
Kini usia pernikahan Bian dan Revina sudah memasuki satu minggu. Revina juga sudah mulai bekerja kembali. Para karyawan tempat Bian dan Revina bekerja masih belum ada yang mengetahui perihal pernikahan Bian dan Revina. Bahkan, sahabat Revina di kantor, Erin, juga belum mengetahui perihal pernikahan Revina. Mereka hanya berkomunikasi saat lebaran. Setelahnya, mereka kembali dengan aktivitas liburannya.
Pagi itu, bu Neni mengumpulkan semua staf dari divisi perencanaan. Beliau ingin memastikan semua pekerjaan lapangan sudah siap. Revina yang saat itu duduk di sebelah Angga menyimak penjelasan bu Neni dengan baik. Namun, hal berbeda justru diperlihatkan oleh Angga. Laki-laki itu tak berhenti menoleh menatap ke arah Revina.
Menyadari tingkah Angga, Revina pun langsung mendengus kesal.
"Ada apa sih, Ngga? Ngapain lihat-lihat seperti itu? Naksir? Sorry, aku enggak." Kata Revina sambil berbisik ke arah Angga.
Mendengar perkataan Revina, Angga hanya bisa mendengus kesal. Sebenarnya, dia ingin bertanya sesuatu kepada Revina. Namun, kondisi saat itu tidak memungkinkannya untuk bertanya lebih lanjut.
Rapat dadakan tersebut berakhir hingga menjelang makan siang. Angga yang berjalan mengekori Revina pun semakin mempercepat langkahnya tatkala melihat Revina ingin segera kembali ke kubikelnya.
"Ada apa sih, Ngga?" Tanya Revina. Sebenarnya, Revina sudah tahu jika Angga ingin menanyakan sesuatu kepadanya. Hanya saja, Revina belum mengetahui apa itu
"Sepertinya, ada yang beda sama kamu, Rev. Tapi, apa ya?" Kata Angga sambil mengamati Revina dari ujung kaki hingga ujung kepala. Bahkan, hal itu dilakukannya beberapa kali.
Namun, tingkah Angga langsung berubah saat mendengar suara deheman dengan keras.
"Eheemmmm."
Tidak hanya Angga yang terkejut mendengar suara deheman tersebut. Namun, Revina juga sama terkejutnya. Angga dan Revina langsung berbalik dan mendapati seseorang tengah berdiri dengan tatapan tajamnya tak jauh dari kubikel Revina.
Kedua bola mata Revina dan Angga sama-sama membesar saat menyadari siapa yang ada di sana.
"Eh, pa-pak Bian. Selamat siang." Sapa Angga terburu-buru. Ya, laki-laki yang berdiri tak jauh dari Angga dan Revina adalah Bian.
"Siang."
Baik Revina dan Bian hanya bisa menelan salivanya dengan keras. Revina juga merasakan ada yang aura yang tidak bersahabat dengan suaminya tersebut.
"Ada yang bisa kami bantu, Pak?" Tanya Revina.
Bian menatap wajah Angga dan Revina bergantian sebelum menjawab pertanyaan sang istri.
"Segera siapkan file perencanaan untuk proyek di Bali. Setengah jam lagi, kalian ikut aku bertemu dengan pak Reon." Kata Bian masih dengan ekspresi datarnya.
"Eh, pak Reon?" Tanya Angga sedikit terkejut.
Angga langsung menoleh menatap Revina setelah Bian pergi dari sana. Dia masih mengamati ekspresi Revina. Menyadari jika Angga tengah memperhatikannya, Revina pun segera menoleh.
"Ada apa lagi?" Tanya Revina sambil mendudukkan diri di kursinya.
"Kenapa sejak tadi pak Bian memperhatikan kamu, Rev?" Tanya Angga.
"Ya mana aku tahu. Kenapa tadi tidak kamu tanya saja sendiri?" Jawab Revina sambil menyalakan komputernya. "Eh, sebentar. Tadi pak Bian menyebut nama pak Reon. Siapa itu?" Tanya Revina.
"Oh, kamu belum tahu. Pak Reon adalah daddynya pak Kaero. Selama ini, GP memang dihandle oleh bu Naumi. Namun, setelah menikah dengan pak Reon, kebanyakan memang pak Reon ikut membantu." Jawab Angga.
Revina yang baru mengetahui hal itu hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelahnya, dia kembali menekuri komputernya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Revina mengabaikan Angga yang masih saja nyerocos tanpa henti.
Sekitar dua puluh menit kemudian, Revina sudah menyelesaikan pekerjaannya. Saat hendak beranjak dari kubikelnya, Revina melihat sebuah notifikasi pada ponselnya. Dia segera membuka pesan yang berasal dari Bian.
Jangan terlalu dekat dengan Angga. Jaga jarak, jaga mata dan jaga hati ~ Bian.
Revina tersenyum setelah membaca pesan dari sang suami. Sebelum dia membalas pesan tersebut, terdengar angga sudah bersuara di dekatnya. Rupanya, Angga sempat membaca ponsel Revina sekilas.
"Dari bojo. Apa itu bojo? Warna hijau maksudnya?"
"Lhah,"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Terima kasih untuk yang masih sabar menunggu. In sha Allah nanti di usahakan up lagi jika sudah selesai ngetik.