
Daddy El hanya bisa menghembuskan napas beratnya. Dia benar-benar bingung harus menjawab apa. Di satu sisi, dia ingin Cello bisa berangkat dan mengembangkan kemampuannya. Namun, disisi lain, dia juga tidak ingin memisahkan sang putra dengan anak dan istrinya.
"Apa kamu tidak bisa berangkat sendiri dulu, Cell?" tanya daddy El.
Seketika Cello langsung mencebikkan bibirnya setelah mendengar perkataan sang daddy.
"Memangnya Daddy bisa tinggal jauh dari mommy?" tanya Cello sambil menatap wajah daddy El.
Daddy El lagi-lagi hanya bisa menghembuskan napas beratnya. Benar, dia sendiri saja tidak mungkin bisa tinggal jauh dari sang istri, apalagi Cello yang masih sangat muda dan memiliki dua orang putra tersebut.
"Kamu benar, Cell. Daddy sendiri juga tidak yakin bisa tinggal jauh dari mommy kamu."
Ayah dan anak tersebut sama-sama menghembuskan napas beratnya. Mereka benar-benar bingung harus bagaimana menyikapi keadaan tersebut.
"Sekarang anak-anak kamu kan masih kecil, Cell. Belum genap satu bulan. Mana mungkin kamu akan mengajak mereka ke sana,"
"Daddy benar. Jika aku harus mengajak Shanum dan twins, paling tidak harus menunggu usia mereka tiga bulan dulu baru bisa diajak kesana." Jawab Cello sambil mendesahkan napas beratnya.
"Tenang saja Cell. Kegiatan pelatihan tersebut masih akan dimulai satu bulan lagi. Jadi, jika kamu ingin mengajak mereka, mereka bisa menyusul jika usia anak-anak kamu sudah tiga bulan. Kamu tidak akan sendirian terlalu lama disana."
Cello kembali menimbang-nimbang sesuatu. Dia benar-benar belum bisa memutuskan apapun untuk hal itu. Biar bagaimanapun juga, Cello benar-benar harus membicarakannya dengan sang istri.
"Aku belum bisa memutuskannya, Dad. Aku juga harus membahasnya dengan Shanum."
"Harus itu, Cell. Kamu memang harus membahasnya dengan Shanum. Tapi, jangan bahas hal itu sekarang. Istri kamu masih baru melahirkan. Jika dia terlalu stress memikirkan hal ini, daddy khawatir nanti akan berpengaruh kepada kedua putra kamu."
"Ah, iya benar, Dad."
Cello mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Setelahnya, mereka kembali mengobrol tentang perkembangan cafe dan tempat futsal yang kini dikelola oleh sahabat Cello, Aldi.
Menjelang pukul sepuluh malam, Cello segera kembali ke kamarnya. Dia melihat sang istri tengah tertidur di atas sofa yang biasa digunakannya untuk menyusui twins. Cello memeriksa kedua buah hatinya sebentar, sebelum memindahkan sang istri ke atas tempat tidur.
"Eh, Mas. Sudah selesai membahas pekerjaan dengan daddy?" tanya Shanum. Ya, dia terbangun saat merasakan tubuhnya melayang. Ternyata, Cello sudah membopongnya dan hendak memindahkannya ke atas tempat tidur.
"Maaf aku membangunkanmu, Yang."
"Nggak apa-apa, Mas. Aku ketiduran tadi."
Cello membantu Shanum untuk merebahkan diri diatas tempat tidur. Cukup lama netra mereka saling mengunci. Entah sejak kapan mereka sepertinya sudah lama tidak memiliki quality time sendiri.
Shanum segera mendekatkan wajahnya pada wajah Cello, dan mendaratkan sebuah kecupan pada bibir sang suami. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Cello langsung membalas perlakuan Shanum. Cukup lama mereka saling bertukar saliva hingga lidah mereka saling terbelit.
Tangan kiri Cello bahkan sudah nangkring pada pabrik nutrisi Drew dan Dryn. Cello memberikan sedikit re*ma*san di sana hingga membuat Shanum benar-benar tersentak kaget. Namun ternyata, bukan hanya Shanum yang tersentak kaget dengan apa yang dilakukan oleh Cello. Cello juga langsung melepas pagutan keduanya.
"Yang, tanganku basah," kata Cello sambil melihat ke arah tangannya.
"Tentu saja basah, Mas. Kamu keras sekali pegangnya. Jadi nyembur, deh."
"Eh, ternyata sama dengan punyaku, ya. Jika dipegang terus, lama-lama juga nyembur."
🙄🙄