The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Rean 61



Setelah merasa cukup mengobrol, Kinan akhirnya menutup panggilan telepon saat mendengar suara beberapa orang di sana. Sepertinya, meeting yang dilakukan oleh Adrian belum selesai.


Namun, setelah panggilan telepon terputus, Kinan baru ingat tujuan awalnya menghubungi Adrian untuk meminta nomor ponsel mamanya.


"Astaga, kenapa tujuan utamaku justru malah terlupakan. Dan, apa itu tadi? Malah obrolan tidak penting yang terjadi." Kinan masih menggerutu kesal sebelum akhirnya menyantap makan malamnya.


Malam itu, Kinan memutuskan untuk beristirahat lebih awal. Esok hari, dia masih memiliki jadwal kuliah yang cukup padat. Ditambah lagi, persiapan yang harus dilakukannya untuk mengikuti seminar minggu depan.


Satu hari, dua hari, hingga kini tak terasa sudah mulai memasuki weekend. Selama beberapa hari ini, Kinan dan Adrian memang jarang sekali berkomunikasi. Hal itu disebabkan karena kesibukan Kinan dan Adrian dengan pekerjaannya masing-masing.


Weekend ini, Kinan mulai menyiapkan perlengkapan yang akan dibawanya untuk mengikuti seminar selama tiga hari. Besok siang, dia dan rombongan dari kampusnya akan bertolak ke Bandung, tempat dimana seminar tersebut diadakan.


Kinan mulai menuliskan barang-barang apa saja yang akan dibawanya ke tempat seminar. Setelah itu, Kinan pergi berbelanja untuk mencari barang-barang yang tidak dimilikinya.


Menjelang siang, Kinan sudah kembali ke rumah. Dia juga segera memasak masakan sederhana untuk menu makan siangnya. Di sela-sela aktivitasnya memasak, terdengar suara bunyi ponselnya. Kinan segera mengangkat panggilan telepon tersebut saat melihat siapa yang menghubunginya.


"Hallo, Den," sapa Kinan. Ya, saat itu yang sedang menghubunginya adalah Dena, sang sahabat.


"Kamu di rumah?" tanya Dena di seberang sana.


"Ah, iya, nih. Beresin buat persiapan besok. Ada apa, Den?"


"Ehm, i-itu, boleh aku minta tolong nggak?" Suara Dena terdengar ragu-ragu dari seberang sana.


"Eh, minta tolong apa?"


"Ehm, aku penasaran dengan cerita kamu tentang si Om Adrian. Bahkan, sampai terbawa mimpi semalam. Bisa kamu screenshoot saat kalian video call, nggak?" Lagi-lagi Dena merasa tidak enak dengan permintaannya.


Entah mengapa di usia kehamilannya yang sudah memasuki trimester kedua tersebut, ngidam Dena belum juga hilang. Bahkan, Rean pun juga terkadang mengalaminya. Apakah itu efek dari hamil triplet? Entahlah. Dena sendiri juga terkadang bingung mengapa hal itu terjadi.


"Eh, video call? Sam si Om?" Ulang Kinan seakan tidak mempercayai pendengarannya.


"Ehm, iya."


Fix. Kali ini, Kinan benar-benar bingung. Selama ini, jika Dena tengah ngidam dan membutuhkan bantuannya, dia bisa dengan mudah membantu sahabatnya tersebut. Namun, untuk saat ini, Kinan merasa bingung harus melakukan apa.


Bukannya Kinan tidak mau membantu Dena, hanya saja, selama ini dia memang tidak pernah melakukan panggilan video dengan Adrian. Beberapa kali mereka berkomunikasi hanya melalui panggilan telepon biasa.


Karena Kinan belum juga mengiyakan, Dena menjadi tidak enak hati terhadap sahabatnya tersebut.


"Ehm, maaf Kin. Aku juga tidak tahu mengapa tiba-tiba ingin melihat screenshot an kalian saat melakukan video call. Jika hal itu memberatkan kamu, tidak apa-apa, kok. Jangan terlalu di paksa. Okay?"


Kinan segera tersadar. Tentu saja dia tidak akan setega itu menolak keinginan sahabatnya yang sedang mengandung tiga calon keponakannya tersebut.


"Kamu ngomong apa sih? Nggak, bukan seperti itu. Ehm, sebenarnya, Om Adrian sedang tidak ada di Jakarta. Dia sedang di Lombok. Beberapa hari ini dia harus ke Balikpapan, Ternate, dan terakhir ke Lombok untuk urusan pekerjaan." Kinan mencoba menjelaskan.


"Oh, begitu, ya. Kalau begitu, tidak usah saja. Aku nggak mau merepotkan." 


"Eh, siapa bilang merepotkan. Tidak, kok. Kamu tenang saja. Setelah ini, aku pasti akan menghubunginya via video." Kinan berusaha meyakinkan Dena.


"Eh, yakin bakal diangkat? Apa tidak mengganggu?"


\=\=\=


Hhhmmm, kira-kira bakal diangkat nggak ya panggilan telepon Kinan oleh Adrian?