The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Part M2.27



Setelah makan malam itu, daddy Kenzo mengajak El untuk ngobrol di gazebo dekat kolam renang.


"El, Daddy tahu pernikahan kalian ini terkesan mendadak. Dan, Daddy juga tahu bagaimana perasaan kalian. Dulu, Daddy dan mommy kamu juga mengalami hal yang sama seperti apa yang kalian alami." Kata daddy Kenzo.


"Hhaah? Daddy serius?" Tanya El terkejut.


Daddy Kenzo mengangguk mengiyakan. Setelah itu, daddy mulai menceritakan garis besar awal mula pernikahan mereka. Awal bagi mereka yang memang sebagai orang asing, hingga tumbuh rasa diantara mereka. El mendengarkan secara seksama cerita sang daddy yang memang sedikit mirip dengan kisahnya.


"Jadi, Daddy dan mommy juga mengalami hal semacam ini sebelumnya?" Tanya El.


"Hhhmmm. Oma kamu benar-benar meminta Daddy untuk segera menikahi mommy kamu waktu itu." 


"Lalu, bagaimana Daddy dan Mommy bisa mulai saling jatuh cinta?" Tanya El penasaran.


"Entahlah. Rasa itu datang dengan sendirinya. Yang pasti, kami berdua sama-sama meluruskan niat untuk menjalani pernikahan ini dengan sungguh-sungguh. Daddy benar-benar berusaha untuk menjadikan mommy kamu satu-satunya wanita di dalam hati Daddy. Tidak ada yang namanya sahabat wanita selain mommy kamu. Daddy juga tidak pernah menceritakan masalah pribadi apapun selain kepada mommy kamu. Dan hal itu juga berlaku untuk mommy kamu."


"El, Daddy juga berharap kamu bisa melakukan hal yang sama kepada Fara. Sebagai seorang laki-laki, kamu sudah berjanji mengambil tanggung jawab atas Fara. Jangan melanggar janji yang kamu ucapkan di hadapan para saksi dan Tuhan. Kalian sudah mengambil keputusan untuk menikah. Sudah seharusnya kalian meluruskan niat dan memulai segala sesuatunya dengan baik." Kata daddy Kenzo.


El mengangguk mengerti maksud perkataan sang daddy. Benar, dirinya dan Fara memang harus meluruskan niat dan memulai segala sesuatunya dari awal.


"Iya, Dad. Daddy benar. Aku dan Fara memang sudah seharusnya meluruskan niat. Aku akan memulainya pelan-pelan." Kata El.


"Bagus. Itu baru anak Daddy." Kata daddy Kenzo sambil menepuk-nepuk bahu El.


"Ehm, ada yang ingin aku tanyakan, Dad." Kata El nampak ragu-ragu.


Daddy Kenzo menoleh menatap wajah sang putra dengan kening berkerut. Melihat tinghak ragu-ragu sang putra, daddy bisa menebak jika sang putra akan menanyakan masalah hokya-hokya.


"Kamu ingin menanyakan aktivitas ranjang?" Tanya daddy Kenzo langsung.


El nampak terkejut sambil menoleh menatap sang daddy.


"Eh, i-itu a-anu…." El nampak kikuk berbicara dengan sang daddy. Dia hanya bisa tersenyum nyengir sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


"Untuk masalah itu, bicarakan baik-baik dengan istri kamu. Apalagi istri kamu masih sangat muda, perlakukan dia dengan lembut. Kesan pertama, menentukan episode selanjutnya." Kata daddy Kenzo.


"Memangnya sinetron ada episode selanjutnya segala." Gerutu El.


"Ini jauh lebih menarik dari pada sinetron atau film. Daddy yakin, jika kamu sudah terjatuh kedalam gua tersebut, kamu pasti tidak akan mau berhenti. Kamu pasti akan dengan senang hati dan sukarela jatuh ke dalamnya." Kata daddy Kenzo sambil tersenyum jahil.


El yang melihatnya semakin kesal. Senyuman meledek yang ditunjukkan oleh sang daddy bisa terasa sangat menyebalkan bagi El. Setelahnya, mereka kembali melanjutkan obrolan ringan. Hingga terdengar suara mommy Vanya memanggil dari depan pintu.


"Kalian ini sudah malam masih saja ghibah disini. Mau Mommy kunciin di luar dan tidak bisa masuk kamar?" Kata mommy Vanya sambil melipat kedua tangannya didepan dada.


"Eh, enggak-enggak, Yang. Jangan dikunciin dong. Bulan Ramadhan bisa anget-anget hanya waktu malam hari malah di kunciin di luar, mungkret karena kedinginan nanti Yang." Gerutu daddy Kenzo sambil beranjak berdiri.


"Diajarin apa sih, Yang. Ya kali El aku ajarin hokya-hokya." Jawab daddy Kenzo.


El hanya bisa mendengus kesal mendengar perdebatan orang tuanya. Tanpa menoleh lagi El langsung nyelonong masuk ke dalam rumah.


"Mommy dan daddy jika mau adu mulut sana di dalam kamar. El mau tidur." Kata El sambil berjalan melewati orang tuanya.


Selanjutnya, El melangkahkan kakinya menuju kamarnya yang berada di lantai dua rumah tersebut. Dia mengedarkan pandangannya ke ruang tengah dan dapur, namun tidak menemukan keberadaan sang istri. El bisa menebak jika Fara sudah berada di dalam kamarnya.


Ceklek.


Pintu kamar terbuka. El mendorong pintu tersebut dan berjalan memasuki kamar. Dia tidak mendapati sang istri berada di sana. Mungkin di dalam kamar mandi atau walk in closet, pikir El. Dan, benar saja. Fara baru saja keluar dari walk in closet sambil membawa boxer dan kaos untuk El.


Bukan kaos dan boxer yang di bawa Fara yang membuat El membulatkan mata dan mulutnya. Namun, baju tidur yang dipakai Fara yang membuat tubuhnya meremang seketika. Fara tampak canggung saat mendapati El menatapnya tak berkedip.


"Ehm, kaosnya, Mas." Kata Fara sambil berjalan mendekat ke arah El untuk memberikan kaos dan boxer tersebut.


Glek


Glek


Glek


El bersusah payah menelan salivanya saat Fara mendekat ke arahnya. Kedua bola matanya seolah tak rela untuk berpaling, bahkan untuk berkedip pun El benar-benar merasa berat.


"Baju apa yang kamu pakai?" Tanya El masih tak memindahkan pandangannya.


"Ehm, i-ini mommy yang memaksa untuk memakainya, Mas. Bahkan, tadi mommy sendiri yang menungguku untuk berganti baju. Aku nggak enak untuk menolaknya." Jawab Fara sambil menunduk.


El benar-benar geram dengan ulah sang mommy. Bisa-bisa akan ada yang sesak semalaman tapi bukan napas.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Terima kasih untuk yang masih sabar menunggu.