
Hari itu, Cello dan Shanum berangkat dengan mobilnya sendiri-sendiri. Shanum harus ke kampus, sedangkan Cello harus memantau perkembangan pembangunan cafe yang berada tak jauh dari kantor sang daddy.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Shanum sudah sampai di parkiran mahasiswa. Dia segera bergegas menuju ruang kelasnya karena perkuliahan akan dimulai sepuluh menit lagi. Shanum segera menuju tangga karena ruang kelasnya ada di lantai dua. Namun, saat hendak berbelok, Shanum mendengar sebuah suara memanggil namanya. Shanum menghentikan langkah kakinya untuk mencari tahu siapa yang memanggilnya.
"Eh, kak Dio. Ada apa, Kak?" Tanya Shanum sambil berbalik. Ya, saat itu yang telah memanggil Shanum adalah Dio, kakak tingkatnya di fakultas yang sama.
"Kamu ada kuliah pagi?"
"Iya, Kak. Sebentar lagi mulai ini."
"Ehm, sampai jam berapa jadwal kuliah kamu hari ini?"
"Sampai jam ketiga, sih. Memangnya ada apa, Kak?" Tanya Shanum sambil mengerutkan keningnya. Pasalnya, dia sedikit bingung dengan sikap Dio.
"Ehm, mau jalan sehabis kuliah nanti?" Tanya Dio sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Shanum sedikit mengangkat kedua alisnya saat mendengar perkataan Dio. Dia benar-benar terkejut dengan ajakan yang baru saja Dio sampaikan. Namun, Shanum buru-buru menolak ajakan tersebut.
"Maaf, Kak. Hari ini aku sudah ada acara. Sekali lagi aku minta maaf," kata Shanum sambil sedikit mengulas senyumannya.
"Ah, tidak apa-apa. Mungkin bisa lain kali," kata Dio sambil tersenyum ramah.
Shanum tidak menjawab perkataan Dio. Dia buru-buru segera pamit untuk menuju kelasnya. Hari itu, Shanum benar-benar harus fokus pada kuliahnya.
Sementara di tempat pembangunan cafe Cello, dia terlihat sedang berdiskusi dengan beberapa orang. Cello menyampaikan keinginannya tentang cafe tersebut. Cukup lama mereka berdiskusi hingga seseorang mendatangi Cello.
"Permisi, Mas," sapa seseorang yang baru saja datang menghampiri Cello tersebut.
Seketika Cello menoleh dan mendapati asisten sang daddy berada disana. Ya, Fajar lah yang saat itu berada di sana.
"Om Fajar? Ada apa, Om?" Tanya Cello setelah berpamitan kepada beberapa orang yang berbicara dengannya tadi.
"Begini, Mas. Nanti malam ada undangan untuk menghadiri pembukaan restoran baru. Mas Cello diminta untuk menggantikan daddy mas Cello nanti malam."
"Kenapa harus saya, Om? Memangnya daddy kemana?" Tanya Cello sambil menatap ke arah Fajar.
"Daddynya mas Cello harus berangkat ke Semarang sore ini. Besok sudah harus ada di sana. Cabang di Semarang sedang masalah serius yang harus ditangani langsung."
Cello menghembuskan napas beratnya setelah mendengar jawaban dari Fajar.
"Kenapa tadi pagi daddy nggak ngomong sih, Om. Dadakan sekali," gerutu Cello.
"Keputusannya juga baru ini tadi, Mas. Sekarang bahkan masih meeting online dengan para petinggi perusahaan."
Lagi-lagi Cello harus menghembuskan napas beratnya. Dia melirik jam di ponselnya dan ternyata sudah mendekati waktu makan siang. Cello mengajak Fajar sekalian makan siang bersama.
"Nanti, mas Cello bisa datang dengan mbak Shanum. Hitung-hitung belajar mengenal para kolega daddynya mas Cello," kata Fajar sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
"Aku hanya kenal beberapa, Om. Itu pun yang masih seusia daddy. Jika lebih tua, aku juga pasti tidak kenal."
"Ya, siapa tahu nanti juga akan kenal." Jawab Fajar sambil menoleh memanggil waiter untuk memesan minuman kembali.
Saat itu, netra Cello benar-benar terkejut saat melihat leher Fajar di sebelah kanan. Tepatnya, dibawah telinga sebelah kanan. Ada beberapa stempel alami yang tercetak dengan jelas di sana. Bahkan, warnanya benar-benar sangat merah di beberapa tempat.
Cello benar-benar terkejut melihat hal itu. Keningnya langsung berkerut saat menyadari sesuatu.
"Om, memangnya segalak apa istri Om saat di ranjang?"
"Eh,"
•••
Yang sudah mampir ke cerita Fajar, nanti akan tahu seberapa 'galaknya' istri Fajar 🤭
Bagi yang sudah tahu gaya othor bercerita tentang hokya-hokya pasti langsung paham. Hehehe 🤭