The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 133



Hari yang ditunggu-tunggu bagi Rean pun sudah tiba. Acara ijab qobul di kediaman Dena sudah dilakukan sejak kemarin pagi. Kini, acara ngunduh mantu keluarga Rean pun sudah dilakukan. Meskipun dari kedua keluarga tidak mengadakan acara besar-besaran karena menghormati keluarga Dena yang baru saja mengalami musibah. Kakek Dena baru saja meninggal sekitar dua minggu sebelum acara ijab qobul dilakukan.


Acara ngunduh mantu di kediaman orang tua Rean pun sudah dimulai sejak pukul sepuluh tadi pagi. Para undangan yang hadir hanya merupakan keluarga dan sahabat dekat saja. Keluarga Rean bahkan hanya mengedarkan sekitar tujuh puluh tamu undangan termasuk rekan bisnis dan sahabat mereka.


Sore itu, acara pun sudah selesai. Keluarga terdekat juga sudah mulai berpamitan. Shanum yang memang masih berada di rumah orang tuanya bersama dengan twins masih ikut membantu pelaksanaan acara, meskipun hanya membantu mengawasi dan mengarahkan para pekerja.


"Sayang, sepertinya Dryn haus, dari tadi gelisah terus ini. Kamu kasih asi dulu gih," kata papa Bian sambil membawa Dryn mendekat ke arah Shanum.


"Coba sini aku kasih asi dulu, Pa. Si kakak juga sudah tidur," jawab Shanum sambil masih mengulurkan tangannya saat papa Bian memberikan Dryn.


Shanum segera menyusui Dryn ke dalam kamarnya. Setelah itu, papa Bian langsung beranjak menuju halaman depan. Dia kembali mengawasi para pekerja yang sedang sibuk membereskan perlengkapan acara.


"Yan, kemana anak kamu?" Tanya papa Reyhan sambil mendekati sang menantu. Usia papa Reyhan yang sudah hampir mencapai tujuh puluh tahun tidak membuatnya terlihat tua. Justru papa Reyhan terlihat masih sangat bugar karena mama Fida benar-benar sangat ketat menjaga pola makan papa Reyhan.


"Entahlah Pa. Mungkin di dalam kamarnya."


Papa Reyhan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Belum sempat dia menanggapi perkataan papa Bian, terdengar suara mama Fida dari dalam rumah memanggilnya. Mau tidak mau papa Reyhan langsung beranjak meninggalkan sang menantu.


Malam itu adalah makan malam pertama bagi Dena di keluarga suaminya. Dia terlihat bisa menyesuaikan diri. Senyum ramah masih tersungging pada bibirnya sepanjang makan malam tersebut.


"Eh, ngomong-ngomong, ini bagaimana aku memanggil kamu ya? Kalau secara usia, aku lebih muda dari kamu," kata Shanum.


"Ehm, panggil Dena saja Kak, meskipun usiaku lebih tua, tapi aku sudah jadi adik ipar kamu kan," jawab Dena sambil mengulas senyumannya.


"Nggak apa-apa juga kali, Kak. Aku juga hanya panggil nama. Nggak lucu kan jika nanti waktu iyes no iyes no aku panggilnya aauuhh iya Bu, auuhhhh…," belum sempat Rean melanjutkan perkataannya, Dena sudah mendaratkan cubitan pada pahanya. Tentu saja dia merasa sangat malu dengan apa yang dikatakan sang suami.


Semua orang langsung tergelak saat mendengar perkataan Rean. Mereka merasa geli sendiri saat membayangkan apa yang dikatakan oleh Rean tersebut. Bisa-bisa mereka berasa seperti ibu dan anak nantinya. Hehehehe.


Acara makan malam tersebut berlangsung dengan cukup hangat. Keluarga Rean benar-benar merasa bahagia dengan pernikahan Rean. Mereka juga menyambut kehadiran Dena di keluarganya dengan hangat.


Malam itu, Shanum segera beranjak menuju kamarnya setelah menyelesaikan makan malamnya. Baby Sitter yang menjaga kedua putranya tersebut sudah memberitahu jika Drew dan Dryn bangun. Shanum segera menyusui mereka bergantian.


Saat sedang menidurkan kedua jagoannya, tiba-tiba Rean nyelonong masuk ke dalam kamar sang kakak.


"Kak, punya roti tawar?" tanya Rean.


Seketika Shanum menoleh ke arah sang adik. Keningnya berkerut mendengar pertanyaan Rean.


"Kenapa tanya roti tawar disini? Sana cari di dapur, Re."


"Bukan roti tawar buat mulut atas. Tapi roti tawar buat mulut bawah."


"Hhaa?"