The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 124



Daddy El masih terkekeh geli saat mengingat ekspresi Zee tadi di rumah sakit. Bagaimana tidak, ada wanita paruh baya yang menganggapnya memiliki lebih dari satu istri gara-gara sang cucu memanggil Zee dan juga Kiara dengan sebutan papa dan mama. 


"Ada apa sih, Mas? Kenapa dari tadi senyum-senyum sendiri?" gerutu mommy Fara saat melihat daddy El senyum-senyum sepanjang perjalanan.


Daddy El melirik mommy Fara dari kaca mobil. Dia masih mengulas senyumannya saat melakukan hal itu.


"Aku hanya merasa lucu saat mengingat wajah Zee tadi, Sayang. Coba ingat-ingat, dia terlihat sangat kesal dan sudah gatal ingin melabrak wanita paruh baya tadi, namun dia tidak berani melakukannya karena Kiara menatapnya dengan tatapan tajamnya. Hahahaha."


Mommy Fara hanya bisa mencebikkan bibirnya setelah mendengar jawaban daddy El. 


"Memang kamu tidak mendengar bisik-bisik mereka juga tentang kamu tadi, Mas?" tanya mommy Fara sambil masih menatap ke arah daddy El.


"Eh, memangnya apa yang mereka katakan tentangku?"


"Mereka berbisik-bisik apakah kamu mempunyai dua orang istri yang melahirkan pada saat bersamaan."


"Apaaa?!" sontak saja daddy El benar-benar terkejut. Dia tidak menyangka jika ternyata dia juga terkena gunjingan orang-orang tersebut.


"Apa-apaan itu! Apa mereka tidak punya pekerjaan lain selain mengomentari kehidupan orang lain. Belum tentu apa yang mereka lihat itu sesuai dengan kenyataannya. Benar-benar membuat kesal saja!" gerutu daddy El.


"Biarkan saja, Dad. Lagipula, kita tidak bisa mengatur dan mengendalikan apa yang dipikirkan orang lain. Biarkan saja mereka berpikir apapun sesuai dengan apa yang mereka lihat, terlepas itu kenyataan sebenarnya atau bukan," kata Shanum ikut menimpali percakapan kedua orang tuanya.


"Kamu benar, Sayang. Kita akan lelah jika menuruti seluruh perkataan orang lain," kali ini mommy Fara ikut menyetujui perkataan Shanum.


Daddy El yang mendengar hal itu hanya bisa cemberut kesal. Dia tidak menanggapi perkataan istri dan menantunya tersebut hingga sampai di rumah.


Saat mobil mereka berhenti, terlihat Cello dan juga Rean baru saja turun dari kendaraan mereka. Rupanya, mereka sampai di rumah bersamaan. Cello langsung buru-buru menghampiri kedua putranya.


"Maaf Sayang, tadi aku masih belum selesai membahas acara," kata Cello dengan wajah penuh penyesalannya.


"Iya, nggak apa-apa, Mas. Lagipula, sudah ada mommy dan daddy tadi yang menemani," jawab Shanum sambil berjalan mengiringi mommy Fara memasuki rumah.


Rean yang juga baru saja datang terlihat mengekori daddy El dibelakangnya.


"Bagaimana kuliah kamu, Re?" tanya daddy El sambil menepuk-nepuk bahu Rean.


"Baguslah. Atur jadwal sebaik mungkin. Jangan sampai karena terlalu sibuk mengurusi distro kamu, kuliah jadi terbengkalai."


"Iya, Dad."


Hari itu, Rean bermain-main dengan twins hingga menjelang petang. Dia baru beranjak pulang saat mama Revina meneleponnya untuk menjemput di rumah nenek Fida.


Keesokan hari, Rean sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kampus sejak pagi. Dia ada kuliah pagi hingga sore hari itu. Rean lebih suka pergi ke kampus dengan menggunakan motor besarnya. Lebih mudah untuk menyalip kendaraan daripada menggunakan mobil.


Sesampainya di kampus, Rean mendapati Dandi juga sudah tiba. Dia terlihat sangat pucat pagi itu.


"Kenapa wajah lo pucat sekali? Sakit?" tanya Rean saat berjalan mendekati sang sahabat.


"Gue diare sejak semalam. Rasanya benar-benar nggak karuan ini," keluh Dandi sambil memegangi perutnya.


"Jika sudah tahu sakit, ngapain masuk hari ini?"


"Lo nggak ingat apa jika hari ini kita harus mengumpulkan tugas dari miss Dena. Bisa-bisa aku mendapat nilai D jika tidak mengumpulkan tugas. Tahu sendiri dia sangat tidak mentolerir adanya keterlambatan tugas," gerutu Dandi.


"Kalau gue sih nggak apa-apa mengulang kelasnya tahun depan. Yang penting, gue bisa melihat miss Dena setiap saat. Hahaha," kata Rean sambil tertawa.


Namun, seketika tawanya terhenti saat tiba-tiba miss Dena melintas di depannya untuk menuju tangga menuju lantai dua.


"Selamat pagi, my Yang," sapa Rean sambil tersenyum ke arah miss Dena.


"Aku bukan Yang kamu!" jawab miss Dena dengan ketus sambil berjalan menaiki tangga.


Dandi yang melihat hal itu langsung menoleh menatap wajah Rean yang sedang tersenyum-senyum.


"Eh, tadi lo bilang apa? Lo memanggilnya my Yang atau Mayang nama tengah miss Dena?" tanya Dandi penasaran.


"Menurut lo, bagusan mana?" bukannya menjawab Rean malah balik bertanya.


Hhhmmm kira-kira bagusan mana ya? 🤔