The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 4



Tak terasa hari pun mulai berganti. Hari ini, Rean sudah ada janji dengan sang sahabat, Dandi Yasuna. Kebetulan rumah Dandi ini dekat dengan rumah nenek Fida. Jadi, Rean sudah cukup lama mengenalnya.


"Semua persyaratan untuk besok sudah beres, kan?" tanya Rean sambil menyesap cappucino.


"Aman, beres kok. Tinggal bawa besok ke kampus," jawab Dandi, sang sahabat.


Kebetulan, Rean dan juga Dandi mengambil jurusan yang sama di kampus tersebut. Mereka juga sama-sama masuk tahun ajaran baru di tahun ini.


Sore itu, mereka menghabiskan waktu santai di sebuah kafe yang berada di dekat SMA Dandi dulu. Hingga sebuah suara menginterupsi obrolan mereka.


"Dandi, lo ada disini?" 


Seketika Dandi dan Rean menoleh ke arah sumber suara. Terlihat dua orang perempuan berdiri di samping meja yang ditempati Dandi dan Rean.


"Ersa?" ucap Dandi saat menatap ke arah perempuan tersebut.


"Ehm, boleh kami bergabung?" tanya perempuan bernama Ersa tersebut.


Dandi menoleh untuk meminta pendapat Rean. Setelah mendapat anggukan dari Rean, Dandi mempersilahkan dua orang perempuan tersebut untuk bergabung dengan mereka.


"Ehm, ini siapa?" tanya Ersa sambil tersenyum malu-malu ke arah Rean.


"Oh, kenalkan. Ini Rean, sahabatku."


Kedua perempuan tersebut saling mengulurkan tangan ke arah Rean. Mereka saling memperkenalkan diri.


"Ehm, sepertinya lo bukan dari SMA kita, ya?" tanya Ersa sambil menatap Rean.


"Gue dari Surabaya." 


"Oh, baru pindah." Ersa mengangguk-anggukkan kepala. "Ehm, ngomong-ngomong, kuliah dimana?"


"Sama dengan Dandi."


Lagi-lagi Ersa menganggukkan kepala. Namun, belum sempat dia mengajukan pertanyaan lagi, Rean sudah lebih dulu berpamitan untuk pulang.


"Temen lo dingin banget kelihatannya, Dan," ucap Ersa saat melihat Rean sudah beranjak meninggalkan kafe tersebut.


"Dia memang tipe orang seperti itu, kok."


"Sudah punya pacar belum?"


Dandi menoleh menatap Ersa dan sahabatnya bergantian. "Ngapain lo tanya Rean sudah punya pacar apa belum? Mau lo jadiin salah satu koleksi, lo?" Dengus Rean.


Ersa hanya bisa mencebikkan bibir setelah mendengar perkataan Dandi.


***


Keesokan hari, Rean sudah bersiap-siap berangkat ke kampus. Dia harus melengkapi berkas pendaftaran kuliahnya. Sayup-sayup Rean mendengar suara sang kakak di lantai bawah. Dia bergegas untuk segera menghampiri Shanum.


Terdengar suara percakapan antara Shanum dan mama Revina.


"Rean kemana, Ma?" Tanya Shanum sambil meletakkan gelas yang baru saja diteguk isinya.


"Sedang siap-siap."


"Memangnya mau kemana?"


"Mau ke kampus. Hari ini adik kamu mau mengurus apa gitu, mama lupa."


"Iya. Adik kamu nggak mau satu kampus sama kakak-kakaknya. Katanya takut nggak bebas." Jawab mama Revina sambil terkekeh geli.


Shanum hanya bisa berdecak kesal saat mendengar perkataan sang mama.


"Ccckkk, memangnya dia mau bebas ngapain, Ma? Awas saja jika dia sampai aneh-aneh."


Belum sempat mama Revina menjawab pertanyaan Shanum, dari arah tangga terdengar suara Rean.


"Memangnya aku mau ngapain sampai diawasi segala sih, Kak?" Tanya Rean sambil berjalan menuruni tangga.


Seketika Shanum dan mama Revina menolehkan ke arah sumber suara.


"Ya, awas saja jika kamu bertingkah nanti. Kakak pasti akan tetap ngawasin kamu meski tidak satu kampus." Jawab Shanum.


Rean hanya bisa mencebikkan bibirnya sambil menarik kursi yang ada di depan Shanum.


"Aku sudah besar, Kak. Jangan disamakan dengan anak kecil lagi." Protes Rean.


Setelahnya, perdebatan absurd kedua kakak adik tersebut kembali terjadi hingga mama Revina harus menghentikan perdebatan tersebut. 


Tak berapa lama kemudian, Rean segera berangkat ke kampus. Beruntung Rean sudah mempunyai kenalan yang akan kuliah di kampus yang sama dengannya. Dia adalah Dandi Yasuna, tetangga kakek dan neneknya.


Beberapa saat kemudian, Rean sudah memarkirkan motor besarnya di parkiran kampus. Dia sudah melihat banyak sekali para calon mahasiswa baru yang sudah berada di sana. Rean masih berada di parkiran dan sedang mengirimkan pesan untuk Dandi. 


Tak berapa lama kemudian, ponselnya langsung berdering menampakkan nama Dandi di sana. Rean langsung menggeser ikon berwarna hijau tersebut untuk menyambungkan panggilan.


"Hallo, Dan. Dimana ini?"


"Sorry, Re. Gue masih di bengkel. Motor gue kena paku. Lo duluan saja."


"Yakin nih gue tinggal?"


"Iya, nggak apa-apa. Gue masih lama ini. Kasihan lo kelamaan nanti nunggunya."


Rean akhirnya menyetujui perkataan Dandi. Setelah mematikan panggilan teleponnya, Rean segera berjalan menuju tempat registrasi mahasiswa baru. Dia lebih menyelesaikan registrasi langsung daripada online. Beruntung lokasi kampusnya juga lumayan dekat dengan rumah.


Rean masih harus antri dan menunggu giliran. Dia menunggu di tempat yang agak sepi dari lalu lalang mahasiswa. Rean menunggu sambil bersandar di dinding dekat tangga dekanat sambil memainkan ponselnya.


Saat sedang fokus pada ponselnya, tiba-tiba kepala Rean kejatuhan dua buah buku setebal kamus. Apalagi cover buku tersebut sangat tebal. Alhasil dia bisa merasakan nyut-nyutan di kepalanya.


Brukk.


"Aauuwwhhh," pekik Rean sambil mengusap-usap kepalanya yang baru saja kejatuhan buku.


"Eh, aduh. Maaf-maaf, tanganku licin jadi peganganku terlepas. Maaf, sakit ya? Ada yang bisa aku bantu?" Kata seorang gadis yang tiba-tiba berdiri di depan Rean dengan wajah bersalahnya.


Rean masih membatu saat melihat gadis tersebut. Dia hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Iya, ada. Bantu aku mengetikkan nomor ponsel kamu di sini," kata Rean sambil menyodorkan ponselnya.


"Hhaaah, apa?"


\=\=\=


Masih ingat part ini? 🤭