan diri. Vanya yang melihat hal itu hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Dia berharap kehidupan barunya akan berubah menjadi lebih berwarna setelah menikah.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Maaf slow up yang ini, ada trouble di novelku satunya, jd fokus di sana dulu 🙏