
Setelah daddy El dan juga mommy Fara pergi ke kamar, Cello segera mengajak Shanum ke kamar mereka. Shanum masih sesenggukan dalam dekapan Cello. Karena kesulitan berjalan, akhirnya Cello membopong Shanum menuju kamar tidur.
"Sssttt, Yang. Kenapa menangis lagi. Sudah, jangan menangis lagi. Sekarang aku temenin tidur." Kata Cello sambil menarik selimut Shanum dan memberikan kecupan pada pucuk kepala sang istri.
Shanum sedikit membuka kedua matanya yang sembab tersebut dan menatap wajah Cello lekat-lekat.
"Mas, kamu beneran nggak akan menikah lagi, kan?" Tanya Shanum. Ternyata dia masih saja kepikiran tentang video tadi.
"Enggak, Sayang. Mana mungkin aku menikah lagi. Seluruh hatiku bahkan sudah penuh sesak karenamu, mana mungkin muat jika dimasuki orang lain lagi." Kata Cello sambil mendekap tubuh Shanum dan memberikan kecupan-kecupan kecil di wajahnya.
Mendapat perlakuan seperti itu dari Cello, Shanum buru-buru mendorong dada sang suami. Dia menengadahkan wajahnya ke arah Cello.
"Aku gerah, Mas. Jauhan dikit, ih."
Cello yang mendengar perkataan sang istri langsung menganga.
"Kenapa sekarang protes jika gerah? Biasanya juga gerah bareng."
**
Keesokan harinya, Cello ikut daddy El ke kantor. Mereka sudah membuat janji dengan Zee untuk menemui orang kepercayaan daddy Ken. Cello yang sedang berjalan mengekori sang daddy untuk menuju ruangannya pun hanya bisa berdecak kesal. Pasalnya, sejak tadi dia sedang mengotak atik ponselnya. Dia merasa geram karena video pembicaraannya dengan Danisha benar-benar sudah beredar di kalangan mahasiswa.
Daddy El yang menyadari tingkah kesal putranya pun langsung menghentikan langkah kakinya. Dia menoleh menatap Cello yang berjalan sedikit lambat di belakangnya.
"Ada apa lagi sih, Cell?" Tanya daddy El.
"Ini, Dad. Video yang semalam sudah menyebar di kalangan mahasiswa. Bahkan, video tersebut sudah diposting oleh beberapa orang di akun media sosialnya. Jika tidak segera dibersihkan, aku takut masalah ini akan semakin meluas."
Daddy El mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Dia juga memikirkan hal yang sama seperti Cello.
"Nanti siang kita akan bertemu dengan Zee. Kita bisa mencari solusi terbaik untuk menyelesaikannya."
"Iya, Dad."
Setelahnya, daddy El dan juga Cello segera melanjutkan langkah kakinya menuju ruang kerja daddy. Di sana, mereka sudah ditunggu oleh asisten pribadi daddy El. Siapa lagi jika bukan Fajar.
"Ada, Pak. Tiga puluh menit lagi meeting dengan beberapa sponsor yang kemarin sudah mengajukan beberapa tawaran untuk proyek yang ada di Bandung."
"Bisa kamu handle sendiri?"
"Maaf, Pak. Untuk kali ini tidak bisa. Mereka ingin bertemu langsung dengan Anda. Pertemuan kali ini, untuk menindaklanjuti pertemuan pertama kemarin."
Daddy El hanya bisa menghembuskan napas beratnya. Dia melirik sekilas ke arah sang putra yang terlihat sedang serius menekuni ponselnya. Daddy El yakin jika Cello saat ini sedang mencari informasi tentang penyebar video tersebut.
Fajar yang melihat arah pandangan daddy El langsung melirik ke arah Cello. Keningnya sedikit berkerut karena tidak biasanya Cello ikut ke kantor dengan sang daddy.
"Ehm, apa Anda sedang ada sesuatu yang mendesak untuk segera dikerjakan, Pak?" Tanya Fajar.
Daddy El menghembuskan napas beratnya sebelum kembali menoleh ke arah Fajar.
"Sebenarnya, aku ada sesuatu yang harus aku selesaikan dengan Cello. Tapi tidak apa-apa. Kita bisa menemui para sponsor tersebut sebentar."
"Baiklah, Pak. Saya akan segera menyiapkan meetingnya." Kata Fajar sambil beranjak pergi keluar dari ruangan daddy El.
Setelah kepergian Fajar, daddy El langsung menghubungi Zee untuk menunda pertemuan mereka hingga makan siang. Zee pun setuju untuk melakukannya.
Tak berapa lama kemudian, daddy El segera beranjak menuju ruang rapat bersama dengan Fajar. Sementara Cello, dia masih menunggu sang daddy di dalam ruangannya. Cello masih mencari beberapa informasi tentang penyebaran video tersebut kepada beberapa orang teman dekatnya.
Namun, saat tengah fokus membalas beberapa pesan, ada panggilan masuk dari sang mommy. Cello segera mengangkat panggilan tersebut karena khawatir ada yang penting.
"Hallo, Mom. Ada ap.." belum sempat Cello menyelesaikan perkataannya, terdengar suara mommy Fara berteriak-teriak di seberang sana.
"Cell, Shanum pingsan!"
"Apa?!"
••
Tinggalkan jejak vote, like dan komen buat othor ya. Terima kasih.