The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 40



Setelah makan malam, Rean masih membantu orang tuanya untuk membereskan sisa-sisa acara tadi siang. Sementara Dena, membantu Shanum menjaga Drew dan Dryn. Keduanya terlibat obrolan antar wanita.


Usia Dena yang terpaut hampir tiga tahun dengan tua dari Shanum, tidak membuatnya merasa lebih tinggi dari sang kakak ipar. Dena justru sangat bersemangat mencari tahu bagaimana cara merawat bayi. Apalagi, kakak iparnya tersebut memiliki bayi kembar.


"Gen kembar ini sebenarnya dari Papa. Banyak keluarga Papa yang memiliki anak kembar. Bahkan, Pak Dhe Kusni punya tiga anak kembar, lho." Shanum menjelaskan saat Dena menanyakan asal muasal gen kembar di keluarganya.


"Waahhh, tiga bayi sekaligus? Nggak kebayang gimana ngurusnya."


Shanum terkekeh mendengar komentar Dena. "Jika hanya dibayangkan saja, ya pasti nggak bakal ketemu."


Dena tampak tersenyum malu-malu sambil menciumi Drew yang berada di atas pangkuannya. Setelah itu, dia segera pamit dan membiarkan kakak iparnya tersebut menidurkan si kembar. Dena berjalan menuju ruang tengah saat melihat mama Revina sedang membawa beberap kardus ke luar rumah. Dena bergegas hendak membantunya.


"Biar aku bantu, Ma." Dena tiba-tiba sudah berada di belakang mama Revina.


Sontak saja mama Revina sedikit terkejut setelahnya. "Eh, nggak usah, Sayang. Ini juga sudah selesai. Kamu istirahat saja. Kamu pasti capek seharian tadi." Mama Revina menjawab sang menantu sambil mengulas senyumannya.


"Nggak capek kok, Ma. Sini, aku bantu bawain." Dena masih memaksa sang mertua.


Mau tidak mau, mama Revina memberikan kardus-kardus tersebut kepada Dena untuk kumpulkan di samping rumah. Saat hendak meletakkan kardus-kardus tersebut, Dena berpapasan dengan Rean yang sedang membawa timba.


"Eh, aku kira sudah istirahat. Ternyata masih di sini. Nungguin suami nih ceritanya?" Goda Rean sambil tersenyum ke arah Dena.


Sontak saja perkataan Rean tersebut membuat Dena kesal. Dia hanya bisa mendesahkan napas ke udara sambil menatap wajah Rean. "Menunggu untuk apa? Aku hanya membantu Mama."


"Yah, siapa tau menungguku. Hehehe," ucap Rean sambil menyugar rambutnya ke belakang. Jangan lupakan cengiran jahil yang sudah tersungging pada bibir Rean.


Dena hanya bisa mencebikkan bibir sambil melangkahkan kaki untuk meletakkan kardus-kardus yang dibawanya. Sementara Rean, dia segera melanjutkan aktivitasnya.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, Dena sudah berada di dalam kamarnya. Dia berniat untuk segera membersihkan diri karena tubuhnya sudah terasa sangat lengket. Namun, betapa terkejutnya Dena saat dia berada di dalam kamar mandi. Dia benar-benar meluoakan jadwal bulanannya sudah datang. Dan, yang lebih parahnya lagi, dia tidak membawa perlengkapan apapun untuk jadwal bulanannya tersebut.


"Aduuhh, bagaimana ini. Mana aku nggak bawa apa-apa lagi. Ck, bagaimana aku bisa lupa dengan jadwal bulanannku," gerutu Dena dalam hati. 


Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu kamar terbuka. Dena yakin jika itu adalah suara Rean. Dan, benar saja. Rean mengetuk pintu kamar mandi.


"Jangan lama-lama di dalam kamar mandi, Miss. Sudah malam ini," ucap Rean.


"Iya. Ehm, Re, bisa minta tolong?"


Rean yang hendak beranjak dari depan pintu kamar mandi pun mengurungkan niatnya. "Eh, ada apa, Mis? Minta tolong dibantuin mandi? Kalau itu sih dengan senang hati aku melakukannya," ucap Rean sambil menggerakkan knop pintu kamar mandi.


Sontak saja hal itu membuat Dena berteriak kaget.


"Kyaaaa!"


***


Rean memonyongkan bibirnya setelah mengetahui maksud permintaan sang istri. Saat ini, Rean sudah nyelonong masuk ke dalam kamar sang kakak.


"Kak, punya roti tawar?" tanya Rean.


Seketika Shanum yang saat itu sedang menidurkan twins langsung menoleh ke arah sang adik. Keningnya berkerut mendengar pertanyaan Rean.


"Kenapa tanya roti tawar disini? Sana cari di dapur, Re."


"Bukan roti tawar buat mulut atas. Tapi roti tawar buat mulut bawah."


"Hhaa?"