The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Rean 69



Deg.


Jantung Kinan rasanya langsung berhenti berdetak saat tiba-tiba merasakan kecupan basah di pipinya. Ditambah lagi, sebuah pelukan posesif yang masih melingkari bahunya.


"Eh?" Kinan langsung menoleh untuk memastikan siapa yang sedang memeluknya.


"Kenapa? Kaget jika aku tiba-tiba ada disini sepagi ini, hhmmm?" Lagi-lagi sebuah kecupan mendarat. Namun, kali ini kecupan tersebut mendarat di ujung bibir Kinan sebelah Kiri.


Tentu saja hal itu membuat Kinan langsung membeku. Dia benar-benar gugup dengan apa yang baru saja terjadi.


Kinan mengedarkan pandangan ke sekitarnya. Dia bisa melihat wajah-wajah terkejut dari beberapa orang yang mengenalnya. Berbagai ekspresi ditampilkan dari orang-orang tersebut. Dan, tentu saja hal itu membuat Kinan semakin tidak enak.


"Ma-Mass?" Akhirnya Kinan bisa bersuara. "Kapan datang?" Kinan menoleh untuk melihat Adrian.


Ya, laki-laki yang telah mengagetkan Kinan pagi itu adalah Adrian. Semalam, Adrian memang langsung bertolak dari Lombok ke Bandung begitu pekerjaannya selesai. Selama beberapa hari ini, Adrian bekerja cukup ekstra untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Semua itu Adrian lakukan untuk memenuhi kesepakatannya dengan Kinan. Selain itu, menurut Adrian, acara resepsi pernikahan rekan Kinan bisa menjadi momen untuk menunjukkan jika dia sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Bara, mantan istrinya.


Adrian melepaskan pelukan tangannya dan berjalan ke arah kursi yang berada di depan Kinan. Bukannya menjawab pertanyaan Kinan, Adrian justru menarik piring sarapan Kinan dan menyendokkan sesuap nasi goreng ke dalam mulutnya. Ya, kebetulan Kinan pagi itu memilih untuk sarapan nasi goreng.


"Eh, kamu belum sarapan, Mas?" tanya Kinan saat melihat tindakan Adrian.


"Belum. Aku bahkan melewatkan makan malam semalam." Adrian sengaja menjawab ucapan Kinan dengan sedikit lebih keras.


Adrian sengaja melakukan hal itu untuk agar orang-orang yang berada di sekitar mereka bisa mendengar ucapannya. Beruntung Kinan bisa dengan cepat merespon ucapan Adrian.


"Makan kamu saja boleh?" ucap Adrian sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah mata ke arah Kinan.


Oh astaga, Si Om Duper tersenyum? Kinan hampir saja jatuh karena kakinya mendadak lemas. 


Suara orang tersedak dan bisik-bisik pun mulai terdengar. Orang-orang di sekitar Kinan dan Adrian pun menjadikan mereka berdua sebagai live show pagi itu.


Kinan mengurungkan niatnya dan kembali mendudukkan diri di kursi.


"Apaan sih, Mas? Jangan suka ngaco ngomongnya. Kita nggak ada yang tahu jika ada orang yang tidak bertanggung jawab akan mengartikan berbeda ucapan itu tadi."


Suara gelak tawa Adrian membuat beberapa orang cukup terkejut. Orang-orang yang hanya pernah melihat sosok Adrian dari majalah dan televisi, kini bisa melihat dengan jelas sedang tertawa didepan mereka.


"Hahaha, aku hanya bercanda, Honey. Mana mungkin aku melakukan hal macam-macam kepadamu saat kita belum menikah dengan sah." Lagi-lagi suara keterkejutan dari beberapa orang kembali terdengar.


"Me-menikah? Miss Kinan mau menikah?" 


Tiba-tiba sebuah suara menginterupsi percakapan Adrian dan Kinan pagi itu. Baik Kinan maupun Adrian langsung menoleh ke arah sumber suara. Ternyata, di sana ada salah seorang rekan dosen Kinan yang dulu sering nyindir-nyindir Kinan karena rumor yang sempat beredar.


"Tentu saja. Memang kenapa jika Kinan mau menikah? Apa ada yang merasa keberatan?" Adrian menatap wajah dosen tersebut dengan alis terangkat.


Scroll ya.