The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Rean 63



"Kenapa diam? Jadi benar kamu menghubungiku karena kangen?" tanya Adrian setelah tidak ada balasan dari Kinan.


Sontak saja Kinan kembali mendengus kesal mendengar ucapan Adrian.


"Cckkk. Mana ada, Om. Ini tadi aku menghubungi Om untuk menanyakan pakaian yang harus dipakai untuk menghadiri acara resepsi pernikahan temanku. Ya, meskipun hubungan kita abal-abal, tapi aku tidak mau penampilan kita abal-abal nanti, Om." Kinan menjelaskan alasannya menghubungi Adrian.


Adrian mengangguk-anggukkan kepala berusaha memahami penjelasan Kinan.


"Pakai baju dari Mama saja," jawab Adrian.


Seketika Kinan membulatkan kedua bola matanya. Dia baru ingat dengan hadiah-hadiah pemberian mama Adrian. Bahkan, sampai sekarang dia juga belum menghubungi mama Adrian tersebut untuk mengucapkan terima kasih.


"Mana bisa begitu, Om? Lagi pula, aku belum mengucapkan terima kasih kepada mama Om." Kinan langsung mengerucutkan bibirnya.


"Aku sudah mewakili kamu mengucapkan terima kasih kepada Mama," jawab Adrian sambil berjalan ke arah lemari baju. Dia berniat mengambil baju ganti.


"Cckkk. Kenapa jadi Om yang berterima kasih. Lagian ya, aku mau bertanya kepada mama Om. Kenapa memberiku hadiah semahal itu? Hadiah-hadiah itu terlalu mahal untukku, Om. Aku tidak bisa menerimanya."


Adrian menoleh ke arah layar ponselnya dan menatap Kinan lekat-lekat. Keningnya berkerut saat mencoba memahami perkataan Kinan.


"Maksudnya apa?" tanya Adrian. "Bukankah para perempuan suka dengan barang-barang seperti itu?"


"Cckkk. Suka sih suka, Om. Tapi jika melihat harganya, jadi tak suka. Aku bukan tipe orang yang mau menghambur-hamburkan uang hanya untuk membeli barang-barang branded seperti itu."


"Menurutku ya, Om, semua barang yang kita pakai, fungsinya juga bakalan sama seberapapun harganya. Semahal apapun sepatu yang kita beli, pasti juga akan diinjak-injak karena pakainya bakalan di kaki. Tidak mungkin kan kita memindahkannya di atas kepala?"


"Hal itu juga berlaku untuk tas. Semahal apapun tas yang kita miliki, fungsinya juga pasti akan sama. Kalau aku sih, untuk menaruh dompet, ponsel, sama peralatan make up sederhana. Jadi, bagiku, nggak akan ada bedanya fungsi tas yang harganya murah, standar, sampai mahal sekalipun."


Adrian tampak menatap Kinan dengan tatapan heran. Seumur-umur, dia baru menemui perempuan seperti Kinan yang tidak memikirkan brand suatu product. Hal itu berbeda sekali dengan sang mantan istri yang sangat mementingkan brand. Apa itu ada hubungannya dengan profesi artis? batin Adrian.


Kinan masih menatap Adrian yang diam terpaku di seberang sana.


Adrian langsung tersadar dan segera melanjutkan aktivitasnya mengambil sebuah kaos dan celana pendek dari dalam lemari.


"Kesambet apa? Di Lombok mana ada yang seperti itu?"


"Ya ada saja, sih. Gituan kan biasanya ada dimana-mana," jawab Kinan.


Setelah itu, adrian meletakkan ponselnya di atas tempat tidur. Dia harus memakai baju dan celananya. Nggak mungkin kan Kinan akan melihatnya berganti baju? Bisa-bisa Kinan akan mimisan dan kejang-kejang nanti, hehehe. 🤭


Begitu selesai, Adrian mengambil kembali ponselnya dan mengarahkan layar ke arahnya. Kinan bisa melihat dengan jelas jika Adrian sudah berpakaian lengkap di seberang sana.


"Jadi, mau pakai baju warna apa? Kalau bisa sih, warnanya couple gitu. Biar akting kita berasa serius," ucap Kinan.


"Terserah kamu saja. Aku akan ikut." 


Adrian memang tidak terlalu mengerti tentang fashion. Dia bia biasanya akan memasrahkan semua pakaiannya ke butik Zarine, sang sahabat.


"Cckkk. Aku nggak mau terserah ya, Om. Apalagi, nanti Om minta tolong si Tante yang di butik kemarin. Mana maunya pengin pegang-pegang, lagi." Kinan langsung menggerutu kesal.


Adrian sedikit menarik ujung bibirnya saat mendengar Kinan menggerutu kesal.


"Kenapa memangnya? Kamu cemburu?" Goda Adrian.


"Iya."


"Eh?"


\=\=\=


Tuh kan, suka bener deh kalau keceplosan. Jangan lupa tinggalkan jejak buat othor ya. Othor bisikin, sudah ada jatah vote, yuk sisa kan satu buat Kinan dan Adrian.Â