The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Part M2.38



Angga mendengus kesal setelah mendengar perkataan Revina. Dia menatap Revina dengan tatapan tajamnya.


"Sembarangan. Aku bukan pedofil, ya." Gerutu Angga sambil meletakkan ponselnya. Rupanya dia sudah selesai berkirim pesan dengan sang pacar.


"Lalu, jika bukan pedofil apa itu? Masa iya kamu yang usianya dua puluh empat tahun suka sama anak SMA, yang benar saja." Cibir Revina.


"Dia sudah kelas dua belas ya. Ini menunggu kelulusan." Gerutu Angga. Dia masih terlihat kesal dengan Revina.


"Iya deh, iya. Maaf bosku, jangan sewot gitu ih. Aku kan hanya bercanda." Bujuk Revina sambil tersenyum dan menaik turunkan alisnya.


Angga yang melihat tingkah Revina hanya bisa mendengus kesal. Belum sempat dia menjawab perkataan Revina, bu Neni sudah menghampiri kubikelnya.


"Angga, kamu dan Revina segera berangkat sekarang. Kalian ke Als Corp dulu jemput pak Bian. Beliau sedang berada di sana." Kata bu Neni.


Sontak saja Angga dan Revina terkejut dengan perkataan bu Neni. Apa yang pak Bian lakukan di perusahaan otomotif tersebut? Batin mereka. Bu Neni yang mengerti kebingungan Angga dan Revina pun segera menjelaskan.


"Als Corp itu perusahaan otomotif di bawah pimpinan pak Kaero. Sedangkan GP (Giant Property, tempat Revina bekerja) ini, dibawah pimpinan bu Naumi Ayushita, maminya pak Kaero.. Berhubung saat ini beliau sedang cuti panjang, pak Kaero harus menghandle perusahaan ini juga." Jelas bu Neni.


Revina dan Angga yang sudah mengerti pun hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelahnya, mereka segera bersiap-siap untuk pergi ke perusahaan Kaero.


"Waahh, ini besar banget. Aku baru kali ini masuk ke Als Corp. Ini perusahaan otomotif terbesar kedua di Asia Tenggara setelah GC." Kata Angga sambil masih mengedarkan pandangannya di sekitar lobi.


"Iya. Aku juga sudah pernah ke GC beberapa kali. Dan ini nggak kalah besar dengan GC." Jawab Revina.


"Eh, kamu pernah ke GC?" Tanya Angga penasaran.


"Hu um. Aku kenal dengan putra CEOnya." Jawab Revina.


"Eh, serius? Siapa? Aku penasaran siapa sebenarnya orang-orang dibalik GC ini. Mereka jarang banget tampil di depan publik." 


"Ada, deh. Nggak mungkin juga aku nyebarin informasi dong." Jawab Revina sambil tersenyum nyengir.


Angga hanya bisa mencebikkan bibirnya. Setelahnya, mereka langsung menuju resepsionis untuk menanyakan keberadaan pak Bian.


"Selamat pagi dan selamat datang di Als Corp. Ada yang bisa saya bantu?" Sapa seorang resepsionis disana.


"Oh selamat pagi, Mbak. Bisa kami bertemu dengan pak Bian? Kami ada janji dengan beliau." Jawab Revina.


"Pak Fabian Wira Atmaja?" Tanya resepsionis tersebut memastikan.


"Iya, benar."


"Baik, sebentar akan saya sambungkan ke ruangan sekretaris."


Angga dan Revina menunggu resepsionis tersebut. Tak berapa lama kemudian, dia terlihat sudah selesai menelepon.


"Pak Fabian akan segera turun. Silahkan Anda berdua menunggu di ruang tunggu." Kata resepsionis tersebut.


Angga dan Revina mengucapkan terima kasih dan berjalan menuju ruang tunggu. Sekitar sepuluh menit kemudian, terlihat Bian sudah keluar dari lift. Dia berjalan untuk menghampiri Angga dan juga Revina. Angga dan Revina segera berdiri begitu Bian sudah berada di dekat mereka.


"Maaf menunggu lama." Kata Bian setelah berada di depan Angga dan Revina.


"Tidak apa-apa, Pak. Kita berangkat sekarang?" Tanya Angga. Bian segera mengangguk mengiyakan.


Setelah itu, mereka segera berangkat menuju lokasi proyek terbaru. Revina ikut di mobil Angga, sementara Bian mengendarai mobilnya sendiri. Dia tidak suka menggunakan supir.


Sekitar satu jam perjalanan, mereka sudah sampai di lokasi. Bian langsung menemui para penanggung jawab proyek tersebut. Tentu saja bersama dengan Revina yang juga harus ikut menjelaskan. Sedangkan Angga sedang memeriksa bahan yang akan digunakan untuk pembangunan proyek tersebut.


Pertemuan tersebut berlangsung hingga menjelang istirahat siang. Setelah break, mereka kembali melanjutkan pertemuan tersebut. Menjelang pukul dua siang pertemuan tersebut baru selesai. Revina sudah terlihat sangat lelah sekali. Hari itu, dia benar-benar mengerahkan semua tenaga dan kemampuannya.


Setelah selesai, Bian dan Revina berjalan menuju tempat parkir. Mereka masih menunggu Angga yang entah berada dimana. Tak berapa lama kemudian, Angga terlihat datang dengan terburu-buru. Wajahnya terlihat panik dengan keringat memenuhi pelipisnya.


"Ada apa, Ngga?" Tanya Revina.


"Rev, ibuku pingsan di ruko. Sekarang di bawa ke rumah sakit. Aku harus segera kesana. Kamu nggak apa-apa pulang sendiri, kan?" Kata Angga dengan wajah paniknya.


"Iya, Ngga. Aku nggak apa-apa. Aku bisa naik taksi online kok. Kamu langsung saja ke rumah sakit."


"Iya, makasih." Jawab Angga. Setelahnya, dia beralih ke Bian. "Pak, saya minta izin pulang dulu. Saya harus ke rumah sakit." Kata Angga.


"Iya, nggak apa-apa. Kamu hati-hati." Jawab Bian.


Setelahnya, Angga langsung pergi ke mobilnya dan berangkat menuju rumah sakit tempat ibunya dirawat. Revina yang sudah melihat Angga pergi langsung menoleh menatap wajah Bian.


"Saya permisi pulang dulu, Pak." Kata Revina sambil mengangguk dan hendak beranjak pergi untuk memesan taksi online.


"Tunggu!" 


"Iya, Pak?"


"Kamu pulang bareng saya saja, tidak usah memesan taksi online." Kata Bian.


"Eh, apa tidak apa-apa, Pak?"


"Tidak apa-apa. Ayo."


Revina hanya bisa memandangi punggung Bian yang sudah berbalik dan berjalan menuju mobilnya. Bian yang menyadari Revina tidak bergerak pun menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Jika tidak mau ikut tidak apa-apa." Kata Bian.


"Eh, saya ikut, Pak." Jawab Revina sambil buru-buru menyusul Bian.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Semoga masih sabar menunggu. Terima kasih bagi yang sudah kasih like, komen dan vote. Othor merasa tidak sendirian 🤗