
Malam itu, El dan Fara benar-benar tidak bisa tidur. Mereka benar-benar penasaran dengan apa yang dikatakan oleh mommy Vanya. Fara masih terjaga sambil bersandar pada dada bidang sang suami. Kedua netra El dan Fara benar-benar tidak bisa terpejam.
"Mas, apa benar apa yang dikatakan Mommy?" Gumam Fara, namun masih bisa didengar oleh El.
"Entahlah, Sayang. Aku juga tidak tahu. Kata mommy, pagi hari merupakan waktu yang baik untuk memeriksanya. Besok pagi, kamu coba di beberapa alat test pack agar hasilnya akurat." Kata El sambil mengusap-usap bahu sang istri.
"Iya, Mas. Ehm, menurut mas El, apa yang kamu harapkan, Mas?" Tanya Fara ragu-ragu. Dia benar-benar khawatir jika sang suami tidak mengharapkan kehamilannya saat ini.
Fara benar-benar tidak berani menatap wajah sang suami. Entah mengapa hatinya mendadak khawatir saat memikirkan hal itu. El yang menyadari hal itu langsung memberikan beberapa kecupan pada pucuk kepala Fara.
"Apa yang kamu pikirkan, hhmmm? Dengarkan aku, semua pasangan suami istri, pasti akan mengharapkan hadirnya buah hati pada pernikahan mereka. Tak terkecuali aku. Aku pun juga sama seperti itu. Jika kali ini kamu benar-benar hamil, aku akan sangat bersyukur sekali. Berarti usahaku selama ini berhasil dong. Hehehehe."
Fara yang mendengar jawaban sang suami merasa sedikit lega. Kekhawatiran jika sang suami tidak menginginkan anak darinya mendadak pudar seiring dengan jawaban yang baru saja keluar dari bibir El. Fara pun semakin mengeratkan pelukannya dan menyurukkan wajahnya pada ceruk leher sang suami.
"Terima kasih, Mas. Aku pun berharap jika kali ini aku benar-benar hamil. Tapi, bagaimana jika kali ini aku tidak hamil?" Tanya Fara sambil mendongakkan wajahnya untuk menatap wajah El.
El tersenyum mendengar pertanyaan Fara. Dia mengecup pucuk kepala Fara sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa, Sayang. Namanya belum rezeki. Kita bisa berusaha lebih giat lagi nanti. Jika cara yang kemarin belum berhasil, kita bisa menggunakan cara yang lainnya." Jawab El sambil menaik turunkan alisnya. Jangan lupakan senyuman smirk yang mendadak muncul pada bibirnya.
"Eh, cara lain yang bagaimana itu maksudnya? Bayi tabung?" Tanya Fara bingung.
"Sembarangan. Tentu saja cara membuatnya. Jika dengan gaya seperti kemarin tidak berhasil, kita bisa mencoba dengan gaya-gaya yang lainnya, kan."
"Hhhhhh. Apa-apaan itu. Gaya-gaya kamu itu selalu extrem, Mas. Jika ini belum berhasil, aku mau mencoba gaya biasa saja sampai berhasil."
"Eh, mana ada yang seperti itu. Nggak mau. Enak saja. Dikira aku bermain dengan glugu (pohon kelapa, red) nanti."
Fara yang mendengar perkataan El langsung merengut kesal. Dia mendorong dada bidang sang suami hingga sedikit menjauh. Setelahnya, dia berbalik dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Eh, kenapa aku di tinggal tidur sih, Yang. Jangan dong. Hadap sini ih." Rengek El.
"Eh, yang lain mana ada yang empuk. Yang empuk juga ini, Yang." Kata El sambil menoel-noel lengan atas Fara.
"Itu, ada."
"Eh, apa?"
"Gedebok pisang kan empuk."
"Lhaah, Yaaanng."
El benar-benar tidak bisa membujuk sang istri. Hingga malam itu, mereka tidur dengan lelap di posisi masing-masing.
Pagi harinya, Fara segera mengambil test pack yang sudah di belikan oleh El tadi malam. Dia masih terlihat takut jika mengetahui hasilnya tidak sesuai dengan harapannya. Namun, mau tidak mau dia harus melakukannya.
Fara mengambil lima jenis test pack dan mengujinya pagi itu. Dia masih berdiri di dalam kamar mandi. Kedua matanya terpejam saat menunggu hasilnya. Beberapa saat kemudian, Fara memberanikan diri untuk membuka kedua matanya.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Belum selesai ngetiknya, maaf up seadanya dulu.