
"Kukira mas Ken akan memintaku untuk tidak memakai b*a nantinya. Eh, tapi malah dibelikan b*a sebanyak ini." Kata Vanya sambil menatap kantong-kantong belanjaan tersebut dengan tatapan ngeri.
"Eh, bu-bukan begitu maksudnya." Kata Kenzo gugup. Dia mulai merutuki kebodohannya setelah mendengar perkataan Vanya.
"Lalu, apa maksud mas Ken dengan membeli sebanyak ini. Buat apa?" Tanya Vanya.
"I-itu tadi karena cepat-cepat. Aku bingung memilihnya, jadi aku beli semuanya." Jawab Kenzo sambil nyengir. Vanya langsung menoleh menatap wajah suaminya.
"Tapi nggak segini banyaknya juga Mas, cukup dua atau tiga. Lha ini lebih dari lima puluh sepertinya." Kata Vanya.
"Eh, sebenarnya jumlah total ada tujuh puluh delapan buah. Hehehe." Jawab Ken.
"Hhaaa, sebanyak itu?" Vanya benar-benar terkejut mendengarnya. Dia bingung mau diapakan semua pakaian dalam itu. Kalau dipakainya sendiri juga tidak mungkin, terlalu banyak.
"Maaf, aku tidak terbiasa membeli barang-barang seperti itu." Kata Kenzo dengan wajah bersalahnya.
Vanya yang melihatnya hanya bisa menghembuskan nafas beratnya. Dia sendiri juga yang salah telah meminta suaminya membelikan barang pribadinya. Vanya berjalan mendekati Kenzo yang saat ini tengah berdiri di samping tempat tidur. Dia memberanikan diri untuk memeluk tubuh suaminya dan mendongak menatap wajah Kenzo.
"Seharusnya aku yang meminta maaf. Maafkan aku Mas. Aku yang salah telah meminta mas Ken untuk membelikan barang-barang pribadiku." Kata Vanya sambil tersenyum hangat.
Kenzo yang melihatnya merasa sangat gemas. Dia segera menarik tubuh Vanya hingga benar-benar menempel pada tubuhnya.
"Tidak apa-apa. Mulai sekarang, aku harus terbiasa melakukannya." Jawab Kenzo sambil tersenyum hangat.
Senyum Vanya pun semakin lebar saat mendengar jawaban sang suami. Kenzo pun semakin dibuat gemas dengan tingkah sang istri. Dia semakin mendekatkan wajahnya pada Vanya.
"Mulai sekarang, kamu juga harus terbiasa dengan hal ini!" Kata Kenzo penuh penekanan.
Belum sempat Vanya bertanya apa maksud Kenzo, bibirnya sudah dibungkam oleh bibir Kenzo. Vanya sempat terkejut saat mendapat serangan tiba-tiba dari Kenzo. Namun, secepatnya dia langsung tersadar dan mulai membalas perlakuan Kenzo. Tangan Vanya pun tak tinggal diam. Kini, tangan Vanya sudah berpindah tempat. Entah sejak kapan kedua tangannya sudah melingkar pada leher Kenzo.
Kenzo mulai menggerakkan bibirnya agar Vanya mengikuti irama yang diciptakannya. Suara dec*ap*an bibir mereka yang bercampur saliva pun terdengar bersahutan dengan suara deburan ombak. Kenzo mulai menggerakkan tangannya ke bagian tubuh Vanya dan mulai mencari sesuatu yang mulai membuatnya candu.
Hhhmmmpppphhhh eeuughhhhh mmmmppphhhhh eeuuugghhhhhh.
Suara lenguhan Vanya yang sempat tertangkap oleh telinga Kenzo justru membuatnya semakin bersemangat. Kali ini, tangan kanan Kenzo bahkan sudah mulai meraih resleting pakaian Vanya dan mulai menariknya turun. Sementara tangan kirinya masih menekan tengkuk Vanya.
Namun, Vanya segera tersadar saat Kenzo mulai memindahkan bibirnya dari bibir Vanya dan mulai menyusuri bahu dan leher Vanya menggunakan ujung hidung dan bibirnya.
Vanya segera menangkap wajah Kenzo yang mulai turun pada bagian depan dadanya. Dia segera membawa wajah sang suami hingga menghadap wajahnya dengan sempurna.
"Maaf Mas, aku sedang datang bulan. Aku nggak mau mas Kenzo semakin tersiksa nanti." Kata Vanya.
Kenzo yang tersadar pun langsung melepaskan pelukannya pada tubuh Vanya dan segera menjauhkan diri. Kenzo melihat ke bawah dan hanya bisa mendengus kesal saat ular kobra tidak bisa mengobrak abrik rumahnya. Dia juga merutuki dirinya sendiri karena sempat lupa dengan hal itu.
Vanya yang menyadari jika suaminya tengah kesal hanya bisa tersenyum sambil memberikan kecupan singkat pada pipi Kenzo.
"Maaf Mas, aku nggak bermaksud untuk membuat mas Ken tersiksa." Kata Vanya sambil membenahi pakaiannya.
Kenzo melihat Vanya sekilas sebelum kembali berkata.
"Keluarlah sebentar, aku akan berusaha menjinakkan si king. Setelah itu, segera bersiap-siap kita pulang hari ini." Kata Ken.
"King?" Tanya Vanya bingung.
"Iya, perseneling alamiku."
Vanya yang masih cengo hanya melongo sambil membulatkan matanya. Kenzo yang merasa Vanya masih dia tak bergerak langsung menoleh menatap wajah Vanya.
"Kenapa masih di sini? Mau bantu aku? Siapa tahu bisa jadi pawang si king." Kata Kenzo.
Vanya yang paham dengan maksud Kenzo langsung mendengus kesal sambil menghentakkan kaki berjalan keluar kamar. Dia tidak mungkin masih berada di dalam kamar sementara Kenzo akan menjinakkan si king di dalam kamar mandi, bisa-bisa akan terasa seperti melihat live show nanti.
Vanya mendudukkan diri di balkon kamar sambil membuka beberapa akun sosmednya. Tiba-tiba ada sebuah pesan masuk ke dalam aplikasi pesan onlinenya. Mbak Erika, itulah nama yang tertera pada layar ponselnya. Vanya segera membuka pesan tersebut.
11.04
Sehat Van?
Lagi sibuk banget ya, lama nggak ke eSTe?
^^^11.04^^^
^^^Alhamdulillah sehat, mbak Erika gimana?^^^
^^^Nggak juga sih mbak. ^^^
^^^Tapi lagi ada yg aku kerjakan.^^^
^^^Maaf juga ijinnya lama 🙏^^^
^^^Ada apa mbak?^^^
11.06
Oh, syukur deh.
Kirain sakit, habisnya lama banget. Hehehe.
Vanya mengernyitkan dahinya. Tumben mbak Erika mau minta tolong. Batin Vanya.
^^^11.08^^^
^^^Boleh mbak, apa yang bisa saya bantu?^^^
Vanya masih melihat tanda sedang mengetik di sana. Dia menunggu balasan dari mbak Erika harap-harap cemas. Entah mengapa perasaannya kali ini tidak enak. Biasanya, jika mbak Erika meminta bantuannya dia akan biasa saja. Namun, kali ini sepertinya berbeda.
11.13
Sebenarnya begini Van, waktu acara di nikahannya adik mbak kemarin, ada seseorang yang terus memperhatikan kamu sejak pagi hari. Sepertinya dia tertarik sama kamu. Dia terus menunggu kamu hingga semua pekerjaan yang kamu kerjakan selesai. Namun, kamu bahkan tak kunjung kembali hingga acara selesai. Alhasil dia membujuk mbak untuk menghubungi kamu. Hehehehe. 😂
Vanya merasa kaget saat membaca pesan pada ponselnya. Bibir dan matanya membulat sempurna. Apa maksudnya ini?
^^^11.15^^^
^^^Maksudnya mbak?^^^
11.17
Rasha. Dia keponakan mbak. Kamu juga mengenalnya kan?
Dia yang meminta mbak untuk menghubungi kamu.
Deg
Deg
Deg
Vanya begitu terkejut saat membaca pesan terakhir itu. Rasha? Bagaimana mungkin. Laki-laki yang selalu menatapnya dengan tatapan mata tajam dan aneh itu menyimpan perasaan untuknya. Vanya segera menggelengkan kepalanya.
Cukup lama Vanya berdiam diri tanpa membalas pesan terakhir mbak Erika. Hingga ponselnya kembali bergetar dengan pesan baru.
11.23
Van? Kamu masih disana kan?
Maaf jika mbak menyinggungmu.
Vanya segera tersadar dari lamunannya. Segera dia mengetikkan balasan untuk mbak Erika.
^^^11.24^^^
^^^Ah iy, Mbak.^^^
^^^Maaf tadi sedang membereskan sesuatu.^^^
^^^Ehm, aku akan menjelaskan sesuatu kepada mbak Erika nanti.^^^
^^^Tapi maaf, tidak bisa sekarang 🙏^^^
11.26
It's ok Van.
Santai saja. Tidak usah dijadikan beban.
Maaf juga mengganggu acara kamu.
^^^11.27^^^
^^^Nggak apa-apa kok Mbak.^^^
^^^Tidak mengganggu 🥰^^^
Setelahnya, Vanya meletakkan ponselnya di atas meja. Pikirannya sudah mulai dipenuhi banyak hal hingga sebuah suara mengagetkannya.
"Kamu selingkuh?"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Lhah kok?
Mohon jangan lupa dukungannya ya 🤗