
Tak berapa lama kemudian, mobil yang dikemudikan oleh Rean sudah memasuki halaman rumah sakit. Pada saat itu, perut Shanum sudah kembali merasakan kontraksi. Cello dan Rean sudah benar-benar panik. Rean bahkan sudah berteriak-teriak heboh di depan igd untuk meminta bantuan para perawat yang sedang berjaga di sana, sementara Cello berusaha menenangkan Shanum yang masih berada di dalam kendaraan.
Beberapa saat kemudian, Shanum sudah dibawa ke ruang bersalin. Cello dan Rean masih mengekori ke mana Shanum di bawa. Hingga langkah kaki mereka dihentikan oleh seorang perawat yang juga turut membantu Shanum tadi.
"Maaf, diantara Anda berdua, siapa yang menjadi suami pasien?"
Cello dan Rean yang memang mengikuti Shanum tadi langsung menoleh ke arah perawat tadi.
"Dia, Sus." Kata Rean sambil menunjuk ke arah Cello.
"Iya. Saya, Sus. Saya suaminya." Jawab Cello sambil berjalan sedikit mendekat.
"Bisa ikut saya sebentar, Pak? Anda harus mengurus administrasi terlebih dahulu."
"Oh baiklah," kata Cello sambil menoleh ke arah Rean. "Re, bisa minta tolong kamu temani kakak kamu dulu ya."
"Iya, Kak."
Setelahnya, Cello dan Rean berpisah. Mereka berjalan ke arah yang berbeda. Rean langsung berjalan dengan cepat untuk menyusul ke arah Shanum di bawa.
Rean masih berada di depan ruang persalinan. Shanum baru saja dibawa masuk ke dalamnya dan segera mendapatkan pemeriksaan dari dokter Risma. Beruntung tadi bi Yam sudah menelepon dokter Risma, sehingga beliau sudah menunggu kedatangan Shanum.
Di dalam ruangan, Shanum langsung diperiksa oleh dokter Risma. Saat itu, Shanum sudah merasakan kontraksinya sedikit berkurang.
"Sudah pembukaan empat, Bu. Sebaiknya, dipakai jalan-jalan dulu untuk mempercepat pembukaan," ucap dokter Risma.
"Baik, Dok."
"Ehm, dimana suaminya? Apa tidak ikut?"
"Sepertinya masih mengurus administrasi, Dok. Tapi ada adik saya di luar." Jawab Shanum yang memang tadi sempat melihat keberadaan Rean.
Rean segera memasuki ruangan persalinan tersebut. Dilihatnya, Shanum sudah bersiap untuk menuruni brankar dengan bantuan seorang perawat. Rean segera membantunya untuk turun.
"Masih harus jalan-jalan ya, Kak?" Tanya Rean setelah mereka keluar dari ruang persalinan.
"Iya. Karena dengan berjalan-jalan, akan membuat tekanan pada kepala janin pada mulut rahim sehingga akan membantu mempercepat pembukaan persalinan. Jalan kaki juga membantu menstimulasi kontraksi yang kemudian mendorong proses pembukaan. Begitu kata dokter Risma dulu." Jelas Shanum. Saat itu, dia belum merasakan kembali kontraksi pada perutnya.
Rean masih dengan setia menemani sang kakak berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Beruntung saat itu adalah malam hari, jadi aktivitas di rumah sakit tersebut tidak terlalu padat.
"Mas Cello belum selesai?" Tanya Shanum sambil mengeratkan pegangannya pada lengan Rean. Dia sudah mulai merasakan kontraksi kembali.
"Sepertinya belum, Kak. Mungkin sebentar lagi."
Shanum hanya bisa menganggukkan kepalanya. Dia kembali fokus dan mencengkram erat lengan Cello saat terjangan kontraksi tersebut kembali melanda.
"Auuughhhh," rintih Shanum.
"Mulai lagi ya, Kak? Mau duduk dulu?" Tawar Cello. Dia benar-benar tidak bisa melihat sang kakak kesakitan seperti itu. Rean benar-benar tidak tega.
"Boleh. Duduk di kursi depan sebentar," jawab Shanum.
Rean segera membawa Shanum untuk duduk di kursi yang berada tak jauh dari lift.
Saat itu, bersamaan dengan terbukanya pintu lift. Terlihat seorang perempuan baru saja keluar dari dalam lift tersebut sambil membawa sebuah kantong yang berisi makanan.
Perempuan tersebut cukup terkejut saat melihat Rean sedang membantu Shanum mendapatkan posisi yang nyaman untuknya.
"Ccckkk, sudah punya istri juga masih suka menggoda perempuan di kampus," gumamnya.