The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Part M2.62



Sementara di tempat lain, Bian sedang duduk berhadapan dengan papa Reyhan. Dia terlihat menundukkan kepalanya sambil menunggu papa Reyhan berbicara. Jantungnya berdegup sangat kencang manakala menunggu kata-kata yang hendak keluar dari bibir papa Reyhan.


"Bian,.."


"I-iya, Pa."


Papa Reyhan menghembuskan napas beratnya sebelum memulai untuk kembali berbicara.


"Papa tahu pernikahan ini sangat mendadak untuk kalian. Papa juga mengerti kekhawatiran kakek kamu. Papa hanya minta satu hal kepadamu." Kata papa Reyhan menjeda perkataannya.


Seketika Bian mengangkat kepalanya untuk menatap wajah papa Reyhan. Dia sedang harap-harap cemas menunggu perkataan papa Reyhan.


"Apa yang bisa aku lakukan, Pa?" Tanya Bian.


"Papa tidak meminta banyak hal. Papa hanya minta kamu menjaga Revina dengan baik. Seperti yang kamu ketahui, Revina adalah putri kami satu-satunya. Dia masih sangat muda. Revina bahkan tidak pernah pergi jauh dari kami, dia sangat manja kepada mamanya. Papa mohon, kamu bisa banyak bersabar menghadapinya. Bimbing dia agar menjadi lebih dewasa. Tegur dia jika dia salah. Kasih tahu dia jika dia melakukan kesalahan. Jangan sampai mendiamkannya. Revina tidak akan kuat didiamkan oleh orang-orang disekitarnya."


Bian yang mendengar perkataan papa Reyhan langsung mengangguk mengiyakan.


"Iya, Pa. Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk menjalani pernikahan ini." 


Papa Reyhan mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun dia belum terlalu mengenal Bian secara pribadi, tapi papa Reyhan cukup mengenal Bian di pekerjaannya. Bian adalah laki-laki yang sangat bertanggung jawab. 


"Papa percaya kalian bisa melakukannya. Papa menitipkan Revina kepadamu. Perlakukan dia dengan baik. Ingat, jika kamu sampai melukai hatinya, bukan hanya hati Revina yang terluka. Tapi, hati papa dan mama juga akan sangat terluka."


Bian kembali mengangguk mengiyakan. Sejak semalam, dia sudah bertekad untuk memulai pernikahan ini dengan baik. Dia juga sudah meyakinkan dirinya sendiri untuk belajar membuka hatinya untuk Revina, yang kini sudah menjadi istrinya.


"Iya, Pa. Papa tenang saja. Aku bukan tipe orang yang tega melukai hati seorang wanita. Dulu, aku punya mama dan kakak perempuan. Aku pasti juga akan sangat terluka jika melihat mereka disakiti oleh orang lain." Jawab Bian.


"Iya. Papa percaya kepadamu." Jawab papa Reyhan.


Setelahnya, mereka melanjutkan pembicaraan tentang banyak hal. Hingga hampir satu jam kemudian, papa Reyhan meminta Bian untuk kembali ke kamar pengantinnya. Papa Reyhan bilang jika Revina sudah menunggunya di sana. 


Seketika Bian merasa salah tingkah. Apalagi saat itu mama Fida juga terlihat datang menemui mereka.


"Revina sudah selesai bersih-bersih. Kamu bisa kembali ke kamar pengantin." Kata mama Fida.


Bian hanya bisa mengangguk mengiyakan. Dia sendiri masih bingung dengan statusnya yang kini sudah berubah menjadi seorang suami. Bian berpamitan kepada papa Reyhan dan mama Fida. Setelahnya, dia beranjak berdiri untuk menuju kamar yang sudah disiapkan untuknya dan Revina.


"Bian." Panggil mama Fida. 


"Iya, Ma."


"Pelan-pelan saja, ya. Tadi Revina bilang dia sedikit takut." Kata mama Fida.


"Eh, takut kenapa, Ma?" Tanya Bian sambil mengerutkan keningnya. Dia masih bingung dengan maksud perkataan mama Fida.


"Itu, malam pertama kalian. Maklum, ini kan pengalaman pertama untuk kalian." Jawab mama Fida sambil berusaha menahan senyumannya.


Papa Reyhan yang sudah paham maksud mama Fida pun langsung mencubit lengan sang istri. Sementara Bian, jangan ditanya lagi. Wajahnya langsung terasa panas karena malu dengan apa yang dikatakan mama Fida. Bian hanya bisa tersenyum dan mengangguk mengiyakan. Setelahnya, dia buru-buru pergi dari hadapan kedua mertuanya. Bisa-bisa dia akan diceramahi banyak hal oleh mama Fida.


Setelah Bian pergi, papa Reyhan langsung menoleh menatap wajah mama Fida yang tengah tersenyum lebar tersebut.


"Bisa-bisanya kamu menggoda menantumu seperti itu, Yang. Kasihan wajahnya sampai merah seperti itu." Kata pap Reyhan.


"Nggak apa-apa, Mas. Biar dia terbiasa." Jawab mama Fida dengan entengnya.


"Terbiasa? Maksudnya?"


"Ya, terbiasa seperti kamu dulu, Mas. Dulu kamu itu kan malu-malu. Bahkan, untuk menciumku pun kamu tidak berani. Tapi, setelah aku training beberapa hari, kamu sudah mulai terbiasa." Jawab mama Fida.


"Training, memang pekerjaan apa ada training segala." Dengus papa Reyhan.


"Iya. Pekerjaan memeras cairan keringat dan cairan…"


.


.


.


.


.


\=\=\=\=


Opo neh sih, Fid? Soyo tuwek kok soyo ndk nggenah 😪