
El terhenti dari langkahnya yang hendak keluar. Dia menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan untuk memastikan pendengarannya. Dan, benar saja. El bisa melihat Revina tengah berbicara dengan seorang laki-laki. El merasa cukup familiar dengan wajah itu. Namun, otaknya tidak mampu mengingat namanya.
El sedikit mundur dari posisinya berdiri saat itu. Dia merogoh sakunya untuk mengambil ponsel. El harus berpura-pura memainkan ponselnya agar tidak ada yang mencurigainya telah menguping pembicaraan orang lain.
"Iya. El yang selalu bersamamu saat kuliah." Kata laki-laki yang bersama dengan Revina.
"Kamu ini ngomong apa?! Jangan mengada-ada. Tidak mungkin kak El menyukaiku. Aku sudah menganggapnya seperti kakakku sendiri. Jangan menyebarkan omong kosong seperti itu." Geram Revina.
Deg.
El benar-benar tidak menyangka dia mendengar apa yang dikatakan oleh Revina. Ya, El mendengar dengan jelas jika selama ini Revina memang menganggap dia murni sebagai seorang kakak.
"Itu bagimu. Tapi tidak bagi El. Aku tahu dari cara dia menatap dan memperlakukanmu. Dia benar-benar menyukaimu." Kata laki-laki itu.
"Sudah, cukup! Aku tidak mau dengar omong kosongmu lagi. Jangan menjadikan ini lagi sebagai alasan untuk menemuiku." Kata Revina sambil beranjak pergi meninggalkan laki-laki itu. Dia berjalan terburu-buru menuju pintu keluar.
"Rev, tunggu dulu. Aku belum selesai." Kata laki-laki itu sambil berdiri dengan terburu-buru untuk menyusul Revina.
El yang melihat hal itu, sedikit menunduk agar tidak diketahui mereka. Setelah mereka benar-benar pergi, El baru melangkahkan kakinya keluar. Sepanjang perjalanan menuju rumah, El berusaha untuk berkonsentrasi. Dia benar-benar memikirkan perkataan Revina tadi.
"Sepertinya aku benar-benar sudah tidak memiliki kesempatan." Gumam El.
Tak berapa lama kemudian, El sudah sampai di rumah. Mommy sudah menunggu kedatangannya dan mulai menyiapkan semua keperluan acara untuk nanti malam.
Saat yang ditunggu pun tiba. Malam itu, para sahabat mommy Vanya sudah mulai berdatangan. Tante Nabila datang bersama dengan sang suami. Anak-anak mereka tidak bisa ikut karena sedang menginap di rumah mertua tante Nabila.
Tak berapa lama kemudian, tante Fida juga sudah datang. Tente Fida datang bersama dengan sang suami dan tentu saja Revina, sang putri. Mereka masih saja terlihat kompak meski usia mereka sudah tidak muda lagi.
"Waahh, ini El kok semakin cakep saja sih. Jika Tante masih muda, sudah bisa dipastikan akan tante kekepin." Kata tante Fida sambil tersenyum.
El yang mendengar godaan tante Fida hanya bisa mendengus kesal. Pasalnya, dia menjadi pusat perhatian dari seluruh tamu yang hadir di sana.
"Memangnya ikan apa di kekepin, Tante. Cakep-cakep begini masa iya disamakan dengan ikan." Gerutu El.
"Hahahaha. Yang ngaku bilang cakep tapi kok masih jomblo. Jika memang beneran cakep, pasti sudah laku dong. Lha ini, ada yang ngelirik saja enggak." Kata mommy Vanya sambil tertawa.
El semakin mengerucutkan bibirnya. Kedua matanya menatap sang mommy dengan tatapan kesalnya. Bisa-bisanya mommy memojokkan dirinya seperti itu. Aku ini anak kandungnya apa bukan sih. Gerutu El.
Melihat wajah sang putra tengah kesal, mommy Vanya mengusap pipi El dengan lembut.
"Iisshhh, anak mommy ngambek nih. Udah bangkotan masih saja suka ngambek. Sudah ah, jangan manyun begitu bibirnya." Kata mommy Vanya.
Setelah acara ngobrol berlangsung, mereka semua mulai untuk menyantap makan malam sambil sesekali mengobrol ringan. Tidak ada obrolan yang terjadi antara El dan Revina. Revina yang tidak mengetahui jika El mendengar perkataannya tadi siang, bersikap seperti biasa. Sementara El, terlihat menjaga jarak dengannya.
"Kak, kenapa menghindar terus dari aku?" Tanya Revina dengan suara sedikit lebih keras hingga terdengar oleh hampir semua orang yang ada di sana.
Mau tidak mau El menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan menghadap ke arah Revina.
"Siapa bilang aku menghindarimu? Kamu ini ada-ada saja." Jawab El sambil berusaha tersenyum.
"Kakak tidak berusaha menghindariku karena Kakak menyukaiku, kan?" Tanya Revina tiba-tiba.
Sontak perkataan Revina membuat semua orang disana terkejut. Tak terkecuali El. Dia benar-benar terkejut mendengar Revina menanyakan hal itu di hadapan semua orang. El menggelengkan kepalanya sambil menatap semua orang yang ada di sana.
"Eh, jangan bicara sembarangan. Kamu ini, jangan ngawur." Kilah El.
Bukan Revina yang tidak keras kepala. Dia tetap bertanya kepada El untuk memastikan kebenaran dari apa yang di dengarnya tadi siang.
"Kakak beneran suka kepadaku?" Tanya Revina. Tatapan tajamnya masih menatap El tanpa berkedip.
El melihat sekeliling dan mendapati mereka menjadi pusat perhatian semua orang. El tidak bisa membiarkan hal itu. Entah dapat ide dari mana dia langsung menjawab pertanyaan Revina.
"Iya. Aku memang menyukaimu dan aku ingin menikah denganmu, Diandra Farasha."
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Sudah mulai terjawab ya..
Mohon jangan lupa dukungan untuk othor. Klik like, vote dan komen.
Untuk informasi kapan up dan karya terbaru, bisa mampir di ig othor @keenandra_winda.
Terima kasih