
"Jadi, ini calon menantu kita, Yang?" Kata papa Reyhan sambil berjalan mendekati meja makan.
Dia masih belum mengetahui sia laki-laki yang tengah duduk di salah satu kursi di meja makan tersebut. Bian yang duduk membelakangi arah kedatangan papa Reyhan, langsung menolehkan kepalanya saat mendengar suara dari papa Reyhan. Hal itu membuat papa Reyhan cukup terkejut.
"Lho, pak Bian?!" Kata papa Reyhan sambil mendekat ke arah Bian.
Bian pun mengangguk sambil berdiri dan mengulurkan tangan kanannya untuk menjabat tangan papa Reyhan. Uluran tangan tersebut langsung disambut oleh papa Reyhan.
"Apa kabar, pak Reyhan?" Sapa Bian.
Papa Reyhan yang masih terkejut pun hanya bisa menjawab seadanya sambil melirik ke arah mama Fida.
"Baik. Silahkan duduk, waktu berbuka sudah tiba. Kita bisa melanjutkan obrolan setelah berbuka dan sholat Maghrib." Kata papa Reyhan.
Bian dan mama Fida langsung mengangguk mengiyakan. Beberapa saat kemudian, Revina juga sudah kembali. Setelahnya, mereka segera membatalkan puasa hari itu dengan berbuka.
Hujan masih turun dengan lumayan deras. Mereka memutuskan untuk sholat Maghrib berjamaah di rumah. Setelahnya, mereka semua duduk di ruang keluarga untuk mendengar penjelasan Revina dan Bian.
"Jadi, bisa kalian jelaskan sekarang apa maksudnya ini?" Kali ini papa Reyhan yang berbicara.
Papa Reyhan langsung memelototi mama Fida saat hendak bersuara. Mama Fida pun hanya bisa mencebikkan bibirnya saat mendapati tatapan tajam sang suami.
"Sebenarnya begini, Pa. Pak Bian ini adalah atasanku. Beliau adalah asisten pak Kaero." Kata Revina.
"Papa sudah tahu jika pak Bian adalah asisten pak Kaero, Rev. Yang Papa maksud, apa hubungan kalian? Benar kalian pacaran?" Tanya papa Reyhan.
"Tidak, Pa." Jawab Revina sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Benar, Pak. Kami tidak ada hubungan apa-apa. Hari ini, kami ada pekerjaan di luar. Tadinya Revina memang bersama dengan temannya, Angga. Namun, Angga ada urusan penting dan harus pulang terlebih dahulu. Karena kami searah, saya menawarkan tumpangan kepada Revina." Kata Bian juga ikut menjelaskan.
Mama Fida terlihat begitu kecewa setelah mendengar penjelasan Revina dan Bian. Hal yang berbeda nampak ditunjukkan oleh papa Reyhan. Dia tampak begitu lega setelah mendengar penjelasan mereka.
"Oh, begitu. Maaf kami salah sangka terhadap Anda, pak Bian." Kata papa Reyhan.
"Tidak apa-apa, Pak. Justru saya yang harus berterima kasih kepada Anda dan keluarga karena telah mengizinkan saya untuk ikut berbuka puasa di sini." Kata Bian.
"Sama-sama, Pak. Kami senang Anda bisa bergabung."
"Kalau begitu, saya minta izin untuk permisi dulu, pak Reyhan, bu Fida. Sekali lagi terima kasih untuk buka puasanya." Kata Bian sambil beranjak berdiri.
Bian mengulurkan tangannya kepada papa Reyhan dan mama Fida. Setelah mereka berjabat tangan, Bian menoleh menatap Revina untuk berpamitan.
"Aku permisi dulu, Rev. Untuk laporan kunjungan hari ini, bisa langsung kirim ke emailku langsung." Kata Bian.
"Iya, Pak. Nanti akan saya kirimkan ke email Bapak." Jawab Revina.
Bian mengangguk mengiyakan. Setelahnya, dia benar-benar pamit pulang. Revina mengantar Bian hingga teras. Dia masih menunggu di sana hingga Bian memasuki mobil dan beranjak pergi dari rumah Revina.
"Kamu yakin tidak ada hubungan apa-apa dengan Bian, Sayang?" Tanya mama Fida setelah melihat Revina berjalan ke arah ruang keluarga.
"Mama kan sudah dengar sendiri tadi."
"Kamu beneran nggak suka sama Bian?" Tanya mama Fida kembali.
"Mas, kamu dengar sendiri apa kata putrimu, kan? Bantu dia dekat dengan Biang, dong." Kata mama Fida kepada papa Reyhan.
"Revina masih terlalu muda, Yang. Biarkan dia gapai apa yang diinginkannya dulu."
"Apanya yang terlalu muda. Revina sudah dua puluh tiga tahun, Mas. Dia jauh lebih dewasa daripada aku dulu saat kamu nikahi." Gerutu mama Fida.
"Ya, tapi saat ini dan dulu itu berbeda, Yang."
"Apanya yang berbeda, Mas? Sama saja. Mas, kamu jangan terlalu posesif gitu dong sama Revi. Dia itu putri kamu satu-satunya. Beri sedikit kebebasan kepadanya untuk memiliki teman laki-laki." Kata mama Fida sambil mengusap-usap lengan papa Reyhan.
"Aku tahu betapa sayang kamu kepada Revina, Mas. Tapi, jika kamu terus-terusan seperti ini, kasihan putrimu nanti. Dia pasti akan kesulitan menemukan calon suami jika kamu terus seperti ini." Lanjut mama Fida.
Papa Reyhan hanya bisa diam sambil menghembuskan napas beratnya.
"Aku hanya menginginkan laki-laki yang bisa bertanggung jawab dan menyayangi putri kita. Apa aku salah?" Tanya papa Reyhan.
"Tidak, kamu tidak salah, Mas. Tapi bukan seperti ini caranya. Kamu terlalu mengintimidasi siapapun laki-laki yang dekat dengan Revi."
Papa Reyhan kembali menghembuskan napas beratnya. Dia menoleh menatap wajah mama Fida.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan?" Tanyanya.
Mama Fida tersenyum cerah setelah mendengar pertanyaan papa Reyhan.
"Kamu kenal baik dengan Bian, Mas?" Tanya mama Fida.
"Hhhhmmm iya. Kami sering bertemu karena perusahaan kami lumayan sering bekerjasama."
"Bagus, kita bisa melakukan sesuatu." Jawab mama Fida sambil tersenyum smirk.
"Apa?"
Seketika mama Fida menoleh menatap wajah papa Reyhan sambil mengerucutkan bibirnya.
"Hokya-hokya."
"Lhah, kan tarawih, Yang."
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Othor masih menunggu dukungan vote, like dan komen. Terima kasih.