
Rean terus saja menarik tangan Cello agar segera menjauh dari si kutilang dadar tersebut. Tinggi badan Rean yang sudah hampir sama dengan Cello, membuatnya tak kesulitan mensejajarkan langkah kakinya.
"Kak, buruan ayo!" Teriak Rean saat melihat sang kakak ipar berhenti sebentar untuk mengambil handuknya.
"Iya, iya."
Namun ternyata, langkah kaki si kutilang dadar itu benar-benar cepat.
Tap tap tap tap tap.
Tiba-tiba saja si kutilang dadar tersebut sudah berada di samping Rean. Rean sedikit terlonjak kaget saat mendapati tangan kirinya sudah digelendotin oleh si kutilang dadar tersebut.
"Reaannn, kenapa buru-buru, sih. Kita kan jarang banget ketemu."
Rean langsung berusaha melepaskan belitan tangan si kutilang dadar tersebut.
"Aiisshhh, lepasin nggak?!"
"Iihhhh, masih jutek saja. Aku kan masih kangen, tau. Kan sudah lama banget kita nggak ketemu." Kata si kutilang dadar tersebut sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kangen, kangen. Emang situ siapa?" Kata Rean sambil mendengus kesal. Setelahnya, dia menoleh menatap Cello dan mengajaknya segera pulang. "Kak, ayo pulang. Engap lama-lama disini." Kata Rean sedikit berteriak.
Si kutilang dadar yang melihat arah pandang Rean langsung menoleh menatap ke arah Cello. Seketika wajahnya berbinar bahagia saat melihat Cello berjalan mendekat ke arahnya.
"Waahh, ada bule nih, kenalan dong." Kata si kutilang dadar sambil berjalan mendekati Cello.
Namun naas, si kutilang dadar tidak memperhatikan undakan trotoar yang ada di depannya. Seketika tubuhnya terhuyung hingga menubruk bahu Cello. Beruntung Cello segera memegangnya sehingga si kutilang dadar tersebut tidak sampai mencium aspal.
"Aduuuhh, maaf, maaf. Nggak sengaja." Kata si kutilang dadar sambil membenahi rambutnya yang berantakan.
Rean yang melihat hal itu hanya memutar bola matanya dengan jengah. Dia sudah bosan dengan segala tingkah si kutilang dadar tersebut.
"Tidak apa-apa. Lain kali hati-hati." Kata Cello.
"Iya. Eh, kenalkan, aku Jennifer, kamu bisa panggil aku Jennie." Kata si kutilang dadar sambil mengulurkan tangannya.
Belum sempat Cello menyambut uluran tangan tersebut, Rean sudah lebih dulu menarik lengan Cello agar menjauh dari si kutilang dadar tersebut.
"Jangan ganggu kakak ipar gue, atau lo akan gue laporin ke kakak lo!" Ancam Rean sambil beranjak pergi. Sementara Cello segera mengikuti langkah kaki Rean dan meninggalkan si kutilang dadar tersebut.
"Siapa sih itu, Re?" Tanya Cello penasaran.
"Itu salah satu cewek yang aku ceritakan itu, Kak. Dia benar-benar cewek nggak tau malu." Kata Rean kesal.
Kening Cello berkerut saat mendengar jawaban Rean. Dia masih belum mengerti apa maksud perkataannya tersebut.
"Maksudnya apa, Re?"
"Dia itu suka caper, Kak. Ya, mungkin karena dia dari keluarga broken home, jadi kurang banget perhatian. Tapi, tingkahnya itu caper banget. Nggak hanya anak muda yang digodain, tapi orang tua juga sering digodain. Bahkan, dulu papa sering banvet digodain. Hingga mama langsung mencak-mencak dan mendatangi rumah si kutilang dadar itu."
"Benarkah?"
"Iya. Dia itu pintar sekali drama, Kak. Jadi, kalau kakak kesini, harus lebih hati-hati jika sendirian. Bisa-bisa di babat oleh si kutilang dadar itu."
Cello hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya setelah mendengar perkataan Rean. Dia harus berhati-hati agar tidak terkena masalah nantinya.
Tak berapa lama kemudian, Cello dan juga Rean sudah sampai di rumah kakek dan nenek Shanum. Mereka melihat pak RT juga baru saja hendak pulang. Cello dan juga Rean sempat menyapa pak RT sebelum masuk ke dalam rumah. Mereka bertemu dengan Shanum yang baru saja keluar dari arah dapur.
"Eh, sudah pulang?"
"Sudah, Kak. Sudah lapar ini. Sarapannya sudah siapa apa belum?" Tanya Rean sambil mengusap-usap perutnya.
"Sudah. Mandi dulu gih, setelah itu sarapan." Kata Shanum yang segera diangguki oleh Rean dan juga Cello.
Namun, saat Cello hendak beranjak menuju kamarnya, tangannya ditarik oleh Shanum hingga membuatnya menghentikan langkah. Cello berbalik dan menatap wajah Shanum yang kini tengah menatapnya dengan tajam.
"Ada apa?" Tanya Cello bingung.
"Kamu habis ngapain sih, Mas?"
"Eh, habis lari pagi lalu basket. Memangnya kenapa?"
"Yakin hanya main basket, memasukkan bola ke ring?" Tanya Shanum dengan pandangan menelisik.
"Iya. Ada apa sih?"
"Yakin tidak main perempuan? Itu kok bisa-bisanya ada lipstik nempel di bahu kamu. Jangan-jangan nggak hanya nempel di bahu saja, tapi juga ada di tempat lain." Kata Shanum sambil mendengus kesal.
Seketika Cello menatap ke arah bahu yang ditunjuk oleh Shanum. Dan benar saja. Ada bekas lipstik yang menempel di sana. Sudah dipastikan itu bekas si kutilang dadar tadi. Cello hanya bisa menghembuskan napas beratnya.
"Ini tadi ada orang yang nabrak waktu di jalan, Yang," jelas Cello.
"Yakin? Nggak bohong?"
"Hhhhh, jika kamu nggak percaya, ayo ikut mandi dan periksa semua bagian tubuhku apakah ada bekas lipstik lainnya." Kata Cello sambil menarik lengan Shanum.
Belum sempat Shanum menolak ajakan Cello, terdengar ledekan Rean yang memang masih berdiri tak jauh dari mereka.
"Ccckkk, mau minta mandi bareng saja kebanyakan drama. Bilang aja langsung kenapa sih, Kak."
"Berisik! Iri bilang dong!"
"Dong,"
•••
Jangan lupa tinggalkan jejak untuk othor ya. Terima kasih.