The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 16



"Eh, aku kan memang menyapa dunia, Miss. Aku menyapa apa dan siapa saja yang ada di sekitar sini. Apa miss Dena sudah merasa ada di dalam duniaku?" Rean menatap ke arah miss Dena sambil mengedipkan sebelah matanya.


Miss Dena yang mendengar jawaban Rean langsung membulatkan kedua bola mata dan mulutnya. Dia merasa kesal dengan perkataan Rean baru saja.


"Apa-apaan sih, Re. Nggak usah ngegombal di sini. Aku nggak suka gombalan kamu!" ucap miss Dena sambil menatap wajah Rean dengan tajam.


Bukannya takut, justru Rean semakin bersemangat. "Siapa yang menggombal sih, Miss. Aku memang mengatakan hal sebenarnya." Rean masih mengulas senyumannya.


Tanpa memperdulikan Rean, miss Dena langsung beranjak menuju ruang kelasnya yang berada di lantai dua tersebut. Pagi itu, dia memang tidak mengajar di kelas Rean. Baru nanti siang dia akan mengajar di kelas laki-laki tersebut.


"Cckkk, semakin berani saja lo godain miss Dena. Nggak takut lo nanti bakal nggak lulus di mata kuliah doi?" tanya Dandi sambil menepuk bahu Rean dari belakang.


"Kalau nggak lulus di kelas doi sih, gue oke-oke saja. Ikhlas lahir batin ini." Rean masih terkekeh geli sambil melangkahkan kaki menuju kelas mereka.


Dandi hanya bisa mencebikkan bibirnya sambil mengikuti langkah kaki Rean. "Ngomong-ngomong, lo sudah bilang ke kakak ipar lo tentang obrolan kita kemarin, Re?"


"Gue sudah bilang semalam. Tapi, untuk cerita detailnya, gue belum bisa cerita. Nggak bisa jika hanya dibilangin di telepon."


Dandi mengangguk-anggukkan kepala. "Lo benar. Thanks ya, Bro."


"Sans, Bro. Rencananya, nanti malam gue bakal ke rumah kakak gue. Nanti deh gue bakal ceritain masalah lo ke dia."


"Ehm, kira-kira kakak ipar lo, bisa bantu gue nggak, ya?" Dandi tampak khawatir.


"Lo tenang saja. Gue yakin, kakak ipar gue bakalan bantu lo."


Dandi hanya bisa mengangguk. Dia hanya bisa berharap jika Cello bisa membantunya.


Pagi itu, Rean dan Dandi mengikuti perkuliahan dengan lancar hingga waktunya istirahat siang. Mereka segera beranjak ke kantin sebelum mengikuti kelas selanjutnya.


Saat sedang menunggu makan siangnya, ponsel Rean berbunyi. Ternyata, ada telepon dari Rendy, rekan kerjanya.


"Hallo, Bang. Ada apa?"


"Lo dimana sekarang, Re? Bisa kita bertemu sebentar?"


"Gue di kampus, Bang. Gue ada kuliah. Memangnya ada apa?"


"Ehm, ini tentang jumlah stok barang di tempat gue, sepertinya gue tidak bisa mensuplai di tiga distro lo sekaligus. Bagaimana?"


Rean tampak berpikir sebentar. "Untuk barang yang sudah kita sepakati kemarin, kan?"


"Iya. Gue kemarin kan juga sudah bilang, belum bisa ngecheck semuanya. Jadi, belum bisa memastikannya."


"Oke kalau begitu. Gue langsung hubungi Endri dulu. Thanks ya, Re."


"Sama-sama, Bang."


Setelah itu, sambungan telepon mereka terputus. Dandi yang melihat hal itu langsung bertanya.


"Lo kerja bareng sama Bang Rendy?"


"Iya."


Dandi mengangguk-anggukkan kepala. "Setau gue, dia orang baik, kok. Usahanya juga lumayan. Tapi hati-hati sama adiknya. Dia kayak istrinya Pak Aya," ucap Dandi sambil menerima pesanan makan siang mereka.


"Istrinya Pak Aya? Maksudnya?"


"Bu Aya."


Rean yang mengerti pun langsung mendengus kesal. "Buaya kan cowok, masa oya perempuan juga buaya."


"Ya sudah kalau begitu, crocodile saja."


Rean hanya menggelengkan kepala mendengar jawaban Dandi. Setelah itu, mereka mulai menyantap makan siangnya sebelum kembali ke kelas selanjutnya.


Beberapa saat kemudian, Rean dan Dandi sudah selesai. Mereka segera beranjak menuju ruang kelas selanjutnya.


Seperti biasa, Rean dan Dandi memilih tempat duduk di deretan sebelah kiri. Mereka langsung sibuk memainkan ponselnya sebelum perkuliahan dimulai. Hingga beberapa saat kemudian, Rean menyadari kedatangan miss Dena.


Rean langsung bersemangat saat melihat dosen favoritnya telah datang. Seperti biasa, sebelum memulai perkuliahan miss Dena selalu memeriksa kehadiran para mahasiswanya sambil berjalan di depan kelas. Hingga giliran Rean tiba, miss Dena langsung menoleh ke arah Rean.


"Rean Aksa Atmaja."


"Hadir Miss. Ehm, boleh nggak minta tolong sebentar?"


Seketika miss Dena menghentikan langkah kakinya. Dia menatap ke arah Rean dengan alis terangkat. "Minta tolong apa?"


"Ehm, miss Dena bisa nggak berhenti berjalan-jalan? Aku khawatir nanti capek. Miss Dena duduk manis saja di hatiku, boleh?"


\=\=\=


Kira-kira Rean minta di apain ya?


Mohon maaf othor nggak bisa ngegombal. Maafkeun jika garing 🤧