The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Part M2.29



El menunggu Zee sambil membaca buku yang ada di ruangan tersebut. Sekitar tiga puluh menit kemudian, terdengar suara Zee mengagetkan aktivitas membaca El.


"Lhah, kenapa lo sudah datang jam segini? Ngebet banget mau tahu resep rahasia huh hah huh hah."


El menoleh menatap wajah Zee dan mendengus kesal.


"Ccckkk, sembarangan. Pemikiran apa itu." Gerutu El.


"Ya, habisnya gue kaget kenapa lo sudah datang. Tunggu sebentar, gue kasih laporan ke daddy dulu. Atau, lo mau masuk?" Tanya Zee.


"Nggak usah deh. Gue tunggu disini saja." 


Setelahnya, Zee langsung berjalan menuju ruangan sang daddy. Disana terlihat pak Doni menunggu dokumen yang diperiksa oleh daddy Ken.


"Lho, mas Zee sudah di tunggu mas El di sebelah." Kata pak Doni.


"Iya, Pak. Tadi sudah ketemu sebentar. Ini mau kasih laporan ke daddy dulu."


Pak Doni mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.


"Temannya mau dipesankan minuman apa, Mas?" Tanya pak Doni.


"Hah, siapa Pak?"


"Mas El. Mau dipesankan minuman apa?" Tanya pak Doni lagi.


"Lhah, memangnya El nggak puasa?" Tanya daddy Ken.


"Pasti puasa lah. Emangnya dia halangan." Jawab El.


"Lho, mas El itu Muslim?" Kali ini pak Doni benar-benar terkejut. 


"Iya, Pak. El itu Muslim. Jangan-jangan pak Doni melihat wajah bule nya dan berpikiran dia non muslim, ya." Tebak Zee.


"Hehehehe, iya Mas. Tadi bahkan saya sempat menawarkan minuman kepada mas El." Jawab pak Doni sambil tersenyum kikuk.


Seketika Zee dan daddy Ken tertawa terbahak-bahak. Tak berapa lama kemudian, Zee sudah selesai dengan laporannya. Dia segera pergi menemui El.


"Tau nggak, El. Tadi pak Doni kira lo itu nggak puasa. Dikiranya lo non muslim karena wajah bule lo." Kata Zee setelah duduk di depan El.


"Gue tahu. Tadi gue sempat ditawari minum sama dia. Ya gue jawab nanti saja, nanti waktu buka, lanjut gue dalam hati."


"Hahahaha, masih ada yang menganggap lo seperti itu gara-gara wajah bule lo." 


"Ya mau gimana lagi, wajah gue sudah terlanjur oke soalnya." Jawab El pongah.


"Heleh, wajah oke kok nggak laku-laku." Cibir Zee.


"Lah, sama saja. Lo kan juga seperti itu."


"Si*alan." Gerutu Zee sambil menendang kaki El. Setelahnya mereka tertawa bersama-sama.


"Apa yang mau lo tanyain ke gue?" Tanya Zee setelah beberapa saat kemudian.


"Ehm, itu…" El terlihat bingung bagaimana cara memulainya. Dia hanya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


Zee yang melihat tingkah sahabatnya hanya bisa tersenyum. Dia bisa mengerti maksud sahabatnya tersebut.


El mengangguk mengiyakan. Dia juga mengerti maksud perkataan Zee. Namun, saat ini dia sedang membutuhkan pendengar yang sekaligus bisa memberikannya saran.


"Iya, gue juga mengerti hal itu. Tapi, gue bingung bagaimana cara memulainya, Zee."


"Pertama-tama, lo harus berdamai dulu dengan hati lo. Ngomong-ngomong, li belum cerita bagaimana bisa sampai lo menikah dengan Fara. Itu dadakan banget. Jangan bilang lo sudah nyicil celap-celup, El?" Tanya Zee. Kedua matanya masih menyipit sambil menatap wajah El.


"Sembarangan celap-celup. Lo kira teh celup apa." Gerutu El. 


Setelahnya, dia mulai menceritakan awal mula pernikahannya. Mulai dari makan malam itu, hingga dia terpaksa mengatakan hal itu dihadapan semua orang. Zee hanya bisa mendengarkan tanpa berkomentar apappun sebelum El selesai bercerita.


"Lo masih menyukai Revi?" Tanya Zee.


El diam tidak menjawab pertanyaan Zee. Kalau boleh jujur, rasa itu masih ada meskipun tidak sebesar dulu. Zee yang melihat El masih dia tidak menjawab pertanyaannya kembali bersuara.


"Baiklah, gue ganti pertanyaannya. Lo masih mengharapakan Revi?" Tanya Zee.


Seketika El menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Gue sudah tidak mengharapkan apa-apa lagi kepada Revi." Jawab El dengan mantab.


Setelah mendengar jawaban El, Zee tersenyum. Setidaknya, sang sahabat sudah bisa mengendalikan hati dan logikanya.


"Jika lo sudah tidak mengharapkan apa-apa dari Revi, apa lagi yang lo tunggu. Lo hanya perlu ngobrol dengan Fara untuk meluruskan niat. Kalau perlu, paksa diri lo sendiri untuk hanya melihat Fara seorang. Dia istri lo, istri sah lo yang sudah menjadi tanggung jawab lo dan sah buat lo apa-apain." Kata Zee.


"Eh, maksudnya siap diapa-apain itu bagaimana?"


"Ccckkk, masih saja bertanya. Ogah gue jelasin hal itu siang-siang. Gue puasa. Lagian, jika ikut terpengaruh bisa pusing nanti. Mommynya Gen lagi halangan, masa iya gue harus konser solo, ogah."


"Makanya, otak kamu jangan kesana terus. Dulu saja bilangnya butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa membiasakan diri. Eh, tahu-tahunya bilang jika daddy akan punya cucu. Ccckkk, dasar nggak sabaran." Kata daddy Ken tang tiba-tiba sudah berada di belakang mereka.


"Itu kan juga gara-gara daddy dan mommy, ngapain juga memaksa pergi honeymoon. Ya mana tahan akunya Dad." Gerutu Zee.


"Bilang saja doyan." Ledek daddy Ken.


"Ya doyanlah. Mana ada orang nggak doyan mendaki bukit dan menjelajah lembah alami. Hanya orang-orang yang tidak normal yang tidak doyan dengan hal itu." Kata Zee.


"Eh, aku normal kok." Kata El tiba-tiba.


"Lah."


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Mumpung hari Senin sudah ada jatah vote, mohon bantuan votenya ya. Terima kasih untuk yang sudah sabar menunggu.