
Pagi itu, Vanya terbangun lebih dulu. Setelah semalam Kenzo menyerangnya pada sesi kedua dan ketiga, rasanya seluruh tubuhnya remuk semua. Bahkan, untuk menggerakkan kakinya saja terasa sangat sulit. Entah mengapa rasanya masih ada yang mengganjal di sana. Rasanya seperti, ah sudahlah.
Vanya merasa sangat lemas bahkan untuk menggeser tubuhnya. Di liriknya jam di atas nakas di sampingya. 04.43 pagi. Suara adzan subuh pun sudah tidak terdengar lagi. Vanya menggoyang-goyangkan tubuh suaminya untuk membangunkan Kenzo.
"Maaasss, bangun. Bantu aku ke kamar mandi." Kata Vanya.
"Hhhmmm." Gumam Kenzo.
Bukanya bangun, Kenzo malah melingkarkan lengannya pada tubuh Vanya. Menggesernya kembali hingga menempel pada tubuh telanjangnya. Vanya bergidik ngeri saat merasakan sesuatu mengeras dibawah sana mengenai pinggangnya.
Vanya berusaha melepaskan diri dari dekapan Kenzo. Jika tidak, bisa dipastikan dirinya akan semakin menggelepar di atas tempat tidur. Vanya menarik tangan Kenzo agar terlepas dari tubuhnya. Namun, bukannya berpindah Kenzo malah semakin mengeratkan pelukannya kembali.
"Sebentar lagi." Gumam Kenzo.
Vanya semakin khawatir karena sesuatu dibawah sana sudah mulai aktif.
"Maasss, tolong bantu aku ke kamar mandi. Aku nggak bisa bergerak ini." Kata Vanya.
"Kenapa?" Tanya Kenzo sambil masih memejamkan mata dan mengeratkan pelukannya.
Vanya mendengus kesal. Dia harus mencari cara agar segera beranjak dari tempat tidur. Jika tidak, bisa dipastikan dirinya akan kembali mendapat serangan pagi dari sang suami.
"Mas, jika kamu tidak segera membantu aku ke kamar mandi, jangan harap kamu bisa bermain hokya-hokya lagi setelah ini." Kata Vanya.
Sontak saja Kenzo langsung duduk dan segera menyingkap selimutnya. Tanpa rasa malu, dia langsung berdiri dan berniat membopong Vanya untuk pergi ke kamar mandi.
Vanya yang melihat tingkah Kenzo segera memalingkan wajahnya. Bagaimana tidak, dia melihat Kenzo tengah berdiri dengan tubuh polos di depannya. Dia bisa melihat dengan jelas tubuh sang suami tanpa penghalang apapun yang menempel pada tubuhnya.
"Mas, itu pakai baju dulu atau minimal pakai kolor dulu kek. Jangan polosan seperti itu. Aku malu Mas." Gerutu Vanya.
"Lhah, kenapa kamu harus malu, orang yang polosan aku. Lagian, kenapa mesti malu sih. Semalam kita bahkan sudah saling menjelajah ke tempat-tempat tersembunyi. Bahkan, semalam kepala kita saling berada pada kedua pa…" belum sempat Kenzo menyelesaikan perkataannya, sebuah bantal mendarat dengan tepat pada wajahnya disertai dengan sebuah teriakan melengking.
"Maaassss!!" Teriak Vanya menahan malu. "Nggak usah diucapkan juga kali. Aku malu!" Lanjut Vanya sambil membuang muka.
Kenzo mendengus kesal sambil mengambil bantal yang baru saja dilempar oleh Vanya. Dia mengembalikan bantal tersebut dan membungkuk untuk membopong tubuh Vanya. Vanya yang khawatir dengan tingkah Kenzo segera beringsut mundur. Kenzo mengerutkan keningnya saat melihat tingkah Vanya.
"Eh, mas Kenzo mau apa?" Tanya Vanya penuh kepanikan. Dia berpikir jika Kenzo akan menyerangnya lagi.
"Lhah, katanya minta dibantu ke kamar mandi. Memangnya sudah bisa jalan sendiri?" Tanya Kenzo.
Vanya merasa malu dengan pikiran kotornya. Entah mengapa dia langsung berpikiran ke arah sana saat melihat Kenzo beringsut mendekatinya.
"Sudah, cepetan sini. Aku bantu ke kamar mandi. Kita mandi bareng. Subuh sudah mau habis ini." Kata Kenzo sambil mengangkat tubuh Vanya.
"Auuwwhhh Mass ih. Pelan-pelan. Masih sakit ini." Teriak Vanya sambil melingkarkan kedua lengannya pada leher Kenzo. Dia membiarkan sang suami menggendongnya ke kamar mandi.
Kenzo mendudukkan tubuh Vanya pelan-pelan pada closet. Setelahnya, dia membantu Vanya untuk membersihkan diri. Meski merasa malu, tapi Vanya tetap berusaha untuk santai. Dia ingin segera menyelesaikan acara mandi besarnya agar segera keluar dari kamar mandi.
Vanya berdiri pelan-pelan untuk mengambil air wudlu dan berjalan dengan merambat saat keluar kamar mandi. Dia menggunakan bathrobe dan menggelung rambut basahnya dengan menggunakan handuk. Sementara Kenzo, masih menyelesaikan mandinya.
Tak berapa lama kemudian, Kenzo sudah selesai mandi. Dia berjalan keluar dan segera bersiap-siap untuk melaksanakan sholat subuh bersama Vanya.
Setelah selesai, Vanya melirik jam di atas nakas, pukul 05.12 pagi. Tubuhnya masih sangat lemas. Rasa sakit di bagian bawahnya pun masih terasa jika dia bergerak. Kenzo yang melihat Vanya masih duduk segera membantunya berdiri dan membawanya ke tempat tidur.
"Hari ini pesan delivery saja. Tidak usah masak. Kalau perlu, nggak usah ke kampus juga. Hari ini Jum'at kan, kamu hanya ada satu mata kuliah." Kata Kenzo.
Vanya mengangguk mengiyakan. Memang benar jika dirinya tidak akan mampu pergi ke kampus saat itu. Rasanya masih sangat ngilu dan tidak nyaman di bawah sana. Dia memerlukan waktu untuk beradaptasi. Untuk sarapan, Vanya menyerahkannya pada Kenzo. Dia membebaskan suaminya itu untuk memesan makanan pilihannya.
Tak berapa lama kemudian, pesanan makanan pun datang. Lagi-lagi Kenzo membopong Vanya ke ruang makan dan mendudukkannya di atas kursi yang ada di sana.
Vanya dan Kenzo segera melahap sarapan pagi mereka dengan lahap. Tenaga mereka benar-benar terkuras dengan aktivitas mereka tadi malam.
Di tengah-tengah aktivitas sarapan mereka, Kenzo mengambil ponselnya dan menekan beberapa angka pada ponselnya untuk menghubungi seseorang. Setelah berhasil menekan nomor ponsel yang dituju, Kenzo segera menempelkan ponselnya pada telinga kanannya.
"Kosongkan jadwalku hari ini Rey, aku tidak akan berangkat bekerja hari ini." Kata Kenzo kepada Reyhan. Ya, orang yang ditelepon Kenzo pagi itu adalah Reyhan, sang asisten sekaligus sekretarisnya.
"Anda mau kemana tuan?" Tanya Reyhan.
"Aku akan bekerja di rumah." Jawab Kenzo.
"WFH?" Tanya Reyhan. "Kalau begitu, nanti saya akan mengirimkan berkas-berkas yang harus anda periksa." Lanjut Reyhan lagi.
"Ccckkk, sudah kubilang kosongkan jadwalku hari ini. Aku tidak mau mengerjakan urusan kantor hari ini. Kamu handle semua urusan kantor." Jawab Kenzo dengan ketus.
Reyhan yang masih belum paham dengan maksud Kenzo pun masih memburunya dengan pertanyaan.
"Jika anda tidak mengerjakan pekerjaan kantor, apa yang akan anda kerjakan di rumah tuan?" Tanya Reyhan.
"Mengerjai Vanya. Puas kamu!" Jawab Kenzo sambil menutup ponselnya.
Sementara Reyhan yang masih terkejut dengan jawaban Kenzo hanya bisa memandangi ponselnya yang sudah dimatikan sambungan teleponnya oleh Kenzo.
"Apa maksudnya mengerjai Vanya. Hhhhfff, jika bukan karena dia bos yang membayarku dengan gaji tiga kali lipat dari perusahaan lain, sudah aku pastikan aku akan mengundurkan diri. Eh, tapi sayang juga jika aku mengundurkan diri. Bonus yang diberikan tuan besar setahun saja bisa aku gunakan untuk membeli mobil baru." Gumam Reyhan.
Sementara Vanya yang mendengar percakapan Kenzo dengan Reyhan hanya bisa membulatkan mata dan mulutnya. Dia merasa khawatir jika ternyata ucapan Kenzo akan benar-benar dilaksanakannya.
"Eehmm Mas, memangnya kenapa hari ini nggak ke kantor?" Tanya Vanya khawatir.
Kenzo menoleh menatap wajah Vanya. Kemudian, senyum smirk terbit dari bibirnya.
"Aku akan bekerja di rumah." Jawab Kenzo.
Vanya masih belum merasa tenang.
"Lalu, mengapa tadi mas Kenzo menolak saat Reyhan akan mengantarkan berkas?" Tanya Vanya.
"Ccckkk. Aku tidak mau bekerja dengan kumpulan berkas-berkas itu hari ini. Aku mau bekerja dengan gulungan selimut dan bantal hari ini." Jawab Kenzo sambil tersenyum dan menaik turunkan alisnya saat menatap Vanya.
Glek
Glek
Glek
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Maaf telat ya, hari minggu othor nginem seharian 🤭
Mohon untuk terus memberikan dukungan buat othor, like, komen dan vote
Untuk karya baru dan informasi up, bisa di lihat di ig othor @keenandra_winda
Terima kasih