The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 28



Dena menatap wajah Rean sebentar. Dia masih mengamati, bagaimana Rean bisa cukup tenang mendengar permintaannya. Dalam pikiran Dena, Rean akan marah-marah dan mengeluarkan kata-kata kasar yang akan membuat telinga dan hatinya sakit. 


Namun, kini Rean yang ada di depannya, bukanlah laki-laki seperti itu. Dia tampak terlihat tenang, sambil masih menyunggingkan senyuman seperti biasanya. 


Ternyata, Dia bisa bersikap dewasa juga dalam menyikapi permintaan ku. Baiklah, jika kamu bisa menerima permintaanku, aku juga akan menerima permintaanmu, batin Dena.


Setelah cukup lama terdiam, Dena menganggukkan kepala. "Baiklah. Aku juga setuju dengan permintaanmu. Tidak akan ada perjanjian tertulis. Tapi, aku pegang janji kamu, Re. Untuk tempat tinggal, aku juga setuju jika kita tetap tinggal dalam satu tempat. Tidak mungkin kita akan tinggal terpisah setelah menikah nanti."


"Dan, untuk tempat tinggal, kita akan tinggal di sini nanti setelah menikah. Apartemen ini cukup dekat dengan kampus daripada rumah orang tua kita. Sedangkan untuk acara pernikahan, aku juga setuju dengan permintaan kamu. Aku juga ingin menikah secara resmi, baik secara agama maupun negara." Dena menjelaskan pendapatnya.


Rean tampak masih mengulas senyumannya. Dia menganggukkan kepala tanda setuju dengan apa yang disampaikan oleh Dena.


"Saya setuju, Miss. Jika tinggal dengan orang tua, apa nanti kata mereka jika kita berisik di malam hari. Bisa-bisa kita gagal tanding. Hehehe." Rean masih sempat-sempatnya menggoda miss Dena.


Dena masih menatap wajah Rean dengan tatapan tidak percayanya. Entah mengapa sikap Rean benar-benar membuat Dena geram.


"Dan untuk tempat tinggal, ehm, i-itu anu, Miss…," belum sempat Rean melanjutkan perkataannya, Dena sudah menyela.


"Nggak usah dipikirkan. Kita akan tinggal disini. Aku tidak keberatan sama sekali."


"Eh, bukan begitu maksudnya, Miss. Ehm, saya kan laki-laki, jadi sudah seharusnya memberikan tempat tinggal yang layak untuk istri dan anak saya nanti. Tapi, saat ini saya masih belum bisa melakukannya, Miss." Rean terlihat menundukkan kepala. 


Sebenarnya, Rean sudah mempunyai sebuah rumah yang berada di perumahan sederhana, tak jauh dari rumah orang tuanya. Namun, rumah itu sama sekali belum di renovasi. Rean tidak menyangka jika dia akan menikah secepat ini. Kalaupun direnovasi, rumah itu tidak akan selesai tepat waktu. Jadi, Rean lebih memilih setuju untuk tinggal di apartemen Dena, selama dia akan merenovasi rumahnya tersebut.


Rean mendongakkan kepala. Dia menatap wajah dosennya yang sebentar lagi akan menjadi calon istrinya tersebut sambil mengangguk mantab. Setelah itu, Rean segera pamit. Dia harus segera pulang sebelum mamanya menelepon.


Sore itu, semua persiapan untuk acara lamaran di rumah Dena sudah siap. Rean juga sudah bersiap dengan kemeja biru tua dengan celana berwarna cream. Meskipun tidak seragam dengan Dena, namun warna tersebut sudah disamakan dengan baju yang akan dikenakan oleh Dena nantinya.


"Kamu sudah siap, Re?" tanya Cello saat menghampiri Rean di kamarnya.


Rean yang saat itu tengah berdiri di depan cermin langsung menoleh ke arah pintu. "Sudah, Kak. Tapi, nggak tau kenapa masih gugup saja, ini."


"Tenangkan diri dulu, Re. Coba rileks, dan pikirkan hal-hal yang membuat kamu santai," ucap Cello.


"Hal seperti apa contohnya, Kak?"


"Ya, misalnya saat wajah Dena memerah karena tersipu malu saat bersamamu." Cello tampak terkekeh geli mendengar ucapannya sendiri.


"Ckckck, mana ada dia di tersipu malu, Kak. Yang ada wajahnya merah karena selalu marah-marah saat ada aku."


"Hhh,"


\=\=\=


Apa yang bisa menurunkan emosi nih?