
"Ccckkk, apa sih yang ada di pikiranmu itu? Aku nggak mau melakukan uh ah uh ah disini. Aku hanya menagih janjimu untuk mencari nama panggilan, bukan memintamu melakukan itu." Kata Cello sambil menatap wajah Shanum.
"Eh,"
Seketika Shanum merasa salah tingkah. Entah mengapa pikirannya sudah berlarian ke bagian panas dingin seperti cerita di novel-novel online yang sering dibacanya. Shanum segera menurunkan kedua tangannya dan terlihat kikuk saat Cello menatapnya.
"Ehm, aku belum menemukan nama panggilan yang cocok." Jawab Shanum jujur.
"Ccckkk, kenapa begitu saja susah sekali." Gerutu Cello.
Shanum yang mendengar gerutuan Cello pun langsung mendengus kesal.
"Aku kan belum pernah pacaran, jadi tidak tahu nama panggilan yang bagus." Kata Shanum.
"Ya setidaknya, mikir sedikit dong. Masa iya panggil suami masih nama doang padahal kita sudah menikah. Nggak sopan tau."
Shanum terlihat mengerucutkan bibirnya. Dia berpikir sebentar untuk menimang-nimang nama panggilan yang cocok untuk sang suami. Ciieee, suami nih. 🤭
"Eh, ba-bagaimana jika pakai Beib. Temen-temenku sering pakai itu pada pacarnya." Usul Shanum.
"Ishhh, Beib?! Beb bek, maksudnya? Emoh, jelek." Jawab Cello.
"Wajah kamu kan ada bule-bulenya, masa tidak mau pakai panggilan itu. Kan masih ada unsur bulenya itu." Gerutu Shanum.
"Nggak mau, nggak suka! Geli dengarnya." Jawab Cello.
Lagi-lagi Shanum hanya bisa mendengus kesal. Dia mencoba memberikan tawaran lagi kepada Cello.
"Bagaimana jika, Say?" Tawar Shanum.
"Shay ton? Ogah, cakep gini nanti dikira setan."
"Aiisshhh, ribet banget sih."
"Bukannya ribet, tapi justru itu akan memudahkan kita nantinya." Kata Cello.
"Cari yang lain. Jangan yang buat geli dan lebah." Kata Cello sambil merebahkan diri.
"Eh, lebah? Apa itu?" Tanya Shanum bingung.
"Itu, yang suka berlebih-lebihan."
"Itu lebay, keles." Jawab Shanum kesal.
Setelahnya, Shanum segera merapikan rambutnya dan beranjak menuju tempat tidur. Dia merebahkan diri di samping Cello yang sudah lebih dulu berbaring. Jangan harap ada adegan malu-malu meong saat malam pertama setelah ijab qobul. Mereka berdua justru langsung beradu mulut tentang hal-hal absurd.
"Sudah tidur?" Tanya Shanum sambil menoel-noel lengan Cello. Ya, saat ini posisi mereka tengah tidur terlentang dengan guling masing-masing berada di tengah-tengah mereka.
"Belum." Jawab Cello sambil mengambil gulingnya dan berbalik hingga kini menghadap ke arah Shanum dengan mata terpejam, meski tidak tidur.
"Ehm, tentang nama panggilan tersebut, bagaimana jika kita mengikuti kedua orang tua kita." Usul Shanum.
Seketika kedua mata Cello terbuka hingga menatap wajah Shanum yang kini tengah menatap langit-langit kamarnya.
"Maksudnya panggilan Mas dan Dek seperti papa dan papa kamu?" Tanya Cello.
"Eh, maksudku hanya kamu. Tapi tidak untukku."
"Kenapa?" Tanya Cello bingung.
"Aku nggak mau jika kamu memanggilku dengan dek atau adek. Bisa-bisa nanti anak kita akan mengikutinya."
"Hhaahh? Maksudnya?" Cello benar-benar tidak mengerti.
Shanum menceritakan jika saat Rean kecil, dia sering mengikuti papa Bian yang selalu memanggil mama Revina dengan sebutan 'Dek'. Alhasil, jika Rean sedang merengek untuk minta asi, dia pasti akan berteriak memanggil mama Revina mengikuti kebiasaan sang papa memanggil mamanya, seperti "Adheekkk nyen nyen."
\=\=\=\=
Sudah triple up hari ini ya, jangan lupa kasih dukungan vote, like dan komen buat othor. Besok, othor ada kerjaan deadline. Jika bisa In Sha Allah tetap diusahakan up.