
Setelah memeriksakan kandungan Dena di rumah sakit, kini keduanya sudah berada di rumah. Rean dan Dena duduk berdampingan di atas sofa ruang keluarga. Pikiran mereka masih cukup terkejut setelah mendengar berita membahagiaan tentang kehamilan Dena.
"Yang, jadi disini ada tiga calon anak kita?" Rean menoleh menatap wajah Dena sambil mengusap-usap perut sang istri dengan lembut. Kedua matanya bahkan sudah terlihat berkaca-kaca.
Dena yang melihat hal itu, hanya bisa menganggukkan kepala.
"Iya, Mas. Ada tiga calon anak kita disini. Apa kamu bahagia?" Dena menatap manik sang suami dalam-dalam.
Rean semakin berkaca-kaca. Dia mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali.
"Iya, Yang. Aku bahagia. Aku bahagia sekali. Aku sama sekali tidak menyangka jika kita akan mendapatkan anugrah seperti ini. Terima kasih, Yang. Terima kasih." Rean menarik Dena ke dalam pelukannya. Dia memberikan kecupan bertubi-tubi pada seluruh wajah sang istri untuk mengungkapkan rasa bahagianya.
Hari itu juga, Rean dan Dena memberitahukan kabar bahagia tersebut kepada seluruh keluarga besarnya. Bisa ditebak, siapa yang paling heboh? Ya, tentu saja mama Revina. Mama Revina yang sudah menunggu lama untuk mendengar kabar kehamilan Dena, langsung datang ke rumah Rean. Bisa dipastikan kehebohan apa yang akan terjadi di sana.
"Ma, sudah dong. Mama nggak kasihan sama Dena? Dari tadi mama mendekapnya begitu erat. Kasihan calon anak-anak Rean, Ma. Mereka bisa engap." Rean masih mendengus kesal saat sang mama tidak melepaskan sang istri. Sejak kedatangannya ke rumah Dena, mamanya itu sudah memonopoli Dena. Mereka sibuk bercerita kesana kemari di ruang tengah. Sementara Rean, dia yang harus menjalankan perintah sang mama kesana kemari.
Mama Revina mendengus kesal sambil menoleh ke arah Rean.
"Memangnya anak kamu sudah bisa merasakan? Ingat, Re, mulai sekarang, kalian harus puasa untuk melakukan adegan ranjang malam-malam. Ingat, ada tiga calon anak yang harus dijaga dengan baik. Jangan membuat rumah mereka kesempitan dengan kamu memaksa bapaknya ikut-ikutan mendesak rumah mereka."
Dena merasa malu saat mendengar perkataan sang mertua. Namun, tidak demikian dengan Rean. Dia justru terlihat kesal setelah mendengar perkataan mamanya tersebut.
"Apa-apaan itu, Ma. Mana mungkin aku berpuasa? Bisa pusing semua kepalaku." Rean hanya bisa mendengus kesal sambil meletakkan gelas yang dibawanya.
Mama Revina mencebikkan bibir saat menatap tajam ke arah sang putra.
"Memangnya kamu mempunyai berapa kepala, Re?"
Dengan santainya Rean berlalu ke dapur sambil menjawab pertanyaan sang mama.
"Dua."
Dena sudah sangat malu mendengar jawaban sang suami.
"Pantas saja istri kamu jadi ketagihan. Kamu bisa gantian," jawab mama Revina.
***
Hari-hari berlalu, kehamilan Dena sudah mulai memasuki minggu kelima belas. Mungkin karena hamil kembar, perut Dena sudah mulai terlihat lebih besar daripada perut wanita yang hanya hamil satu bayi.
Selama awal-awal kehamilan, mami Dena lebih sering menemani sang putri di rumahnya. Dena masih mengajar di kampus selama satu semester ini. Rean juga mengizinkan asal sang istri tidak terlalu capek. Dia juga tidak mau terlalu membuat Dena stress dengan melarangnya tidak melakukan apapun. Toh, Dena juga tidak mengalami keluhan apapun dan gejala morning sickness. Justru, Rean yang mengalami gejala tersebut.
Hingga kini usia kehamilan Dena memasuki bulan keempat, Rean masih terus-terusan mengalami morning sickness. Dia bahkan tidak mampu bangun pagi sebelum matahari menampakkan diri. Beruntung saat itu Rean hanya tinggal mengerjakan skripsinya. Jadi, dia tidak harus pergi ke kampus.
Hari itu, Rean memang ada jadwal menemui dosen pembimbing skripsinya. Seperti biasa, sejak pagi dia masih tidak dapat beranjak dari tempat tidurnya. Perutnya masih terasa mual. Rean bisa sarapan setiap hari sekitar pukul sepuluh pagi.
Dena beranjak menemui sang suami di dalam kamar. "Mas, apa perlu aku bilang ke Pak Bahar jika kamu minta dijadwalkan bimbingan ulang?"
Dena masih mengusap-usap kepala Rean yang saat ini tengah bersandar pada pangkuannya. Rean suka sekali tiduran di pangkuan Dena dengan sesekali mengusap dan menciumi perut sang istri yang sudah mulai membuncit tersebut.
Rean menggelengkan kepala sambil masih memejamkan mata. "Nggak usah, Yang. Janjian juga masih jam sebelas."
"Tapi kamu masih mual begini, Mas?"
"Nggak apa-apa." Rean menggerak-gerakkan pipinya hingga membuat baju rumahan Dena menjadi sedikit terangkat.
Menyadari hal itu, Dena merasa sedikit terancam. Dia tidak mau terpancing dengan ulah Rean. Jika sampai itu terjadi, Dena pasti tidak akan mampu menahan diri lagi. Dia pasti akan menyerang Rean. Ya, selama hamil, Dena memang selalu bersemangat saat melakukan hal itu dengan sang suami. Mendapat godaan sedikit saja, Dena pasti akan langsung menyambutnya dengan senang hati.
Lalu, apakah Rean keberatan? Jawabannya…
\=\=\=
Sambil nunggu up, silahkan mampir ke cerita othor yang lain ya. Bagi yang belum mampir di cerita Zee, silahkan kepoin di "Mendadak Istri 2". 🤗