
Begitu memutuskan panggilan telepon, Kinan segera menyelesaikan pekerjaannya. Dia tidak ingin menunda-nunda pekerjaan karena nanti pasti akan menyusahkannya dikemudian hari.
Menjelang pukul sembilan pagi, semua pekerjaan Kinan sudah selesai. Dia bergegas untuk mandi dan bersiap untuk berangkat ke rumah Dena. Kinan tahu jika weekend seperti ini, Rean pasti akan ke distronya. Jadi, bisa dipastikan Dena akan sendirian di rumah dengan asisten rumah tangganya.
Tak butuh waktu lama, Kinan pun sudah selesai bersiap. Dia mengambil kunci mobil dan bergegas ke rumah Dena. Sebelumnya, Kinan sempat mampir ke toko kue untuk membelikan kue coklat strawberry untuk Dena. Entah mengapa sahabatnya tersebut menjadi suka makan kue semenjak hamil.
Ketika menunggu kuenya dibungkus, ponsel Kinan berbunyi. Dia buru-buru mengambil ponselnya yang berada di dalam tas. Kening Kinan berkerut saat melihat nama si penelpon. Namun, dia tetap menerima panggilan telepon tersebut.
"Hallo, Om. Ada apa?" sapa Kinan begitu panggilan teleponnya tersambung.
"Kamu dimana? Kenapa rumah kamu sepi?" tanya Adrian. Ya, Adrian lah yang menghubungi Kinan pagi itu.
"Eh, aku lagi keluar, Om. Om di rumahku sekarang? Ada apa?"
"Hhhmm. Keluar kemana?"
Kinan mendengus kesal karena pertanyaannya tidak dijawab.
"Aku ada janji dengan teman, Om. Ini aku sedang dalam perjalanan menuju rumahnya."
Hening. Tidak ada sahutan dari seberang sana. Kinan sampai harus memeriksa panggilan teleponnya masih tersambung atau tidak.
"Hallo, Om."
"Hhhmmm. Ya sudah."
Tut. Panggilan telepon langsung ditutup oleh Adrian. Kinan hanya bisa mengumpat kesal dengan sikap Adrian yang seenaknya saja.
"Cckkk. Dasar Duper aneh! Emang ya, duda rasa perjaka satu itu suka baperan. Mana sikapnya kadang suka nggak jelas lagi." Kinan masih menggerutu kesal sambil memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.
Setelah kue pesanannya selesai, Kinan langsung bergegas menuju rumah Dena. Dia ingin menceritakan banyak hal kepada sahabatnya tersebut.
Tak butuh waktu lama, Kinan sudah berada di depan rumah Dena. Kinan segera mengambil kue yang tadi sudah dibelinya, dan bergegas memasuki rumah.
Seperti biasa, Kinan langsung nyelonong masuk ke dalam rumah Dena karena pintu depan rumah itu terbuka dengan lebar. Kinan langsung menghampiri asisten rumah tangga Dena dan menanyakan keberadaan Dena.
"Waahhh. Enak ya bumil, camilannya buah segar gini," ucap Kinan sambil mengambil tempat duduk di depan Dena.
Dena yang saat itu tengah fokus pada ponselnya langsung menoleh ke arah Kinan.
"Eh, kok sudah datang?"
"Iya. Keasyikan main ponsel jadi nggak denger aku sudah teriak-teriak di depan dari tadi."
Dena hanya bisa terkekeh geli sambil meletakkan ponselnya di meja depannya. Dia menggeser posisi tubuhnya hingga kini berhadapan dengan Kinan. Usia kandungan Dena yang masuk bulan keempat, membuat perutnya terlihat cukup besar karena tengah mengandung anak kembar.
Kinan selalu merasa gemas saat melihat perut Dena. Entah mengapa dia jadi ingin segera hamil. Eh, menikah dulu maksudnya.
"Bagaimana keponakanku? Mereka nggak nakal, kan?" tanya Kinan sambil mengulurkan tangan dan mengusap-usap perut Dena.
"Mereka baik, kok. Nggak rewel juga." Dena menjawab sambil mengulas senyumannya.
"Iya, percaya. Aku yakin triplet nggak rewel. Pasti ayahnya yang suka rewel," ucap Kinan sambil tergelak.
Dena hanya merengut kesal menanggapi ucapan Kinan. Setelah itu, obrolan santai mereka lakukan sambil menyantap buah segar yang sudah disiapkan oleh asisten rumah tangga Dena.
"Ngomong-ngomong, kamu datang ke acara resepsi pernikahan Miss Adhia?" tanya Dena.
"Kemungkinan datang."
"Eh, yakin? Berani datang sendirian?" Dena masih tidak percaya dengan apa yang Kinan sampaikan. Pasalnya, Dena belum mengetahui cerita tentang Adrian.
"Tenang. Aku sudah punya pawang, kok."
"Pawang? Pawang apa? Hujan?"
\=\=\=
Kuyy lah, kasih jejak yang banyak buat othor ya.