The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 66



Rean masih menatap tidak percaya kepada wanita di depannya tersebut. Dia mengerutkan kening sambil mencerna perkataan sang nenek.


"Eh, maksudnya apa, ya?" Rean menatap ke arah sang nenek. 


"Cckk, tidak sopan. Apa begini caramu memperlakukan orang tua dengan membiarkannya berdiri di depan pintu?"


Rean langsung tersadar. Meskipun suasana hatinya memburuk, dia tetap berusaha untuk memperlakukan keluarga istrinya dengan baik.


"Silahkan masuk," ucap Rean sambil membuka lebar-lebar pintu apartemen Dena.


Ketiga orang tersebut segera memasuki apartemen dan mengedarkan pandangan ke seluruh bagian ruangan. Rean segera menutup pintu dan berdiri di belakang mereka bertiga.


"Silahkan duduk." Rean memecahkan konsentrasi ketiganya yang sedang menatap seisi rumah tersebut.


Tanpa diminta kedua kali, ketiga orang tersebut segera mendudukkan diri di sofa ruang tamu apartemen Dena. Setelah memastikan para tamunya duduk, Rean segera beranjak menuju dapur untuk membawakan jus. Rean memang sengaja tidak menawari air minum, karena memang di apartemen tersebut hanya ada jus dan air putih saja.


Setelah menuangkan jus instan tersebut, Rean segera membawa minuman tersebut ke depan. Dia meletakkan minuman tersebut di atas meja, dan mempersilahkan minum kepada mereka bertiga.


Kali ini, nenek Dena kembali bersuara. Dia bahkan tidak melirik minuman yang dibawakan oleh Rean.


"Kamu, dibayar berapa untuk menikahi Dena?" tanya senek sambil menatap Rean dengan tajam.


Rean cukup terkejut setelah mendengar pertanyaan neneknya. "Eh, dibayar? Maksudnya apa?"


"Cckkk, todak usah sok polos. Aku tahu kamu dibayar oleh papinya Dena untuk menikahi Dena, kan? Jika tidak, mana mungkin kamu mau menikah dengan Dena yang usianya jauh lebih tua dari usiamu. Bukankah kamu mahasiswanya?"


Rean tidak tahu maksud nenek Dena tersebut menanyakan pertanyaan seperti itu kepadanya. Selama ini, dia memang tidak mengetahui apa-apa tentang keluarga sang istri. Lebih tepatnya, belum mengetahui apa-apa. Dan, Rean juga belum mengenal ketiga orang yang ada di depannya tersebut.


Sang nenek mendengus kesal. DIa menatap tajam ke arah Rean.


"Kamu! Kamu itu maksudnya. Kamu menikahi Dena karena dibayar, kan? Katakan. Kamu dibayar berapa, hah?!" Sang nenek semakin kesal. Dia menudingkan jari dan menatap Rean dengan tatapan tajamnya.


"Nenek ini bicara apa? Kenapa harus dibayar? Saya menikahi Dena karena saya mencintainya. Jadi, tidak ada bayar membayar."


"Omong kosong! Mana mungkin bocah ingusan seperti kamu mau menikahi Dena yang usianya jauh lebih tua dari kamu."


Rean menghela napas dalam sebelum menjawab perkataan sang nenek. "Bagiku, tidak ada istilah usia dalam jatuh cinta, Nek. Aku tidak peduli dengan perbedaan usia kami. Yang terpenting, kami sama-sama saling menerima dan membuka hati. Itu saja." Rean berani mengatakan hal itu karena dia yakin jika Dena sudah mulai bisa menerimanya.


Kali ini, bukan nenek yang berbicara. Tapi wanita yang seusia mama Revina yang berbicara.


"Nek, tenang dulu. Jangan marah-marah disini. Kita tetap akan bisa menikahkan Dena dengan Gustian. Dia pasti akan mau mengikuti perintah Nenek." Wanita itu berkata sambil mengusap-usap bahu sang nenek.


Rean yang melihat hal itu menjadi emosi. Dia merasa tidak terima jika istrinya akan dinikahkan dengan orang lain. 


Enak saja main nikahin orang lain. Aku saja nikah belum ngapa-ngapain suruh pisahan saja, batin Rean.


Wanita itu menatap ke arah Rean dengan tatapan mengejeknya sambil berkata, "Kamu itu laki-laki yang tidak ditakdirkan untuk menikah dengan Dena. Jadi, tidak usah banyak omong. Sebentar lagi, aku pastikan kalian akan segera bercerai."


\=\=\=


Wuiihh maksa sekali ini.