
Seketika mama Fida dan papa Reyhan terkejut saat mendengar panggilan Revina dan Bian.
"Mas? Dek?" Ulang mama Fida.
"Eh," Revina yang baru sadar hanya bisa diam terpaku. Meskipun sudah direncanakan sebelumnya, namun dia tetap merasa terkejut dengan reaksi orang tuanya.
"Baiklah, kalian jelaskan nanti setelah sholat Maghrib. Sekarang kita sholat berjamaah dulu." Kata papa Reyhan sambil meminum air putihnya.
Baik Revina maupun Bian hanya bisa mengangguk mengiyakan permintaan papa Reyhan. Setelahnya, mereka semua segera bersiap-siap untuk melaksanakan ibadah sholat Maghrib berjamaah.
Setelah melaksanakan ibadah sholat Maghrib, disinilah mereka semua berada. Mereka duduk bersama di ruang keluarga rumah Revina. Papa Reyhan duduk di sofa panjang dengan mama Fida berada di sebelahnya. Sementara Bian, duduk di single sofa yang berada tepat di depan papa Reyhan. Sedangkan Revina juga duduk di single sofa yang berada di samping kiri papa Reyhan.
Mereka semua masih diam tanpa ada yang bersuara. Hingga papa Reyhan berdehem untuk memulai pembicaraan.
"Ehem. Kalian bisa mulai menjelaskan apa yang terjadi." Kata papa Reyhan.
Baik Bian maupun Revina langsung menoleh untuk saling menatap. Bian menganggukkan kepalanya kepada Revina untuk meyakinkannya agar dia mempercayakan semuanya kepada Bian. Revina pun balas mengangguk.
"Ehm, sebelumnya saya minta maaf, Pak…"
"Bukankah kita sudah sepakat untuk mengganti nama panggilan?" Kata papa Reyhan memotong perkataan Bian.
Bian hanya bisa mengangguk mengiyakan.
"Sebelumnya, saya minta maaf, Ppaa. Seharusnya kami menyampaikan hal ini kepada Mama dan Papa sejak awal. Tidak seharusnya kami menutup-nutupi hal ini dari Papa dan Mama." Kata Bian. Dia menjeda sebentar perkataannya untuk mengamati reaksi dari ketiga orang yang ada di depannya. Tak terkecuali Revina. Dia mengerutkan keningnya saat mendengar perkataan Bian.
"Apa maksudnya?" Tanya papa Reyhan.
"Sebenarnya, kami sudah berpacaran sejak beberapa waktu yang lalu. Kami minta maaf jika baru memberitahukan hal ini kepada Papa dan Mama." Jawab Bian sambil meraih tangan Revina dan menggenggamnya.
Sontak saja perkataan dan perbuatan Bian tersebut membuat Revina, Papa Reyhan dan Mama Fida terkejut. Namun, Revina berusaha untuk menjaga ekspresinya agar tidak terlalu terkejut.
Bian terpaksa melakukan ini. Dalam benaknya, sudah kepalang basah bu Halimah dan Nova mengetahui tentang Revina. Bu Halimah juga sudah memberitahukan kakek dan neneknya jika Bian sudah mempunyai calon istri. Hampir setiap hari Bian selalu mendapat telepon dari kakek dan neneknya untuk menanyakan hal itu.
Untuk Revina, Bian pikir nanti akan membicarakan masalah ini dengannya secara baik-baik. Bian benar-benar membutuhkan bantuan Revina. Dia tidak bisa membicarakan rencananya karena memang tidak ada waktu. Pertemuannya dengan Revina dan mama Fida tadi siang di depan minimarket dan ajakan buka bersama malam harinya, membuat Bian harus memutar otak untuk mencari alasan yang cukup masuk akal.
"Benar apa yang dikatakan Bian, Rev?" Tanya papa Reyhan.
Revina sedikit terkejut dengan pertanyaan papa Reyhan. Namun, seketika dia bisa mengontrol ekspresinya.
"Iya, Pa. Benar apa yang dikatakan mas Bian." Jawab Revina.
Kedua orang tua Revina menoleh untuk saling pandang. Tatapan mata mereka mengisyaratkan ketidakpercayaan. Namun, entah mengapa mereka tidak bisa membuktikannya.
"Apa yang kamu suka dari putriku, Nak Bian?" Tanya papa Reyhan.
"Putri Papa ini tidak ada duanya. Dia cantik, penyayang dan sangat perhatian, dan yang pasti, sangat mencintai saya juga."
Glek.
Kali ini Revina benar-benar tersedak mendengar jawaban Bian. Apa maksudnya dengan sangat mencintai Bian? Apa Bian tahu jika Revina menyukainya?
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Hayo lho, kira-kira dari mana Bian tahu tentang perasaan Revina terhadapnya?
Nanti malam insyaallah up lagi, othor masih belum selesai ngetik.