
Gumaman Adrian mampu didengar dengan baik oleh Kinan. Namun, dia pura-pura tidak mendengar dan berjalan begitu saja melewati Adrian untuk memasang lilin di ruang makan dan dapur.
Reflek, Adrian mengarahkan lampu senter hp nya kemanapun langkah kaki Kinan. Bahkan, Adrian tidak sadar jika posisi tubuhnya saat ini sudah berubah jadi miring menghadap ke arah Kinan.
Bukannya Kinan tidak sadar dan gugup, namun dia pura-pura tidak menyadari reaksi Adrian. Kinan tidak mau jika Adrian akan merasa ketakutan saat mengetahui istrinya bar-bar.
"Hujannya semakin deras, Mas. Semoga tidak sampai banjir," ucap Kinan sambil melangkah kesana kemari.
Adrian yang masih mengikuti langkah kaki Kinan, bahkan tidak mendengar dengan jelas apa yang Kinan ucapkan. Otak Adrian sudah dipenuhi dengan banyak adegan yang kira-kira bisa dilakukannya untuk menjamah tubuh sang istri.
Kinan yang merasa tidak mendapatkan respon dari Adrian, langsung menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke arah Adrian.
"Ada apa, Mas?"
Sontak saja pertanyaan Kinan tersebut membuat Adrian gelagapan dan salah tingkah. Saking kagetnya, dia langsung menjatuhkan ponselnya ke atas lantai. Alhasil, ponsel tersebut langsung retak di bagian ujung layarnya.
"Eh, pecah ya, Mas?" tanya Kinan yang buru-buru mendekat.
Adrian yang sudah mengambil kembali ponselnya tersebut, langsung memeriksa kerusakan yang dialami oleh ponsel itu.
"Hhmm, sedikit. Tidak apa-apa. Besok aku ganti lagi," jawab Adrian sambil sedikit melirik ke arah Kinan yang tidak disadarinya sudah duduk menempel pada lengan kanannya.
Tentu saja hal itu membuat Adrian semakin salah tingkah. Jantungnya mendadak berdegup semakin kencang. Dan, entah mengapa napasnya mulai memburu.
Adrian merasa, Kinan yang duduk menempel seperti itu, membuat kinerja otak dan jantungnya menjadi tidak sehat. Apalagi, wangi parfum yang dipakai oleh Kinan, benar-benar membuatnya gerah dan merasa semakin sesak.
Adrian bergerak-gerak gelisah. Dan, hal itu tak luput dari perhatian Kinan.
"Ada apa, Mas? Apa ada yang salah?" tanya Kinan yang justru semakin menempelkan tubuhnya. Dia sengaja memancing sang suami agar bisa lebih agresif. Apalagi, suasananya benar-benar mendukung.
"Jika tidak ada, jangan jauh-jauh duduknya. Di luar dingin. Deketan sini, ih. Biar anget."
Kinan semakin berani. Dia menarik lengan kanan Adrian dan mendekapnya dengan erat. Karena Kinan tidak memakai apa-apa lagi di balik baju tidurnya, tentu saja lengan Adrian dapat merasakan jika lengannya terjepit benda kenyal tersebut.
Hal itu sontak saja membuat darah Adrian berdesir hebat. Apalagi, Kinan semakin berani menempel ke arah sang suami. Dia bahkan tidak segan-segan mendekatkan wajahnya pada pipi Adrian dan meninggalkan sebuah kecupan di sana.
Kini, Adrian merasakan tubuhnya langsung menegang. Dan, tidak hanya itu. Tonggak kehidupannya kini sudah mulai menggeliat karena sentuhan Kinan dan tindakan tiba-tiba yang dilakukannya.
"A-apa yang kamu lakukan?" Adrian masih gugup.
"Aku hanya kedinginan, Mas. Diluar hujan, ditambah mati lampu lagi. Enaknya ya menempel seperti ini."
Kinan tanpa ragu semakin menempelkan tubuhnya pada tubuh Adrian. Bahkan, dia semakin berani dengan memeluk tubuh Adrian dari samping.
"I-ini…," ucapan Adrian bahkan belum selesai saat tiba-tiba Kinan melepaskan pelukan tangannya dan menyambar bibir sang suami.
"Eehmmm hhmmn hhmmmpphhh."
Kedua bola mata Adrian langsung terbuka saat mendapati serangan tiba-tiba dari sang istri. Tak lama, pertemuan benda kenyal tersebut berakhir. Kini, tatapan kedua pasang mata tersebut saling bertemu dalam jarak yang sangat dekat.
"Jika kamu terus menggodaku seperti ini, aku tidak akan sanggup lagi menahan diriku sendiri," ucap Adrian sambil menatap sayu wajah Kinan.
"Aku tidak mau kamu menahannya, Mas. Justru, aku mau kamu kelepasan."
•••
Sabar, up nya gantian ya.