The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Part M2.39



Revina jadi ikut pulang dengan mobil Bian. Sepanjang perjalanan, Revina masih sempat mencuri-curi pandang kepada Bian. Dia bahkan beberapa kali sengaja membenahi posisi duduknya agar lebih bisa sedikit menghadap ke kanan. Bian menyadari apa yang dilakukan oleh Revina.


"Apa kamu tidak nyaman?" Tanya Bian. Dia menolehkan kepalanya hingga kini menghadap ke arah Revina.


"Eh, nyaman kok Pak. Bahkan nyaman sekali." Jawab Revina.


Bian hanya mengangguk mengiyakan. Keheningan kembali terjadi selama beberapa menit kemudian. Setelahnya, Bian mulai membuka suara.


"Presentasi kamu hari ini lumayan bagus. Sepertinya kamu sudah terbiasa melakukannya." Kata Bian.


"Ehm, tidak juga Pak. Saya hanya pernah dua kali ikut bu Neni ketika rapat." Jawab Revina.


Bian hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kamu masih magang, kan?"


"Iya, Pak. Dua bulan lagi masa magang saya selesai. Semoga saya bisa menjadi karyawan tetap di GP. Hehehe."


"Semoga berhasil. Kerja kamu lumayan bagus." Kata Bian.


"Aamiin. Terima kasih, Pak."


Hari itu, langit Jakarta mulai menggelap. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Udara panas sudah mulai terasa sejak siang tadi.


"Dimana rumah kamu?" Tanya Bian.


"Eh, Bapak mau ke rumah saya?" Bukannya menjawab pertanyaan Bian, Revina justru malah balik bertanya.


"Saya akan mengantarmu pulang. Sepertinya mau hujan."


"Oh, tidak usah Pak. Nanti kita melewati Abram Corp. Saya bisa turun di sana." Jawab Revina. Ya, Revina akan ikut pulang dengan sang papa. Dia tidak mau merepotkan Bian dengan harus mengantarnya pulang, meskipun sebenarnya dia ingin berlama-lama bersama Bian.


"Kenapa harus ke Abram Corp" Tanya Bian.


"Ehm, papa saya bekerja di sana?"


"Eh, serius?"


"Iya, Pak."


"Papa kamu bekerja dibagian apa?" Tanya Bian.


"Eh, i-itu sebenarnya papa adalah asisten CEO di sana Pak."


"Hah? Pak Reyhan Aditama?" Bian begitu terkejut mendengarnya. Dia tidak menyangka jika Revina adalah anak dari Reyhan.


"Bapak mengenal papa saya?"


"Iya. Kami sering bertemu di beberapa kesempatan."


Revina mengangguk mengiyakan. Tak berapa lama kemudian, Bian menghentikan mobilnya di sebuah toko kue. Revina mengernyitkan keningnya saat melihat hal itu.


"Maaf kita mampir sebentar. Aku sesuatu yang harus aku beli." Kata Bian.


"Iya, Pak. Tidak apa-apa." Jawab Revina sambil tersenyum.


Setelahnya, Bian segera keluar dari mobil dan berjalan memasuki toko kue tersebut. Revina masih diam di dalam mobil sambil memainkan ponselnya. Sekitar sepuluh menit kemudian, Bian terlihat keluar dari toko tersebut sambil membawa sebuah kotak kue. Bian membuka pintu belakang dan meletakkan kue tersebut di dalamnya. Revina masih melirik aktivitas yang dilakukan Bian. Dia tidak berani bertanya.


"Kita langsung ke Abram Corp?" Tanya Bian setelah menyalakan mobilnya.


"Eh, iya Pak, jika tidak merepotkan." Jawab Revina.


"Tidak merepotkan."


Setelahnya, keheningan kembali melanda. Sepuluh menit mereka kembali berjalan, tiba-tiba hujan sore itu turun dengan derasnya. Jarak Abram Corp masih sekitar dua puluh menit lagi.


"Iya, Pak. Biasanya…" Belum sempat Revina melanjutkan perkataannya, terdengar suara ponselnya berbunyi. Revina meminta izin untuk mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Hallo, Pa?"


"...."


"Eh, kok mendadak sekali. Lalu aku harus bagaimana?" Kata Revina sambil mengerucutkan bibirnya.


"...."


"Iya, sudah. Aku akan naik taksi, nanti. Papa hati-hati." Jawab Revina sambil mematikan sambungan teleponnya setelah mengucapkan salam.


Bian langsung menoleh menatap wajah Revina sekilas.


"Ada apa?" Tanya Bian.


"Ehm, papa harus menemani om Kenzo untuk bertemu klien, Pak. Jadi saya pulang sendiri. Nanti berhenti di dekat SMP depan saja, Pak. Saya bisa memesan taksi online." Kata Revina.


"Diluar hujan deras sekali. Saya antar sampai rumah." 


"Eh, apa tidak merepotkan Anda, Pak?"


"Tidak apa-apa. Ehm, sebelumnya bisa mampir ke suatu tempat dulu? Ada sesuatu yang harus aku antarkan." Kata Bian.


"Iya, Pak. Tidak apa-apa."


Setelah beberapa saat kemudian, Bian langsung membelokkan mobilnya ke sebuah komplek perumahan sederhana. Tak berapa lama kemudian, dia memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah minimalis. Reyhan mengambil payung yang ada di bagian belakang kursinya.


"Mau disini atau ikut turun?" Tanya Bian.


"Eh, memangnya boleh saya ikut, Pak?"


"Boleh."


Revina mengangguk mengiyakan. Dia penasaran rumah siapa yang didatangi oleh Bian. Setelah mengambil kue tadi, Bian segera berjalan ke arah Revina dan memayunginya agar tidak kehujanan. Mereka berjalan berdekatan menerobos hujan yang turun dengan lumayan derasnya.


"Assalamualaikum." Sapa Bian.


"Waalaikumsalam." Terdengar pintu utama rumah tersebut terbuka. 


Revina sedikit terkejut saat melihat seorang wanita dengan pakaian yang cukup terbuka membukakan pintu.


"Eh, Bian. Aku kira kamu tidak datang." Katanya sambil tersenyum lebar. Nampak sekali wanita itu tengah menunggu kedatangan Bian.


"Tentu saja aku akan datang." Jawab Bian.


"Aku tahu." Kata wanita tersebut sambil tersenyum genit.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Hayo lho, siapa itu.